Hari ini kita memperingati 1 orang kudus yaitu St. Katarina dr Siena. Dia lahir di kota Siena – Italia Utara. Dia tidak bersekolah sehingga tidak pandai menulis/membaca. Ketika berumur 6 tahun dia mendapat penglihatan yaitu melihat Kristus yang berdiri di atas gereja St. Dominikus dan memberkati dirinya. Sejak saat itu dia menjadi pendoa. Perilakunya ini membuat orangtuanya mengizinkan dia untuk masuk biara meski usianya baru 15 tahun.
Kehidupannya yang demikian itu menarik perhatian para suster di biara itu. Pada masa itu, situasi Gereja sedang kacau balau. Para imam tidak menampakkan citra yang baik. Dia kemudian menemui Paus yang tinggal di Avignon – Perancis dan mendorong beliau untuk kembali ke Roma, Italia. Dia amat berperan dalam pembaharuan kerohanian Gereja. Dia menulis banyak ajaran yang turut mengembangkan kehidupan umat beriman. Maka dia digelari Pujangga Gereja. Dia meninggal pada tahun 1380 dalam usia 33 tahun.
Melalui 1Yoh 1: 5 – 2:2 Yohanes menyapa umatnya: Saudara-saudara, inilah berita, yang telah kami dengar dari Yesus Kristus, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.
Sebaliknya, jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari segala dosa. Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.
Jika kita mengaku dosa kita, Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak berbuat dosa, kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.
Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.
Matius dalam injilnya (Mat 11: 25-30) mewartakan: Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”
Hikmah yang dapat kita petik:
Satu, Katarina kecil tidak bersekolah, sehingga tidak bisa membaca dan menulis, toh sejak usia 6 tahun dia telah mengimani Kristus, bahkan melihat penampakan Yesus. Hidup rohaninya luar biasa sehingga diizinkan masuk biara meski umurnya baru 15 tahun. Di biara dia membuat banyak pembaharuan, bahkan berhasil mendorong Paus untuk kembali dari Avignon (Perancis) – ke Roma (Italia). Dia karena kuasa Allah sejak muda telah menjadi terang Kristus bagi Gereja dan para klerus pada masa itu. Kalau Tuhan memilih, meski orang itu tidak sekolah, bukan dari kalangan atas, banyak hal penting dapat dibaharui dan dikuduskan melalui dirinya. Tuhan berkuasa untuk melakukan hal-hal besar melalui orang-orang kecil.
Dua, Yesus bersyukur bahwa Bapa memberikan anugerah besar kepada orang-orang kecil sehingga mereka melihat keagungan Tuhan. Orang-orang kecil yang sering dipinggirkan/ditolak atau bahkan tidak diperhitungkan, malah dipilih Tuhan, agar tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri di hadapan-Nya. Kekuasaan, egoisme dan kesombongan, sering menutup hati orang untuk menerima dan percaya kepada Tuhan, padahal manusia adalah ciptaan-Nya yang penuh dengan kekurangan dan keterbatasan. Amin.
Mgr Nico Adi MSC
