Tahun 2005, Romo Markus Marcelinus Hardo Iswanto, CM mendapat tugas perutusan untuk melayani di Paroki Kediri. Sebagai Romo Paroki, Romo Hardo kerap berkunjung ke kampung-kampung dan melihat-lihat lahan pertanian masyarakat di desa. “Saya sering ke kampung-kampung dan saya melihat lahan pertanian yang luas, yang masyarakat pada umumnya mungkin lebih dari 70-80 persen hidupnya dari pertanian,” kata Romo Hardo seperti dibagikan dalam Webinar Series Of Integral Ecology Caritas Indonesia, 28 April 2026 lalu.
Dari hasil kunjungan dan pengamatannya, ia menyadari bahwa pertanian yang dijalankan waktu itu tidak ramah lingkungan. “Kasarannya semua pertanian dikelola secara kimia, dan itu didukung oleh Dinas Pertanian. Mereka mendampingi kelompok-kelompok tani secara kimia. Di sisi lain, di sisi pastoral, saya juga melihat bahwa kehadiran Gereja di pedesaan juga belum, belum dirasakan oleh masyarakat pada umumnya,” ungkapnya.
Sebagai seorang imam, ia prihatin dan merasa pilu dengan kondisi itu. Ia prihatin terhadap nasib para petani yang kerap tidak berdaya dan melakukan praktik pertanian tidak ramah lingkungan. “Sebagai seorang romo tentu punya keprihatinan terhadap kehadiran Gereja di masyarakat yang kecil, petani, yang sungguh-sungguh menjadi penopang kehidupan semua orang. Semua orang tentu memerlukan pangan untuk hidup keberlangsungannya. Sedangkan petani sendiri tidak bangga dengan profesinya. Petani sendiri hidup dalam kemiskinan. Petani sendiri juga istilahnya orang yang tidak berdaya. Dia juga tidak merasakan apa yang dia lakukan sebagai seorang petani yang sungguh-sungguh semakin membuat pertaniannya itu sakit, atau mati atau rusak. Karena dia nggak sadar karena keterbatasan pengetahuannya itu,” tutur Romo Hardo.
Keprihatinan itulah yang memunculkan ide untuk membuat langkah pastoral ekologi dengan membangun sebuah Centrum, tempat praktik dan berlatih tani yang dikelola secara ekologis dan sehat, tidak menggunakan metode pertanian kimia yang meracuni tanah. “Jadi, ini ada sisi pastoral, kepedulian terhadap mereka yang ada di desa, yang profesinya petani. Lalu hidupnya di dalam kemiskinan. Lalu bagaimana saya hadir sebagai seorang romo di antara mereka,” katanya.
Konsekuensinya, Romo Hardo yang tidak memiliki latar belakang pertanian harus belajar tentang dunia pertanian ramah lingkungan. “Saya sendiri yang bukan latar belakang petani harus belajar bertani karena saya menganggap pertanian sebagai jalan menyapa mereka,” ungkap Romo Hardo.

Ia pun belajar dari penggerak STPN-HPS, Romo Gregorius Utomo, Pr di Ganjuran, Bantul, Yogyakarta dan beberapa tempat yang sudah ada di wilayah teritorial Keuskupan Agung Semarang. Merasa sudah siap, ia merintis Gubug Lazaris di Pare, Kediri sebagai tempat untuk memulai pastoral pertanian ramah lingkungan. Gubug, menurutnya, identik dengan kelompok tani. Sedangkan nama Lazaris diambil mengingat para Romo CM atau Vincentian kerap disebut Romo-romo Lazaris. “Karena saya Romo CM yang sering disebut Romo-romo Lazaris, maka saya sebut ini gubuknya para Lazaris di tengah-tengah pertanian. Lalu, kami mengelola pertanian organik,” katanya.
