Deklarasi Istiqlal, 5 September 2024 merupakan sesuatu yang sangat penting mengingat ada dua isu utama, dehumanisasi dan juga climate change. Tokoh Muhammadiyah, Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag meyampaikan hal ini dalam webinar “Dua Tahun Deklarasi Istiqlal: Dari Dialog Lintas Agama Menuju Aksi Kemanusiaan”, 16 September 2026. Menurutnya, hal itu perlu direspon oleh banyak pihak termasuk antaragama baik itu di akar rumput, level mezzo dan juga level elit.
Diplomasi secara formal antar negara sudah dilakukan, tetapi perang kemudian masih terus berjalan dan beberapa negara yang tidak terlalu berkuasa atau tidak dominan mengalami masalah yang besar terkait dengan perang yang selalu terjadi di bumi ini. “Ukraina lalu kemudian di negara-negara Afrika dan juga di Timur Tengah tentu menjadi bagian yang paling jelas terdampak gara-gara soal perang yang itu adalah melanggar atau itu merusak banyak orang dan melakukan dehumanisasi,” kata Qodir. Menurutnya, tak seharusnya mereka menjadi korban dalam peperangan.
“Karena itu menurut hemat kami, Muhammadiyah, juga ini di level negara, level elit sudah dilakukan diplomasi tetapi tampaknya tersendat oleh sebab banyaknya masalah yang terjadi. Kemudian di level mezzo organisasi keagamaan Muhammadiyah sendiri kemudian dalam konteks itu melakukan diplomasi, mengirimkan surat dan juga mengirimkan misi kemanusiaan kepada negara-negara yang mengalami peperangan, baik itu di Sudan, lalu bahkan di Palestina, Israel ya, lantas di beberapa negara Afrika di mana para korban perang itu tidak mendapatkan atau kurang mendapatkan hal-hal yang dibutuhkan seperti air bersih, kemudian bantuan kesehatan dan juga makanan,” katanya.
Menurutnya, melalui Muhammadiyah Disaster Management, Muhammadiyah mengirimkan bantuan yang dikumpulkan dari organisasi dari tingkat bawah, desa, kabupaten, provinsi bahkan pusat. Selain ke negara yang dilanda perang, bantuan kemanusiaan juga dikirim ke negara-negara yang dilanda bencana. Muhammadiyah juga mengirimkan bantuan-bantuan kesehatan para dokter, sarana dan alat-alat kesehatan kepada warga masyarakat yang tertimpa peperangan. Itu menurutnya adalah religius diplomasi.
“Di tingkat perguruan tinggi kami Perguruan Tinggi Muhammadiyah juga kemudian mengajarkan kepada para mahasiswa kita supaya memiliki perspektif tentang dunia yang damai, Islam yang rahmatan lil alamin. Islam yang itu menyejukkan kepada semua orang. Islam yang tidak intimidatif. Islam yang tidak melakukan dehumanisasi kepada seluruh warga negara. Kami di kampus Muhammadiyah itu menerima siapa saja yang berlatar belakang baik itu Hindu, Buddha, Kristen, Katolik. Bahkan tadi pagi kami mewisuda teman-teman dari Katolik Papua dan juga Nusa Tenggara Timur. Sehingga kami merasa bahwa pentingnya Deklarasi Istiqlal ini merupakan sesuatu yang tidak boleh berhenti di dalam kerangka yang sifatnya elitis, sifatnya pemimpin saja, tetapi juga harus terderivasi sampai di tingkat bawah,” katanya.
Di tingkat elit, menurutnya, pendekatan strategis yang dilakukan berurusan dengan soal policy negara dengan negara, G to G. “Lalu kemudian di level mezzo mungkin perguruan tinggi dengan perguruan tinggi, lalu kemudian organisasi keagamaan dan di tingkat rakyat melibatkan mereka untuk hal-hal tidak saling melakukan peperangan atau saling membenci satu sama lain,” katanya.
Muhammadiyah, menurutnya, juga sangat peduli pada persoalan climate change ataupun bencana seperti tanah longsor, banjir, maupun gempa bumi.
Sesuai semangat Deklarasi Istiqlal, Muhammadiyah dan perguruan tingginya serta masyarakat meminta kepada seluruh mahasiswa untuk menanam pohon. “Kemarin pada saat orientasi mahasiswa baru, masing-masing mahasiswa yang jumlahnya 6.500 membawa dua pohon sehingga kami memiliki banyak pohon yang akan disumbangkan, akan diberikan kepada daerah yang mengalami kekeringan seperti di Gunung Kidul ataupun daerah yang mengalami longsor seperti di daerah Kaliurang dan juga di daerah Wonosobo. Sehingga kami merasa apa yang menjadi komitmen Deklarasi Istiqlal itu harus menjadi bagian penting dari perguruan tinggi dan juga negara serta para guru dan juga dosen,” katanya.
