Para uskup dari seluruh Keuskupan di Regio Jawa berkumpul bersama di Keuskupan Bogor membahas di antaranya adalah Ekonomi Fransiskus. Misa Pembukaan Temu Uskup Regio Jawa itu dilakukan di Gereja BMV Katedral, Bogor, Selasa, 1 Juli 2025 pukul 17.00 WIB. Dalam homilinya, Uskup Surabaya, Mgr Agustinus Tri Budi Utomo atau yang biasa Mgr Didik menekankan pentingnya sinodalitas dan kepedulian satu dengan yang lainnya dalam Gereja. Berikut ini adalah homili lengkapnya.
Saudara-saudariku yang terkasih di dalam Tuhan Yesus,
Kita di dalam katedral ini seperti halnya dalam satu perahu, seperti para murid juga sedang dalam satu perahu dan kita di sini juga dihadiri oleh Tuhan Yesus, terutama di dalam ekaristi melalui sabda-Nya, melalui Sakramen Mahakudus dan melalui persekutuan kita.
Tuhan Yesus sebenarnya selalu bersama-sama kita ketika kita dalam peziarahan hidup kita. Tahun Yubileum selalu mengingatkan kepada kita, kita ini makhluk peziarah. Kita dalam perjalanan. Perjalanan yang mempunyai tujuan kalau Gereja mengajarkan bahwa kita, Gereja Katolik ini, sebagai persekutuan orang yang beriman kepada Kristus, yang telah menerima warta keselamatan dibimbing oleh Roh Kudus, berziarah menuju kepada kerajaan Bapa. Kita dipanggil untuk terus mewartakan karya keselamatan itu senyampang kita sedang dalam perjalanan.
Saudara-saudari, kisah Injil hari ini mengingatkan bahwa peziarahan tidak selalu mulus-mulus saja. Bahwa ada badai, ada permasalahan, ada ombak yang bisa memunculkan kekhawatiran, ketakutan, kecemasan, dan seringkali kita malah baru berseru kepada Tuhan ketika kita menghadapi masalah. Pada saat nyaman, pada saat tenang, kita seakan-akan lupa dengan Yesus yang selalu ada bersama kita. Karena kehadiran kenyamanan sudah menggantikan kehadiran Tuhan sendiri.
Saudara-saudari di Keuskupan Surabaya tahun lalu, tahun 2024, itu mempunyai tema Arah Dasar untuk menghidupi dan menghidupkan kesadaran bahwa Gereja kita ini, persekutuan kita ini adalah persekutuan yang satu, kudus, Katolik, dan apostolik.
Kesadaran sebagai satu itu yang sering mudah terabaikan. Mengapa? Karena godaan dan pintu setan yang utama di dalam membangun persekutuan adalah egosektoral. Maka seperti halnya kami, para uskup dan kuria, setiap tahun selalu bersekutu untuk membangun kesadaran untuk kita tidak terjebak pada ego sektoral. Bahwa kadang-kadang kita ini tergoda bahwa keuskupanmu bukan keuskupanku. Parokimu bukan parokiku. Bahkan stasi atau kringmu bukan stasi atau kringku, kelompokmu bukan kelompokku dan selanjutnya.
Kita lupa bahwa kita ini satu. Kita ini lupa bahwa kita ini disatukan oleh Tuhan Yesus. Dan dalam Gereja Katolik kita punya prinsip kesatuan yang paling tampak yaitu hadirnya hierarki Bapa Paus dan para uskup ini. Maka kami setiap tahun untuk terus menyadari bahwa kita ini satu. Kita ini Katolik.
Maka saudara-saudari, betapa pentingnya kita membangun sinodalitas ini. Berjalan bersama, bahwa sakitmu juga sakitku, kebahagiaanmu juga kebahagiaanku, musibah di tempatmu juga musibah di tempatku.
Tadi Monsinyur Bruno mengungkapkan bahwa tema refleksi kami selama bertemu ini adalah Ekonomi Fransiskus. Fransiskus maksudnya Paus Fransiskus. Paus Fransiskus memimpikan bahwa sistem perekonomian dunia ini bukan digembalakan oleh sekadar penumpukan modal tanpa peduli pada nasib yang lain, tapi sebuah sistem ekonomi yang sungguh-sungguh menghargai martabat kemanusiaan, yang menghargai yang sungguh mengangkat, memperjuang keadilan. Keadilan terhadap sesama manusia, keadilan terhadap alam semesta, keadilan terhadap masa depan.
Sistem perekonomian macam apa yang akan kita kembangkan di mana Gereja sebagai bagian dari masyarakat ikut ambil bagian di sana?
