Hari ini kita memperingati 1 orang kudus, yaitu St. Carolus Boromeus. Ia lahir sebagai putra bangsawan tahun 1538 di Puri Arona – Italia. Sesudah selesai studi, dia diangkat menjadi sekretaris pribadi Paus Pius IV. Tahun 1560 dia diangkat menjadi diakon kardinal dan administrator keuskupan agung Milan. Tahun 1563 dia ditahbiskan imam dan uskup.
Keputusan-keputusan Konsili Trente dilaksanakan dengan setia. Pendidikan di seminari-seminari diperhatikan, kehidupan iman umat digiatkan. Juga dia memperhatikan kaum miskin papa dan orang-orang sakit. Ketika wabah pes menyerang wilayah itu, dia siang malam berada di rumah sakit. Dia meninggal dalam usia 46 tahun.
Melalui Rom 12: 3-13 Paulus menyapa umatnya: Saudara-saudara, berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.
Sama seperti tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; dan kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.
Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati.
Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita. Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.
Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Bantulah orang-orang kudus saat dalam kekurangan dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!
Yohanes dalam injilnya (Yoh 10: 11-16) mewartakan sabda Yesus: Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, mereka meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan menceraiberaikan domba-domba itu.
Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.
Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.
Hikmah yang dapat kita petik:
Satu, Paulus menasehati umatnya agar masing-masing menguasai diri sehingga hidup rukun dan damai serta dengan rela hati membagikan karunia yang ada pada masing-masing orang, karena semuanya adalah anggota tubuh Kristus.
Hal itu telah dilaksanakan St. Carolus Boromeus dengan memperhatikan umatnya, menolong kaum miskin papa dan orang-orang sakit. Semoga pada masa kini pun kita tergugah untuk membagikan karunia yang Tuhan anugerahkan kepada kita.
Dua, sebagai gembala yang baik Yesus telah mengenal dan mengorbankan diri bagi umat-Nya. Dia tidak lari ketika mereka menderita dan dibelenggu kekuatan dosa. Demikian pula St. Carolus, dia hadir di rumah sakit ketika umatnya diserang penyakit pes. Hendaknya kita pun tergerak hati dan mau turun tangan untuk membantu mereka yang sedang menderita dan tidak berdaya. Amin.
Mgr Nico Adi MSC