Di tingkat sekolah menengah, lanjutnya, Muhammadiyah juga memberikan pesan kepada para siswa-siswinya supaya tidak merusak pohon, “jangan menginjak-injak tanaman yang ada di sekitar sekolah dan juga di sekitar rumah”.
“Kami di sekolah-sekolah Muhammadiyah juga mengharapkan, memprakarsai supaya anak-anak itu mencintai pepohonan. Karena dengan cara menjaga pepohonan itu artinya adalah kita juga sudah berupaya untuk sedikit mengurangi pemanasan global,” ungkap Qodir.
Di tingkat hubungan antar agama, lanjut Qodir, Muhammadiyah memiliki bagian hubungan lintas agama atau hubungan antar agama. Lembaga itu mengajak tokoh-tokoh agama secara bersama-sama memberikan dorongan, memberikan tekanan kepada negara yang suka berperang dan memberikan dorongan supaya warga masyarakat, warga negara itu betul-betul memiliki concern, memiliki komitmen agar bumi ini tetap lestari, tidak terjadi pemanasan, tidak terjadi kerusakan secara massal. “Karena begitu kerusakan itu massal, maka yang akan terjadi adalah negara kita ataupun warga negara kita akan mengalami kerusakan sekaligus,” ungkapnya.
Menurutnya, yang penting dilakukan untuk merespons Deklarasi Istiqlal setelah 2 tahun, selain dilakukan kegiatan yang bersifat elit yaitu tingkat G toG, diplomasi secara formal, maka perlu dilakukan juga diplomasi secara tingkat kelembagaan organisasi keagamaan seperti Hindu, Buddha, Katolik, Kaharingan, Konghucu dan yang lain sebagainya, termasuk agama-agama lokal.
“Sehingga mereka semakin memiliki komitmen untuk mengembangkan dimensi kemanusiaan dan juga mengembangkan cinta terhadap lingkungan. Forum Lintas Iman memberikan kuliah umum terkait dengan soal bagaimana agar warga negara, masyarakat kampus, lalu kemudian sekolah dan masyarakat luas itu cinta damai, lalu kemudian mencintai lingkungan, harus diberikan secara rutin. Kami kemudian di dalam perkuliahan ke-muhammadiyah-an dan al Islam mewajibkan untuk membuat ada fiqih lingkungan, ada juga fiqih tanah, yang itu penting dilakukan supaya warga negara kita itu mencintai lingkungan dan juga kita membuat secara bersama-sama yaitu antar agama untuk saling hidup bersama dan kami saling mengirimkan agar warga masyarakat yang berbeda agama itu memiliki komitmen membangun kemanusiaan, saling membantu,” ungkapnya.
Yang kedua, sambungnya, Muhammadiyah membangun kampus hijau. “Ada tiga kampus Muhammadiyah yang sekarang mendapatkan penghargaan dari pihak pemerintah dan juga dari PBB terkait dengan sustainable, sustainable development, yaitu terkait dengan soal bagaimana kampus ini kemudian mencegah terjadinya pembakaran atau terjadi kepanasan sehingga beberapa program untuk mencegah emisi semakin meluas,” katanya.
Kampus Muhammadiyah, lanjutnya, sedang membuka program studi lingkungan. “Sehingga mudah-mudahan secara keseluruhan nanti bisa antar agama Hindu, Buddha, Kristen, Katolik, Kaharingan, Konghucu, dan agama dan kepercayaan yang lain bisa bersama-sama memiliki komitmen untuk menyelamatkan lingkungan di dalam kampus masing-masing,” harapnya.
Yang ketiga, adalah membangun persepsi yang sama bahwa kemanusiaan itu juga terjadi pada para elit. Qodir prihatin dengan para elit yang meninggalkan etika publik sehingga melanggar ajaran agama, agama apapun, misalnya korupsi.
“Tentu itu harus menjadi perhatian agama-agama sehingga agama-agama itu betul-betul tidak ditinggalkan oleh rakyatnya, oleh umatnya, supaya memberikan tekanan agar seluruh warga negara, para pejabat publik, tokoh agama itu tidak melakukan tindakan yang melanggar nilai-nilai keagamaan,” katanya.
Terakhir, menurutnya, kita harus membangun secara bersama-sama sebagai arah tindak lanjut Deklarasi Istiqlal yaitu kebijakan yang sinergis antar komunitas agama, antar iman, tingkat elit ataupun menengah dan juga grassroot yang dilakukan secara practically dari sekolah-sekolah TK sampai dengan perguruan tinggi.
“Mudah-mudahan apa yang menjadi keinginan Deklarasi Istiqlal 2 tahun lalu tetap menjadi harapan kita semua, menjadi daya dukung, menjadi support secara moral, sehingga kita sebagai umat agama tidak terjerat dan tidak terlalu banyak dosa karena meninggalkan pesan-pesan, nilai-nilai dari keagamaan, apapun namanya itu,” pungkasnya.
