Hari ini kita memperingati 1 orang kudus yaitu St. Pius X – Paus. Nama kecil beliau adalah Guiseppe (=Yoseph) Sarto. Beliau ditahbiskan sebagai imam tahun 1853 dan berkarya di paroki Tombolo, Italia, kemudian menjadi rektor seminari. Ketika menjadi uskup di keuskupan Mantua, beliau membaharui kehidupan para imam dan seminari.
Paus Leo XIII mengangkat beliau menjadi kardinal. Setelah Paus Leo XIII, wafat, Kardinal Sarto dipilih menjadi paus dan mengambil nama Pius X. Pada masa kepausannya, beliau menghidupkan musik liturgi, pemberian komuni kudus kepada umat Allah, khususnya kepada anak-anak. Beliau wafat tanggal 20 Agustus 1914 dan meninggalkan teladan kesederhanaan.
Melalui 1Tes 2: 2b-8 Paulus menyapa umatnya: Saudara-saudara, berkat pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat. Nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya.
Sebaliknya, Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita.
Kami tidak pernah bermulut manis — hal itu kamu ketahui — dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi — Allah adalah saksi —juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai para rasul Kristus.
Sebaliknya, kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi.
Yohanes dalam injilnya (Yoh 21: 15-17) mewartakan: Sesudah sarapan Yesus bertanya kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih besar daripada mereka ini?” Jawab Petrus: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Tanya Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Tanya Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Lalu ia berkata: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.
Hikmah yang dapat kita petik:
Satu, sebagaimana dilakukan Paulus, Paus Pius X telah membuat banyak pembaharuan yang sumbernya bukan dari dirinya sendiri, tetapi dari Allah. Buah-buah dari apa saja yang beliau tanamkan itulah yang akan membuktikannya. Apa yang baik dan berguna bagi kehidupan, perkembangan iman umat Allah, dan lestari, itulah tanda bahwa Allah menghendaki dan bekerja di dalam diri orang itu.
Dua, sebelum memberikan mandat kepada Petrus, Yesus mengajukan pertanyaan yang sama sampai 3 kali di hadapan para rasul lainnya. Tujuannya: memurnikan motivasinya, tahu ketulusannya, meminta tanggung jawabnya dan meneguhkan mentalnya.
Memimpin umat Allah bukan sekadar memimpin lembaga duniawi, tetapi orang-orang beriman agar berjalan bersama untuk menuju ke surga sesuai amanat dan jalan yang ditunjukkan Yesus.
Disampaikan pula kepada umat beriman bahwa menjadi pemimpin umat Allah adalah pilihan Allah, dan bukan pilihan/selera manusia atau golongan manapun. Maka hendaknya umat beriman dan para gembalanya, taat dan hormat terhadap penegasan/keputusan Yesus ini. Amin.
Mgr Nico Adi MSC
