Bagai Bunga Fiol di Batu Karang

Pada tahun 1969, pos pelayanan itu berkembang menjadi sebuah stasi. Wilayah pastoral di Stasi Elopada saat itu meliputi seluruh wilayah Wewewa Timur; wilayah Palla, Waipewa, dan daerah sekitarnya. Sejak menjadi sebuah stasi, pelayanan Stasi Elopada mencakup wilayah yang cukup luas, yakni dari Weekamura-Ronda Dikira dan Ello – dan juga Kallusoba, Kiki Boko, Palla, Weepewa, dan Weerebuka. Sejak itu, stasi Elopada makin berkembang dalam jumlah umat dan perkembangan imam berkat pelayanan para misionaris Jerman awal. Dalam catatan buku baptis paroki Elopada, pada tahun 1977 mulailah terjadi pembaptisan massal di Elopada oleh Pater Willy Wagener, CSsR dan Pater Yulius Luli Tedamaking, CSsR. Pembaptisan massal itu terjadi pada 25 Desember 1977 dengan jumlah umat 152 orang. Pembaptisan massal ini menjadi tonggak sejarah paroki Elopada. Akhirnya pada tanggal 29 September 1978, stasi Elopada secara administratif menjadi sebuah paroki dengan berpelindungkan St. Mikael. Pater Bertold Ney, CSsR ditunjuk sebagai pastor pertama dan Pater Yulius Luli Tedamaking, CSsR sebagai pastor rekannya. Inilah sejarah awal paroki St. Mikael Elopada. Dalam perjalanan panjang ini, sejarah Elopada adalah jejak kaki Allah yang setia, agar penebusan-Nya menjangkau hati dan menyelamatkan umat-Nya.

Perkembangan Paroki Elopada

Sejarah Elopada adalah sejarah Allah yang berjalan bersama umat dalam segala pergulatan. Lebih dari itu, adalah sejarah Allah yang mendampingi umat-Nya dengan setia agar mereka bertumbuh di dalam iman yang sejati kepada-Nya. Perjalanan panjang memuat di dalam pertumbuhan yang terus-menerus di dalam Allah. Demikian pun paroki St. Mikael Elopada mengalami pertumbuhan dan perkembangan di dalam Allah, pelaksana sejarah Gereja Elopada. Pada tahun 1979, mulailah dibangun sebuah gereja paroki oleh Bruder Arbert, CSsR bersama teman-temannya. Tanah yang menjadi tempat untuk dibangun gereja paroki adalah tanah yang dijual oleh Ngongo Mada kepada Pater Bertold Ney, CSsR pada tahun yang sama.

Awalnya di kompleks pastoran hanya dibangun gereja stasi yang kecil, tetapi dengan peristiwa bersejarah ini, Pater Bertold Ney, CSsR membangun gereja besar dengan arsiteknya Bruder Albert, CSsR. Demikian dibangunlah gereja paroki yang berbentuk segi delapan (octogonal) sebagai simbol dari kesempurnaan atau kesempurnaan ilahi. Bangunan gereja paroki ini memiliki empat sumbu simetri. Selain itu, angka delapan dalam agama Kristen berarti juga kebangkitan Yesus Kristus dan partisipasi di dalam kebangkitan Kristus melalui pembaptisan. Simbol angka delapan ini melambangkan juga kekhasan bangunan gereja abad pertengahan awal. Bangunan gereja awal ini masih tetap berdiri dengan kokoh hingga saat ini. Mereka yang berjasa membangun gereja tersebut adalah Br. Albert, CSsR bersama dengan para tukang misi, seperti Klemens Kelen, Deba Niron, dan Pelipus Pullo bersama umat Elopada saat itu.

Paroki St. Mikael Elopada merupakan tempat yang memiliki sejarah yang sangat istimewa dalam perkembangan sejarah gereja Sumba dan secara khususnya, Kogregasi Redemptoris Indonesia. Pada tahun 1978, setelah stasi Elopada ditetapkan sebagai Paroki St. Mikael Elopada, pada tahun itu juga Elopada didaulat sebagai rumah Kanonik Redemptoris. Dengan demikian, Elopada menjadi rumah resmi secara hukum Gereja untuk para Redemptoris, karena di Elopada ini juga didirikan Novisiat Redemptoris pertama. Novisiat ini adalah tempat pembinaan calon imam Redemptoris. Pembinaan calon imam Redemptoris dua angkatan berlangung di Elopada ini dari tahun 1978-1980. Pada waktu itu yang menjadi Magister Novisiat adalah Pater Willy Wagener, CSsR dan Sociusnya adalah Pater Hermann Yosef May, CSsR. Uskup Weetebula saat ini, Mgr. Edmund Woga, CSsR termasuk angkatan kedua yang memperoleh masa pembinaan sebagai novis di Elopada. Namun, setelah angkatan ke-2, Novisiat Redemptoris dipindahkan ke Konventu Redemptoris, Weetebula.

Waktu terus berganti dan musim pun berganti. Elopada masih terus bergerak maju bersama Allah yang menulis sejarah-Nya. Sejarah Paroki St. Mikael Elopada terus berjalan melintasi waktu menorehkan kisah sebagai tempat Sanggar Misi Umat Redemptoris (SAMUR) pertama. SAMUR didirikan di Elopada pada tahun 1993. Direktur pertama dari SAMUR adalah Pater Hermann May, CSsR yang pada waktu itu sekaligus juga adalah direktur PUSPAS. Pater Hermann May, CSsR waktu itu menjalankan mandat kapitel untuk berdomisili di Elopada. Di Elopada inilah, Pater Hermann May, CSsR mempersiapkan Pater Barnabas Bili Ngongo, CSsR dan Pater Thomas Wungo, CSsR sebagai misionaris umat pertama dengan berbagai kegiatan, seperti lokakarya, seminar, dan studi bersama. Elopada menjadi pusat SAMUR hingga pada tahun 2002 pada angkatan yang ketiga, yakni Pater Yanus Dapa Talu, CSsR dan Pater Efrem Zuba, CSsR. Dalam rentetan sejarah, Elopada telah melahirkan juga para misionaris yang berkarya di banyak tempat. Tak berlebihan, jika dikatakan dengan jujur bahwa Elopada adalah rahim, tempat rindu anak tanah mencari cinta pada Allah yang sedang mengunjungi mereka dengan banyak berkat melalui para misionaris Jerman dan juga misionaris pribumi. 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *