
Yang kedua, air. “Air itu suatu kebutuhan yang dibutuhkan setiap hari. Bila kita tidak memiliki air, pasti manusia akan mati,” ungkap imam kelahiran Nusa Tenggara Timur itu.
Yang ketiga, berkurangnya keanekaragaman hayati yang ada di bumi ini. Yang keempat, kualitas hidup manusia yang mulai menurun. “Kalau dulu di kampung, kita melihat bahwa orang bisa berumur sampai 80-90. Tapi akhir-akhir ini, kualitas hidup mulai menurun. Kadang orang umur 50, 60 sudah terlihat tua,” kata Romo Paulus. Yang kelima, ketimpangan yang terjadi secara global.
Seruan Paus Fransiskus dalam Laudato Si’, bagi Romo Paulus, mengingatkan kita akan dua hal. Pertama, kita harus menyadari bumi ini sebagai rumah bersama. “Kalau kita bayangkan, rumah, kata rumah berarti tempat orang menikmati, merasakan kebaikan, tempat orang beristirahat bersama. Tetapi apakah dunia kita saat ini masih layak menjadi rumah yang nyaman bagi kita semua?” ungkapnya.
Kedua, dokumen Laudato Si’ mengajak kita untuk melihat dunia sebagai saudari, bumi yang perlu kita perhatikan dan kita rawat. “Maka, dari dokumen ini, Paus mau mengajak kita bahwa gerakan mencintai bumi itu bukanlah sebuah gerakan temporal, tetapi gerakan yang harus lahir dari kesadaran iman. Dan juga gerakan ini harus dilakukan secara bersama dan berkelanjutan,” katanya.
Romo Paulus memberikan contoh tentang keberlanjutan. Ketika menanam pohon, kita diharapkan tidak meninggalkan pohon tersebut begitu saja. Namun, kita harus merawatnya, bahkan dengan melibatkan masyarakat dalam gerakan tersebut.
Lebih lanjut, Romo Paulus menyampaikan, kegiatan mencintai bumi adalah ungkapan syukur atas berkat Tuhan dalam hidup. Ia pun mengajak audiens untuk menyadari, bahwa sebutir nasi di atas meja pun hasil dari bumi.
Ketika mencintai bumi, lanjutnya, kita mencintai generasi saat ini dan juga generasi yang akan datang. Gerakan mencintai bumi mestinya juga menjadi gerakan semua umat manusia. “Sebab bumi tidak mengenal kamu agama Islam, kamu agama Katolik, agama Protestan, tapi kita semua bersaudara, sama-sama menghirup udara yang sama, dan juga, bumi tidak mengenal jabatan,” katanya.
Pada akhir presentasinya, Romo Paulus menyampaikan, mencintai bumi hendaknya dilakukan dengan hati yang penuh cinta. “Bisikkan semua itu pada Tuhan dengan doa. Mencintai dan memuji Allah berarti kita berani untuk memelihara dan melestarikan alam,” katanya.