Pertobatan ekologis adalah sebenarnya pertobatan kesetaraan ciptaan. Demikian kata Uskup Keuskupan Purwokerto, Mgr Christophorus Tri Harsono dalam homili Misa Yubileum Lingkungan Hidup Keuskupan Purwokerto di Taman Rohani Anggrung Gondok (Taro Anggro), Kertek, Wonosobo, Minggu, 5 Oktober 2025.
“Artinya semua ciptaan itu sebenarnya setara ciptaan dari Allah yang semuanya memuji memuliakan Tuhan, yang semuanya saling melengkapi dan mengisi satu dengan yang lain,” kata Mgr Tri.
Maka, menurutnya, kalau dalam kehidupan, kita sudah bisa menempatkan diri kita dengan semua yang ada di sekeliling kita setara, ini merupakan bentuk iman. “Status keimanan yang sangat luar biasa,” katanya. Meski demikian, menurutnya, tidak mudah untuk kita menyetarakan siapapun,” katanya.
Berbicara tentang konteks tuan dan hamba sesuai bacaan hari itu, menurutnya, dalam kaca mata iman, antara hamba dan tuan adalah setara. “Di dunia ini masih bisa, ada tuan dan ada hamba. Tetapi status iman, iman yang disebut juga dengan hamba dan tuan adalah sebenarnya sama,” katanya.
Di dalam Gereja Katolik, menurutnya, semakin tinggi kedudukan status itu, itu sebenarnya semakin menjadi pelayan. “Semakin tinggi entah itu paus, entah itu kardinal, entah itu uskup, entah itu imam dan seterusnya, semakin tinggi di keimanan Katolik harusnya semakin menjadi pelayan. Demikian juga orang tua ataupun siapa saja semakin tinggi di depan hadapan Allah semakin menjadi seperti hamba,” kata Mgr Tri.
Mgr Tri pun mengajak umat supaya melayani seperti Kristus sampai serendah-rendahnya melayani. “Itulah yang nanti akan tinggi dan diangkat,” katanya. Ia mengajak umat supaya tidak takut akan status sosialnya. Namun, yang terpenting adalah melayani siapapun juga.
Ia pun memberi contoh teladan Santo Fransiskus Assisi yang memandang ciptaan secara setara. “Manggil binatang pun juga dengan bagus. Memang harus disebut. Kalau manusia dimanusiakan. Kalau binatang tetap dibinatangkan. Kalau tumbuhan tetap ditumbuhankan. Jangan sampai dibalik. Itu juga nggak benar,” katanya.
Ia mengingatkan, kalau orang semakin mengangkat status sebagai tuan, maka dia akan menguasai semua, dan bisa menjadi serakah. “Maka dengan alam pun lebih ngeri lagi. Maka pertobatan ekologis adalah pertobatan kesetaraan alam semesta, ciptaan kita untuk lebih ke sana,” katanya.
Mgr Tri dalam kesempatan itu menegaskan kembali, Kristus adalah teladan utama yang telah menumpahkan darah-Nya, “teladan yang sangat luar biasa sampai serendah-rendahnya”. “Semakin tinggi kita, pangkat kita, kekayaan kita, apa saja, kita semakin menjadi hamba. Hamba apa? Untuk melayani dan mengasihi yang lain,” katanya.
Mgr Tri pun mengajak supaya beriman kepada Kristus secara unggul. “”Iman pada Kristus itu berimanlah yang unggul, nggak murahan, nggak gampangan, luhur sampai mau berbagi apapun,” katanya.
Ia pun menegaskan kembali, pertobatan ekologis adalah pertobatan kesetaraan ciptaan satu dengan yang lainnya sehingga kita saling menghargai, saling menjaga, saling mengisi demi kemuliaan Allah.
