Hari ini kita memperingati 1 orang kudus: St. Maximilian Kolbe. Sebagai imam dia dimasukkan penjara bersama umat Katolik lainnya, ketika Jerman menduduki Polandia. Dia menggantikan seorang bapak yang dihukum mati, sehingga bapak itu dibebaskan tetapi Maximilian disuntik dengan racun dan mati.
Dalam Kebj 3: 1-9 diserukan: Jiwa orang benar ada di tangan Allah, dan siksaan tiada menimpa mereka. Menurut pandangan orang bodoh mereka mati nampaknya, dan pulang mereka dianggap malapetaka, dan kepergiannya dari kita dipandang sebagai kehancuran, namun mereka berada dalam ketenteraman.
Kalaupun mereka disiksa menurut pandangan manusia, harapan mereka penuh kebakaan. Setelah disiksa sebentar mereka menerima anugerah yang besar, sebab Allah hanya menguji mereka, lalu mendapati mereka layak bagi diri-Nya.
Laksana emas di dapur api diperiksalah mereka oleh-Nya, lalu diterima bagaikan korban bakaran. Maka pada waktu pembalasan mereka akan bercahaya, dan laksana bunga api berlari-larian di ladang jerami. Mereka akan mengadili para bangsa dan memerintah sekalian rakyat, dan Tuhan berkenan memerintah mereka selama-lamanya.
Orang yang telah percaya kepada Allah akan memahami kebenaran, dan yang setia dalam kasih akan tinggal pada-Nya, sebab kasih setia dan belas kasihan pilihan-Nya.
Yohanes dalam injilnya (Yoh 15: 9-17) mewartakan sabda Yesus: “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.
Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk para sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.
Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”
Hikmah yang dapat kita petik:
Satu, kepercayaan dan keimanan yang diwartakan kepada umat Allah tentang hidup abadi bersama Allah, telah menjadi milik Maximilian dan dihidupinya dengan teguh. Maka, dia tidak ragu-ragu untuk menyerahkan nyawanya demi kehidupan bapak yang harus menjalani hukuman mati. Hendaknya teladan kemartirannya menjiwai kehidupan kita dan umat Allah pada masa sekarang ini.
Dua, sabda Yesus: “Aku menyebut kamu sahabat” juga telah dihidupi Maximilian sehingga dia rela menggantikan posisi bapak yang seharusnya dihukum mati, karena bapak itu dipandang Maxi sebagai sahabatnya. Pengorbanannya telah mengharumkan namanya dan dia layak dinyatakan sebagai martir. Mungkin kita tidak akan menghadapi kematian seperti dia, namun pengorbanan yang dilakukan dengan rela hati dapat membuat hidup kita kudus dan mulia di hadapan Tuhan dan sesama. Amin.
Mgr Nico Adi MSC