Saudara-saudari, kami di Jawa Timur itu baru-baru ini khususnya di paroki, ada dua paroki di Kota Kediri itu saat ini cemas karena ada puluhan ribu orang dan di dalamnya juga orang Katolik yang menjadi pekerja di Gudang Garam. Bahwa Gudang Garam tahun ini mempunyai penurunan keuntungan 82%. Sehingga tampaknya ini bukan hanya urusannya Kediri, tetapi ini juga urusan Jawa Timur bahkan urusan Indonesia. Efeknya umat di Keuskupan Agung Semarang, Temanggung sekarang tidak bisa menjual tembakaunya. Lalu juga di Surakarta, Karanganyar di mana ada pabrik Gudang Garam. Lalu Keuskupan Malang, di Madura ada pabriknya Gudang Garam, di Pasuruan. Dan ini adalah pasar seluruh Indonesia. Saat ini orang-orang cemas bagaimana nasibnya. Khususnya mereka yang bekerja ada 30.000 lebih buruh dari Gudang Garam. Dan betapa banyaknya umat Katolik yang juga bekerja di sana yang terancam kehilangan pekerjaan. Memang sekali lagi Injil hari ini mengingatkan kepada Gereja bahwa kita ini satu perahu yang menghadapi badai. Badai bisa bersifat ekonomi, bersifat ekologi, musibah, bencana alam. Bahkan kami di Jawa Timur ini ada 13 jenis bencana yang sebenarnya setiap saat bisa mengancam. Yang terbesar adalah banjir dan tanah longsor. Itu ratusan kali terjadi dan menimbulkan korban.
Dan sekarang ini umat kami di bagian selatan Pulau Jawa itu menghadapi tantangan baru karena tanah-tanah di sekitar jalur lintas selatan ternyata sudah banyak dibeli dan masyarakat tani di situ tidak tahu bahwa nantinya akan jadi jalur ramai, jalur wisata, sementara sudah terlanjur dijual. 83% petani di Jawa Timur adalah buruh tani. Tidak punyai lahan dan atau paling punya lahan yang kecil. Tentu kita semua sebagai satu perahu bisa masa bodoh. Bisa itu bukan urusan kita. Urusan kita adalah liturgi. Urusan kita adalah ibadah. Tentu kita sepertinya para murid juga mengalami hal yang serupa. Apakah mereka sebelum ada badai mereka ini tenang, bergembira ataukah mereka punya perasaan dan sikap lain? Jangan-jangan dikuasai oleh egonya masing-masing, tidak peduli. Baru ketika berhadapan dengan musuh bersama, mereka berteriak, “Tuhan, tolonglah kami. Kami mau tenggelam!” Dan bahkan menganggap mereka melihat Tuhan sepertinya tidur, tidak peduli dengan nasib kita.
Saudara-saudari, Tuhan tidak tidur, Tuhan peduli. Dan kita semua Gereja adalah tangan-tangan kepedulian Tuhan bagi masyarakat di sekitar kita. Kita pada hari ini dengan kesadaran sinodalitas berjalan bersama, solider, subsidier satu sama lain antar keuskupan, antar paroki, antar negara bahkan antar dalam lingkup kecil antar keluarga, bagaimana kita terus peduli dan kita menjadi tangan-tangan kepedulian Tuhan untuk menyelamatkan kapal ini?
Paus Fransiskus menekankan bahwa bumi ini adalah satu rumah kita bersama. Bagaimana kita mengalahkan ego sektoral kita untuk ambil bagian menjadi tangan kepedulian Tuhan di dalam menyelamatkan alam? Tuhan Yesus bukan tidur. Tuhan tidak diam. Pertama-tama, Tuhan selalu hadir bersama kita baik pada saat tenang maupun saat menghadapi musibah. Tuhan Yesus hadir di tengah-tengah kita dan Tuhan Yesus penuh kuasa sehingga Dia memerintahkan badai itu untuk menjadi teduh kembali.
Saudara-saudari yang terkasih, dalam situasi setiap masalah yang kita hadapi, kita mempunyai iman bahwa Tuhan Yesus ada di dalamku, ada bersamaku, dan Tuhan Yesus sebenarnya tidak tidur. Di tengah kegelisahan, kekhawatiran dunia terhadap nasibnya, kita mempunyai ketenangan Tuhan untuk bekerja mengatasi setiap masalah, ambil bagian untuk menenangkan badai. Sekecil apapun usaha kita ini sungguh sangat berarti.
Marilah kita untuk terus berjalan bersama mewujudkan bumi yang lebih baik, mewujudkan solidaritas, sinodalitas, subsidiaritas antar kelompok, antar keluarga, antar keuskupan sehingga kita ini sungguh-sungguh hadir sebagai satu perahu dan Tuhan Yesus berdiri di sana menenangkan badai yang dihadapi dunia ini. Tuhan memberkati.
