Hikmah yang dapat kita petik:
Satu, dikisahkan oleh Daniel: “Tuhan mendengarkan seruan Suzana yang dijatuhi hukuman mati. Ketika dia dibawa keluar untuk dihabisi nyawanya, Allah membangkitkan roh suci dari seorang anak muda, Daniel namanya. Berserulah ia dengan suara nyaring: “Aku ini tidak bersalah terhadap darah perempuan itu!”
Dengan cara/jalan yang amat mengagumkan dan tak terduga Allah dapat menyelamatkan umat-Nya. Marilah kita yakini bahwa pada zaman kita pun Allah tetap bekerja/menciptakan/membaharui/mengampuni/menyelamatkan kita dengan cara yang mengagumkan.
Dua, ketika itu mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari para perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?”
Mereka mendasarkan alasannya pada hukum Taurat, maka, mereka merasa menang/berhak untuk bertindak.
Jawaban Yesus: “Siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Atas hal itu, tak seorang pun yang berani bertindak. Mereka mengaku bahwa mereka pun berdosa.
Merasa diri suci dan benar, ketika orang lain bersalah/jatuh, adalah ternyata “pernyataan/keputusan/keyakinan diri yang keliru”. Semoga kita terus menerus berusaha menjadi orang yang mau berbelarasa dengan mereka yang bersalah/berdosa/terpuruk. Amin.
Mgr Nico Adi MSC
