Hari ini kita memperingati 1 orang kudus yaitu St. Yustinus Martir. Pada saat masih muda dan belajar filsafat, dia mengalami kebimbangan. Syukurlah dia diberi nasihat agar mengenal Yesus Kristus sambil dengan tekun berdoa sehingga akan mendapatkan pencerahan. Kemudian dia belajar Kitab Suci sehingga makin memahami Allah yang mencintai manusia, lalu menjadi pembela kekristenan yang tersohor. Tulisan-tulisannya memberikan inspirasi dan menguatkan iman umat kristen. Maka, dia ditangkap, dianiaya dan dibunuh kaisar di Roma tahun 165.
Melalui 1Kor 1: 18-25 Paulus menyapa umatnya: Saudara-saudara, pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. Seperti tertulis: “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.”
Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan. Karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.
Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan. Untuk orang-orang Yahudi hal itu suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia.
Matius dalam injilnya (Mat 5: 13-19) mewartakan sabda Yesus: Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”
“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
Hikmah yang dapat kita petik:
Satu, melalui suratnya, Paulus mengalami sendiri hikmat dan kekuatan Allah benar-benar amat mengagumkan. Dia siap menderita dan menjadi saluran rahmat bagi bangsa-bangsa lain, meski kata-kata dan tindakannya biasa-biasa saja.
Hal itu pula yang dilakukan St. Yustinus. Melalui tulisan-tulisannya dia memperkenalkan Kristus. Semoga kita pun berani memberi kesaksian tentang kasih Kristus, meski tidak sekolah teologi, dan memakai bahasa-bahasa sederhana.
Dua, Yesus memberi sebutan/gelar kepada kita dengan kata-kata yang mudah dipahami: “Kamu adalah garam dan terang dunia”. Fungsi garam adalah “mengawetkan” (melestarikan) dan fungsi terang adalah “menyingkirkan kegelapan”. Apa yang diawetkan? Dan apa yang diterangi?
Yang dilestarikan adalah ajaran iman dan moral serta nilai-nilai keutamaan. Yang dimunculkan/dijadikan terang/ditampilkan adalah tindakan kebajikan.
Dalam melakukan 2 fungsi itu, sering kali kita diminta untuk “memberikan inspirasi/rasa asin” dan tidak tampil di permukaan, dan kadang kala “wajib tampil dan bercahaya”. Dinamika/seni untuk memberikan kesaksian iman dalam kehidupan, patutlah dipelajari dan diperhatikan. Amin.
Mgr Nico Adi MSC