Praktik baik
Di Gubug Lazaris ia melakukan pastoral dengan mengintegrasikan iman dan pemberdayaan ekonomi melalui strategi tata kelola pertanian berkelanjutan demi kemandirian komunitas lokal. Pada saat merintis, ia mengalami tantangan yang tidak mudah. “Tentu saya tidak bisa meyakinkan siapapun untuk mendukung saya. Sebagai seorang romo paroki yang tentu tidak mudah untuk meyakinkan misalnya atasan saya atau komunitas saya atau paroki saya,” ungkapnya. Ia pun waktu itu belum punya akses ke Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) atau Caritas Indonesia yang sudah memberi perhatian pada isu tersebut.
Ia sadar, kalau menunggu dukungan dari pihak-pihak tersebut, ia tidak bisa memulai berkarya. Maka, ia berjejaring dengan umat yang mau berjuang bersamanya. Dukungan mulai mengalir. Ada umat yang meminjamkan lahan. “Mulai saya pakai, saya pinjam untuk belajar. Prinsipnya saya hanya berpegang bagaimana tanah yang sakit menjadi sembuh. Lalu, strategi ini saya mulai dari yang paling sederhana. Mulai dari yang kecil. Lalu bersama satu, dua keluarga yang mendukung, lalu saya mulai setiap hari di sela-sela pelayanan pastoral, saya mulai belajar bertani dengan pupuk-pupuk alami,” katanya.
Ia memulai dengan pengetahuan yang terbatas mengingat waktu itu, ia baru menguasai pemahaman bahwa kompos hanya dari kotoran ternak atau sisa-sisa sampah organik. Pengetahuan tentang sumber-sumber pupuk yang lain belum ia kuasai. “Jadi, belum punya pikiran apa itu lindi atau pupuk cair organik, belum, belum ada. Jadi, kita hanya mempraktekkan dan hasilnya sangat jelek. Sangat jelek. Tetapi saya punya keyakinan bahwa ke depan pasti akan sehat. Yang penting, air, tanah, tanaman itu berusaha untuk saya rawat secara alami,” katanya.
Perlahan-lahan, ia mulai mengusahakan peternakan untuk mendukung pertanian dengan memelihara sapi. Kotoran sapi diolah menjadi pupuk dengan bantuan cacing. Dari hari ke hari, usahanya mulai menampakkan hasil. Ia mulai menjual hasil-hasil pertanian, membuat marketplace, dan melakukan pendistribusian. Ia melakukannya mulai dari yang sederhana karena memang tidak punya akses modal. Meski demikian, ia tetap bersemangat melakukannya.

Ia mulai memasarkan hasil pertanian yang sehat tersebut. Selain karena kegigihannya, umat atau masyarakat percaya karena mereka melihat di balik itu semua ada seorang romo. “Karena ada romonya keuntungannya menjadi dipercaya oleh masyarakat,” katanya.
Sebuah tempat untuk edukasi mulai dibangun menjadi tempat pembelajaran anak-anak sekolah. “Akhirnya anak-anak datang untuk melihat, jalan-jalan, dan melihat bagaimana susu dimasak, dari mana susu itu, lalu bagaimana kotorannya itu dipakai dan seterusnya. Intinya saya ingin antara peternakan dan pertanian ini saling menunjang, bersinergi,” ungkap Romo Hardo.
Untuk membantu pengembangan pertanian yang dirintisnya, Romo Hardo mengikuti kursus-kursus pertanian organik. “Di mana saja ada praktek pertanian organik, saya datangi, baik di Jawa maupun di luar Jawa,” katanya. Ia juga mulai menambah koleksi tanamannya misalnya ketika bepergian ke luar kota, ia mencari dan membawa pulang bibit tanaman seperti padi, ubi-ubian, atau tanaman pangan yang lain, bahkan saat menjadi relawan dalam penanganan bencana. “Apa yang bisa dimakan, apa yang bisa dipakai obat, itu saya jadikan tempat ini untuk melestarikan keragaman tanaman pangan atau tanaman yang bermanfaat,” ungkapnya.
Romo Hardo juga mengikuti kursus dan belajar tentang agroforestry maupun permakultur. Ia menata lahan sedemikan rupa. Pinggirannya ditanami pagar hidup seperti tanaman-tanaman rindang supaya tidak terkontaminasi bahan kimia dari irigasi yang masuk ke lahan.
