Renungan Harian 17 Mei 2026

Minggu, 17 Mei 2026

Hari Minggu Paskah VII

Hari Minggu Komunikasi Sedunia

Bacaan I          : Kis. 1:12-14

Bacaan II        : 1Ptr. 4:13-16

Bacaan Injil     : Yoh. 17:1-11a

Mengangkat Martabat Manusia

Dalam tradisi Gereja Katolik, Minggu Paskah VII dikenal sebagai Minggu Komunikasi Sedunia. Pada tahun 2026 ini kita merayakan Hari Komunikasi Sedunia ke-60. Dalam pesannya, Paus Leo XIV menetapkan tema Minggu Komunikasi sedunia 2026 ini adalah “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”. Pesan ini menyoroti pentingnya mempertahankan sentuhan manusiawi dalam komunikasi di tengah gempuran teknologi Kecerdasan Buatan (AI) dan algoritma media sosial yang cenderung manipulatif.

Bapa Suci menegaskan kebutuhan akan wajah dan suara manusia asli di tengah simulasi relasi, serta bahaya algoritma yang mendorong emosi dangkal. Sri Paus juga menyerukan perlunya transparansi, di mana konten AI harus diberi label jelas, dan literasi media ditingkatkan untuk mencegah penipuan digital. Kebenaran dan transparansi ini bukan sekadar engagement, tetapi menjadi dasar komunikasi yang sehat. Paus Leo juga mengajak pengguna, terutama kaum muda, untuk berpikir kritis, tidak berhenti berpikir sendiri dan merenung di tengah arus informasi. Inovasi teknologi harus berorientasi pada menjunjung martabat hidup manusia.

Dalam Bacaan Injil Minggu Paskah VII ini kita diajak untuk menfokuskan diri pada “Doa Imam Agung” Yesus menjelang sengsara-Nya. Yesus memohon kemuliaan dari Bapa untuk menyelesaikan misi-Nya. Dia juga menegaskan bahwa hidup kekal adalah mengenal Allah, serta mendoakan persatuan dan perlindungan bagi para murid-Nya di dunia. Ini adalah momen intim komunikasi Bapa-Anak dan kasih Yesus bagi pengikut-Nya.

Yesus memuliakan Bapa dengan menyelesaikan pekerjaan-Nya di bumi, yang mencapai puncaknya di salib. Kemuliaan sejati bukanlah popularitas, melainkan ketaatan melakukan kehendak Allah. Bagi Yesus, hidup kekal adalah mengenal Allah (Yoh 17:3), yaitu hidup kekal bukan hanya tentang kehidupan setelah kematian, melainkan relasi pribadi yang mendalam dengan Allah yang benar dan Yesus Kristus.

Selain itu, Tuhan Yesus mendoakan para murid yang akan ditinggalkan-Nya di dunia agar tetap bersatu dan terlindungi dari yang jahat. Meskipun pengikut Yesus ada di dalam dunia, mereka bukan dari dunia. Yesus mengajarkan pentingnya mengawali segala karya dan pelayanan dengan doa, membangun komunikasi yang intim dengan Bapa, terutama saat menghadapi tekanan atau perpisahan.

Pertanyaan refleksinya, apakah hidup kita sudah memuliakan Allah melalui pikiran, perkataan dan perbuatan? Sejauh mana sikap kita terhadap penggunaan media sosial selama ini?

Yohanes Gunawan, Pr

Rektor Seminari Tahun Orientasi Rohani Sanjaya,

Jangli – Semarang

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *