Hari ini kita memperingati 1 orang kudus, yaitu St. Bernardus – Abas dan Pujangga Gereja.
Beliau lahir di dekat Dijon – Perancis. Karena ketika masih remaja ibunya meninggal, hidupnya betul-betul kacau. Setelah pertobatannya, dia dan kawan-kawan masuk biara sebagai pertapa di bawah asuhan Stefanus Harding. Di biara dia belajar Kitab Suci dan banyak menulis buku.
Karena kerajinannya dan kesalehannya, dia dan kawan-kawan ditugaskan untuk mendirikan pertapaan baru di Clairvaux. Biara itu makin maju dan berpengaruh pada kehidupan umat saat itu di seluruh Eropa. Dia dikenal sebagai pembawa damai dan penegak kebenaran iman. Tahun 1830 dia digelari Pujangga Gereja dan Bapa Gereja yang terakhir.
Dalam Sir 15: 1-6 diserukan: “Perbuatan orang yang takut akan Tuhan, dan siapa yang melekat pada Taurat memperoleh kebijaksanaan, seperti ibu kebijaksanaan menjemput dia, dan bagaikan isteri yang masih perawan menyambutnya. Kebijaksanaan memberi dia makanan pengertian, dan memberi minum air kebijaksanaan.
Bila bersandar kepadanya orang tidaklah goncang, yang percaya kepadanya tidaklah dikecewakan. Kebijaksanaan meninggikan orang ke atas teman kawan, dan mulut orang dibuka olehnya di tengah-tengah jemaah. Orang mendapat kegembiraan dan puncak sukacita, dan kemasyhuran abadi diberikan kepadanya.
Yohanes dalam injilnya (Yoh 17: 20-26) mewartakan doa Yesus kepada Bapa-Nya: “Bapa yang kudus, bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka, supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.
Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepadaKu, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.
Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.”
Hikmah yang dapat kita petik:
Satu, setelah pertobatannya, Bernardus benar-benar bersandar pada Tuhan dan senantiasa mencari kebijaksanaan-Nya. Pengalaman imannya itulah yang dia wujudkan di pertapaan yang dipimpinnya dan disebarluaskan kepada umat beriman melalui tulisan-tulisannya. Tuhan menyapa umat-Nya melalui dia dan tulisan-tulisannya. Kita pun dapat meneruskan dan mewujudkan pengalaman iman kita melalui kata, tindakan atau pun tulisan/lukisan atau apa pun sesuai dengan bakat/minat kita.
Dua, meski Yesus sudah berada di surga, semangat-Nya, doa-Nya dan pesan-Nya yang tertulis di injil tetap berlaku bagi kita yang hidup saat ini. Kehadiran dan karya Yesus tetap berlangsung terus dan dipercayakan kepada kita juga. Maka, pantaslah kita bersyukur dan tetap “bersujud di hadapan-Nya untuk membawa diri dan pertanggungjawaban atas semua yang dipercayakan kepada kita”. Tidak lupa juga kita mohon ampun atas kesalahan dan kelalaian kita, serta mohon kekuatan untuk melaksanakan kegiatan selanjutnya. Amin.
Mgr Nico Adi MSC