Energi di Gubug Lazaris pun dibuat ramah lingkungan, khususnya untuk pompa air menggunakan energi dari panel surya. Kotoran hewan dibuat biogas untuk memasak. Di lahan itu, berbagai jenis tanaman yang bisa untuk hidup dilestarikan dan ditanamnya. Jika sudah menghasilkan bisa dijual.
Terkait dengan keuangan Gubug Lazaris, ia menyimpan dananya di credit union (CU). Melalui CU itu pula, ia mengajukan pinjaman untuk mengembangkan lahan supaya lebih luas lagi. “Itu berkesinambungan. Jadi, ada kaitannya. CU ini juga menjadi partner saya. Saya sejak dulu menjadi anggota CU sampai sekarang, sehingga saya bisa memulai karya-karya ini, kemudian semakin berkembang,” kata Romo Hardo.
Berdampak positif
Meski awalnya ia memulai dengan sedikit jejaring, namun lama-kelamaan jejaringnya semakin kuat. Ia pun mendampingi para petani dalam mengelola lahannya secara optimal. Ia mengajak masyarakat supaya tidak menghabiskan lahannya hanya ditanami satu komoditas saja. Ia mengusulkan setiap lahan juga disisakan misal 10 persen untuk ditanami tanaman-tanaman kebutuhan dapur.
“Saya mengajak, ayo kita membuat kebun untuk kepentingan rumah tangga, kepentingan dapur. Seandainya kita punya lahan ya beberapa petak di sawah, ya satu itu ditanami apa yang menjadi kebutuhan dapur. Jadi promosi saya melalui kelompok-kelompok tani itu jangan semua ditanami tebu, ditanami cabai, ditanami kacang,” kata Romo Hardo. Masukan itu ia sampaikan supaya para petani itu bisa menghemat pengeluaran kebutuhan sehari-hari, khususnya belanja makanan. “Mereka sudah saya ajari bagaimana menyisihkan 10 persen dari lahan yang mereka kelola untuk tanaman kebutuhan hidup mereka supaya menghemat, karena petani itu tidak punya gaji. Mereka itu tidak ada pendapatan bulanan. Mereka perlu hidup tiap hari. Maka, saya ajarkan bagaimana membuat lahannya itu ada lahan yang dikhususkan untuk kepentingan rumah tangga, entah sayuran, entah aneka bumbu tanaman, dan seterusnya. Intinya buah-buahan atau apapun itu harus ada. Nanti, kalau bisa kamu nanam yang sehat. Itu cara pastoral saya. Nanam yang sehat yang tidak meracuni keluargamu, tidak meracuni dirimu, dan itu cukup efektif, sehingga setiap petani harus punya lahan disisihkan untuk kepentingan dapur rumah tangganya,” katanya.
Ajakan itu berbuah baik. Dampak nyata itu mulai terasa setelah beberapa tahun. Pendapatan umat dan masyarakat meningkat karena mereka bisa menghemat pengeluaran. Alih-alih membeli, mereka bisa memanen dari lahannya sendiri.
Setelah sekian waktu merinstis, Romo Hardo merasakan jejaring pemasarannya semakin kuat. Ia membantu pemasaran hasil panen para petani yang sudah menerapkan cara bertani organik. “Saya membuat jejaring, jejaring untuk membuat petani-petani yang berubah ke organik ada jaminan untuk bisa memasarkan. Kalau mereka memasarkan sendiri biasanya tidak dipercaya karena mereka petani, tidak bisa meyakinkan dan selalu kalah kalau ditanyai. Selalu minder. Lalu, kami kumpulkan di satu tempat. Di sini tempat pemasteran bersama, sehingga nanti nilainya kalau sudah berubah organik, dia lebih tinggi daripada yang konvensional,” katanya.
