Deklarasi Istiqlal Selaras dengan Kurikulum Cinta

Bagi Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, 5 September tahun 2024 adalah hari yang sangat bersejarah karena Deklarasi Istiqlal ditandatangani. Menurutnya, keinginan untuk membuat MoU bersama itu datangnya dari Istiqlal. Ia yang waktu itu sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal melihat beberapa negara yang dikunjungi Paus jarang yang melakukan MoU.

Sementara itu, Nasarurddin melihat, Indonesia adalah salah satu negeri yang berpenduduk terbesar di dunia. Sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam dan Indonesia dikenal sebagai negara yang demokratis. “Kita itu betul-betul pemilunya itu one man one vote itu langsung,” katanya. Menurutnya, demokrasi yang paling besar di dunia itu adalah Indonesia.

Kunjungan Paus Fransiskus, bagi Nasaruddin adalah kunjungan yang bersejarah. “Saya menganggap kunjungan yang sangat bersejarah ya, karena dipilihnya Indonesia sebagai salah satu negara yang dikunjungi itu mayoritas muslim penduduknya ya. Itu harus kita tunjukkan kepada dunia bahwa Islam itu dengan Katolik dan juga agama-agama lain itu adalah selevel gitu ya,” ungkapnya dalam webinar “Dua Tahun Deklarasi Istiqlal: Dari Dialog Lintas Agama Menuju Aksi Kemanusiaan”, 16 September 2026.

Oleh karena itu, pihaknya mempersiapkan draft bersama pihak Katolik. Konteks yang diangkat pada waktu itu adalah perang antara Rusia dengan Ukraina. Ia melihat dalam banyak konflik atau perang, diplomasi seperti tidak efektif. Bahkan PBB pun dinilai tidak begitu efektif menghentikan konflik. Ia pun memikirkan religius diplomasi.  “Jangan-jangan kita memerlukan bentuk lain, bentuk diplomasi lain. Nah, pada waktu itu saya ngajak teman-teman dari Katedral dan tokoh-tokoh agama yang lain di Istiqlal. Kita tokoh lintas agamalah semuanya hadir di Istiqlal. Barangkali kita perlu memperkenalkan apa yang saya istilahkan religius diplomasi,” katanya.

Mulai dari situ, berbagai referensi dari berbagai latar belakang agama pun digunakan untuk mendukung diplomasi tersebut. “Ternyata saya menemukan bahwa ada suatu poin yang sangat penting ya mungkin kita perlu mengedepankan aspek kemanusiaannya. Jadi aspek kemanusiaan saya maksudkan di situ adalah humanity is only one,” ungkapnya.

Yang kedua, ia menemukan salah satu krisis yang sangat dirasakan sekarang ini yakni kerusakan alam. “Rusaknya alam tempat kita menjadi hamba, tempat kita menjadi khalifah,” katanya. Tuduhan bahwa agama abrahamik memicu kerusakan lingkungan juga menjadi salah satu alasan merumuskan diplomasi ini. Tentang hal ini, pihaknya perlu mengklarifikasi bahwa agama abrahamik tidak mengajarkan dominasi atau perusakan atas alam. Di situlah maka ekoteologi perlu diperkenalkan. Deklarasi Istiqlal  pun akhirnya menukik pada dua isu yakni, dehumanisasi dan krisis lingkungan.

Di Indonesia, menurutnya, deklarasi itu ditindaklanjuti karena memang selaras dengan program Kementerian Agama, salah satunya kurikulum cinta. “Kurikulum cinta itu sesungguhnya adalah bagaimana mengedepankan cinta terhadap siapapun dan apapun terhadap segenap isi alam ini. Jadi jangankan antar sesama umat manusia, jadi pohon ya tumbuh-tumbuhan, binatang, bahkan kita tidak memperkenalkan istilah benda mati. Karena alam semesta ini juga pada hakikatnya menurut pandangan agama-agama itu adalah juga ya tidak ada benda matilah. Bahasanya para fisikawan aja bahwa ada benda mati, ada benda hidup. Tapi semua umat beragama itu menganggap alam ini adalah suatu komunitas seperti komunitas manusia juga,” katanya.

Selama satu setengah tahun menjalankan kurikulum cinta, Nasaruddin ingin melihat dampaknya. Ia pun mengumpulkan 400 pengawas dari seluruh Indonesia di Bandung. “Masyaallah di luar dugaan. Kalau bisa teman-teman baca rekamannya, baca pernyataan mereka itu luar biasa, buah daripada guru-guru cinta itu, berbuah dengan akhlakul karimah. Bukan hanya sesama guru, sesama murid, kepada guru antar umat beragama, tapi sampai begini, anak-anak itu katanya ada yang tidak mau membunuh nyamuk di tangan. Karena itu kan juga ada anaknya. Jadi kalau kita bunuh nyamuk itu nanti kasihan tuh anak-anaknya tuh, nggak ada yang beri makan ya. Nggak boleh lagi main katapel membidik burung-burung. Karena itu kan juga anaknya mau makan. Siapa yang carikan makan kalau itu mati dan seterusnya ya,” tutur Nasaruddin.

Dalam konteks lintas agama, menurutnya, tidak boleh lagi ada guru agama yang justru mengajarkan kebencian terhadap agama lain. “Itu bukan mengajarkan agama, tapi pada hakikatnya mengajarkan kebalikan dari agama itu sendiri. Jadi inilah yang kita perkenalkan dengan konsep kurikulum cinta dan yang satunya lagi untuk alam semesta itu kita istilahkan dengan ekoteologi,” katanya.

Ekoteologi, menurutnya, ada di semua doktrin agama. “Bagaimana supaya anak-anak kita itu menganggap alam semesta ini sebagai partner kehidupan bukan hanya sebagai objek. Nah, dengan demikian menyatu di dalam satu kurikulum, ada kurikulum ekoteologi, ada kurikulum, kurikulum cinta dan kami mencoba untuk mempengaruhi kementerian lain,” katanya.

Dengan Kementerian Lingkungan Hidup terjadi MoU tentang pertobatan ekologis. “Mereka menganggap Kementerian Agama itu adalah partner sejatinya Menteri Lingkungan Hidup ya. Tanpa menggunakan bahasa agama itu nggak mungkin bisa sukses penyehatan lingkungan itu. Di tengah hutan belantara itu nggak ada polisi, tidak ada hukum di situ. Tapi kalau di tengah hutan belantara itu ada iman, oh ini kalau saya tebang ini dosa. Kalau saya membakar hutan ini dosa. Nah, jadi kami menebarkan khotbah Jumat seragam tentang bahaya pembakaran hutan. Bukan saja bahaya segi fisik, tapi juga dosa,” katanya.

Menurutnya, ada legitimasi teologis betapa pentingnya merawat alam semesta ini.

Deklarasi Istiqlal, lanjut Nasaruddin, hanya satu lembar. “Hanya tiga alinea tapi dua poin yang sangat penting. Jadi terukur dan itu sangat konkret,” katanya.

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *