Hari ini kita merayakan HARI RAYA MARIA BUNDA ALLAH. Hari Raya ini mengingatkan kita tentang perlawanan Gereja Katolik terhadap ajaran sesat (bidaah) yang menyangkal/menolak kebundaan Ilahi Maria. Konsili Efesus tahun 431 mempertahankan ajaran yang benar bahwa Maria adalah Bunda Allah. Hari Raya ini ditetapkan Pius XI, pada ulang tahun Konsili tersebut ke-1500. Dengan keputusan itu, diakui dan diimani bahwa Yesus sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh Manusia.
Hari ini secara internasional ditetapkan sebagai HARI PERDAMAIAN SEDUNIA. Kita semua digugah untuk turut serta dalam menciptakan perdamaian di keluarga, komunitas, masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam Bil 6: 22-27 dikisahkan TUHAN berfirman kepada Musa: “Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka: TUHAN memberkati dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia. Ia menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka.”
Melalui Gal 4: 4-7 Paulus menyapa umatnya: “Saudara-saudara, setelah genap waktunya, Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.
Lukas dalam injilnya (Luk 2: 16-21) mewartakan: “Setelah mendengar berita dari Malaikat, para gembala cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika melihat Bayi itu, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.
Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan para gembala itu kepada mereka. Sebaliknya, Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah para gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.
Dan ketika genap 8 hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.
Hikmah yang dapat kita petik:
Satu, diwartakan kepada kita bahwa Bunda yang melahirkan Yesus Anak Allah itu, disebut Bunda Allah. Maka, umat ALLAH yang menjadi pengikut Kristus, sungguh berbahagia karena kita mempunyai ibu yang sungguh mulia. Semoga kebahagiaan itu bukan hanya di perasaan, tetapi menetap di hati dan diwujudkan dalam tindakan sehari-hari sebagai pembawa damai dan pencipta persaudaraan.
Dua, apa yang dialami para gembala sesuai dengan apa yang dikatakan para malaikat. Mereka adalah saksi kebenaran. Kebenaran itu membuat mereka bersukacita dan memuji Allah.
Hendaknya kita pun meneladan para gembala: menjadi saksi dan pelaku kebenaran. Apa yang kita pikir dan kita lakukan sesuai dengan apa yang kita dengar dan kita ketahui dengan benar. Kita diutus untuk menyampaikan kebenaran yang membawa orang kepada Alah, Sang Sumber Kebenaran. Amin.
Mgr Nico Adi MSC
