Hari ini kita memperingati 1 orang kudus yaitu St. Agustinus. Ibunya (Monika) seorang yang saleh, sedangkan ayahnya tidak mengenal Tuhan. Dia lahir di Tagaste Afrika Utara. Masa kecilnya amat kacau dan hidup tidak karuan. Karena kecerdasan dan kegalauan hatinya, ia mengikuti aliran yang meragukan kebenaran agama-agama sehingga hidupnya makin kacau.
Syukurlah ketika belajar di Roma dan Milano, di bawah bimbingan Uskup Ambrosius dia banyak membaca Kitab Suci dan menemukan ketenangan batin dan bertobat. Dia dibaptis tahun 387. Setelah belajar berdoa dan kehidupan rohani bersama dengan rekan-rekannya, dia ditahbiskan sebagai imam, kemudian diangkat sebagai Uskup Hipo. Berkat kesaksian hidup dan pewartaannya, banyak orang percaya kepada Kristus. Agustinus meninggal 28 Agustus 430.
Melalui 1Yoh 4: 7-16 Yohanes menyapa umatnya: Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.
Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah.
Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita. Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya. Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus AnakNya menjadi Juruselamat dunia.
Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
Matius dalam injilnya (Mat 23: 8-12) mewartakan sabda Yesus: “Janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.
Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.
Hikmah yang dapat kita petik:
1. Allah telah mengutus AnakNya spy kita hidup olehNya. Itulah yg telah dialami Agustinus. Hidupnya telah berubah karena dia mengalami kasih Allah melalui sapaan dan bimbingan Uskup Ambrosius. Hendaknya kita pun rela utk menyapa dan membimbing sesama yg sdg galau / kacau hidupnya agar mengalami kasih Allah.
2. Yesus menegaskan “janganlah kamu disebut rabi”. Mengapa demikian ? Para rabi pada waktu itu cenderung dan sering bersikap munafik, sombong, mencari kehormatan dan popularitas di muka umum. Sedangkan Yesus mengajar dan memberi teladan ttg pelayanan, kerendahan hati, dan pengampunan. Sesama adalah saudara, bukan musuh atau budak kita. Hendaknya seruan Yesus bukan hanya didengarkan, tetapi juga dilaksanakan dg tulus, ikhlas dan sukacita sepanjang hayat. Amin. (Mgr Nico Adi MSC).