Dari usahanya itu, ia memperoleh dukungan dari banyak pihak, salah satunya dari pemerintah setempat. Lembaga pendidikan tinggi pun melirik Gubug Lazaris sebagai salah satu tempat studi pertanian. Beberapa mahasiswa sering dititipkan dan tinggal di Gubug Lazaris selama beberapa bulan untuk belajar bertani organik. Gubug Lazaris pun kerap dikunjungi komunitas masyarakat maupun komunitas sekolah bahkan anak-anak untuk belajar bertani.
Tantangan dan Pembelajaran
Sekian waktu bergumul di Gubug Lazaris, Romo Hardo menyadari banyak tantangan dan pembelajaran yang dialaminya. Salah satunya adalah tidak mudah untuk setia dalam berproses. “Memang kita tidak mudah untuk setia, untuk menjadikan ini sebagai sebuah sarana, hal yang positif untuk hidup, untuk penyelamatan lingkungan dan untuk kesejahteraan. Itu tidak mudah,” katanya.
Kesetiaan itu, menurutnya, seringkali kalah dengan modal. Salah satunya adalah adanya tawaran-tawaran dari produsen pertanian seperti industri benih. “Kalau sudah ada masyarakat yang berubah ke organik, mereka pasti mendekati supaya mereka tidak tekun lagi, supaya goyah, sehingga ini tidak mudah komitmen. Ini bagi petani ini sulit, sehingga kadang-kadang ada petani yang ikut kita tetapi dalam waktu singkat dengan mitra, dengan mereka yang bisnis, akhirnya mereka berubah lagi. Dan itu terus menerus seperti itu, tarik menarik, tawaran dari yang punya modal,” katanya.
Selain kesetiaan, tantangan berikutnya adalah terbatasnya sumber daya manusia karena petani pada umumnya tidak bangga dengan profesinya dan tidak punya latar ilmu pengetahuan tentang pertanian. “Mereka tidak mempunyai keyakinan yang kuat. Kadang-kadang ya mereka juga sulit diajak untuk berubah secara tekun,” ungkap Romo Hardo.
Ia belajar dari pengalaman seperti itu. Dengan berangkat dari modal yang tidak besar, tetapi punya niat untuk berkembang, Romo Hardo memulai Centrum Ekologi dengan berproses dan memulai dari yang kecil, “mengenal pertanian mulai dari ya mengelola lahan, mulai tanaman yang paling awal, sehingga proses alami ini juga sekaligus menjadi pembelajaran saya. Tetapi sebenarnya ini sangat lambat.”
Menurutnya, peran Gereja sungguh besar dalam membantu pengembangan Centrum pertanian ekologis. “Kalau kita ingin memulai sebuah Centrum seandainya didukung oleh Gereja entah tarekat atau ya mungkin seperti PSE-Caritas seperti ini, lalu kita benar-benar bertanggung jawab dengan sumber daya yang dimiliki, saya yakin akan jauh lebih berkembang lebih cepat,” katanya.
Ia tidak menunggu dari lembaga Gereja. Ia berinisiatif memulai dari kesadaran personal meskipun lambat diterima. “Karena saya berangkat dari kesadaran personal, lalu ingin melibatkan komunitas dan menyerahkan kepada Gereja, akhirnya ya lama kelamaan ya diterima tetapi lambat. Tapi itu juga sebagai salah satu proses. Proses bagaimana Centrum itu bisa menjadi sesuatu yang kita jadikan pengalaman. Dan pengalaman kita bisa menjadi sebuah ya istilahnya mungkin pembelajaran bagi teman-teman yang lain, tidak harus mulai dari nol seperti yang saya lakukan,” katanya.
Sekarang Centrum tersebut, Gubug Lazaris, dikelola oleh komunitasnya. Sementara Romo Hardo sendiri mendapat tugas perutusan menjadi Ketua Pengembangan Sosial Ekonomi-Caritas Keuskupan Surabaya. Tugas berikutnya menanti. “Keuskupan menugaskan saya untuk membentuk Centrum Ekologi di tanah keuskupan yang di SKJJ (Sasana Krida Jati Jejer) yang ada di Trawas, Mojokerto,” katanya.
