Mencermati Situasi dan Kondisi Sosial Kemasyarakatan, Gerakan Nurani Bangsa Sampaikan Pesan Kebangsaan

Mencermati perkembangan situasi dan kondisi kehidupan sosial kemasyarakatan beberapa hari yang diwarnai demonstrasi, Gerakan Nurani Bangsa (GNB) menyampaikan pesan kebangsaan di Rumah Pergerakan, Griya Gus Dur, Menteng, Jakarta (3/9/2025).

Melalui pesan yang dibacakan oleh Allisa Wahid, para tokoh GNB menyampaikan bahwa pesan kebangsaan itu sebagai gerakan etis dan nonpartisan untuk memperkuat utas cinta Indonesia. Dalam kesempatan itu, mereka menyampaikan 5 pesan kebangsaan kepada Presiden Republik Indonesia selaku Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan sebagai berikut:

Satu, kemanusiaan dan keberpihakan kepada rakyat haruslah menjadi landasan pijak sekaligus orientasi utama dalam membuat dan melaksanakan kebijakan negara dalam mengelola kehidupan kebangsaan kita. Hentikan segala tindak kekerasan dan represivitas dalam menangani aksi unjuk rasa sebagai bagian dari kebebasan berpendapat dan berekspresi.

Dua, rakyat murka karena menyaksikan sebagian elit penguasa baik eksekutif, legislatif, yudikatif, serta aparat penegak hukum yang tidak sensitif dan nir empati kepada beban rakyat yang terus membesar. Karenanya Kepala Negara harus secepatnya memimpin dan memerintahkan semua jajaran institusi negara untuk bersikap berdasar nilai etika, kebersahajaan, dan asas kepatutan guna mengembalikan kepercayaan atau trust masyarakat luas yang hilang dengan cara memerintahkan kepolisian untuk secepatnya mengevaluasi dan menata ulang kepemimpinan dan kebijakannya agar tidak menimbulkan tindakan eksesif yang melanggar hak asasi manusia dan hak konstitusional warga negara lainnya. Menjaga stabilitas ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan warga dengan menegakkan keadilan ekonomi serta melaksanakan pengelolaan APBN secara transparan, akuntabel, dan tidak ugal-ugalan. Menghapus segala biaya tunjangan dan fasilitas pejabat publik yang berlebihan sehingga memboroskan keuangan negara serta memastikan prinsip transparansi kekayaan penyelenggara negara dapat dijalankan. Seluruh jajaran pemerintahan bekerja keras melakukan inovasi dan memperkuat program kesejahteraan sosial. Bukan sebaliknya, memperbanyak pajak dan mengurangi program-program pemenuhan hak dasar. Program yang berdampak pada berkurangnya pemenuhan hak dasar kesejahteraan rakyat harus dikoreksi dan diatur ulang.

Tiga, memastikan berjalannya prinsip supremasi sipil dalam pelaksanaan demokrasi di Indonesia serta menguatkan kembali TNI/Polri yang profesional dan fokus pada tugas pokok fungsinya.

Empat, membangun kesadaran publik secara persuasif, menumbuhkan prinsip saling jaga antar sesama warga masyarakat tanpa kekerasan dan tidak melakukan tindakan perusakan serta penjarahan.

Yang kelima, mengajak semua pemuka agama, kaum budayawan, akademisi, pimpinan tempat ibadah, dan semua elemen masyarakat untuk terus-menerus mendoakan dan ikut secara aktif menjaga keselamatan bangsa dan negara tercinta.

Para tokoh yang hadir dalam acara tersebut adalah Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Ignatius Kardinal Suharyo, Franz Magnis Suseno SJ, Erry Riyana Hardjapamekas, Laode M Syarif, Ery Seda, A. Setyo Wibowo SJ, Lukman Hakim Syaifuddin, dan Alissa Q. Wahid

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *