Renungan Harian 3 Juni 2026

Hari ini kita memperingati St. Karolus, Yoseph Mikasa, Kizito, Andreas Kagwa dkk, para martir dari Uganda. Mereka dibunuh oleh Raja Mwanga karena beragama Kristen tahun 1885-1886. Mereka dinyatakan martir oleh Paus Paulus VI tahun 1964.

Dalam 2Mak 7: 1-2.9-14 dikisahkan: Ketika itu, 7 orang bersaudara dan ibu mereka ditangkap. Lalu dengan siksaan cambuk dan rotan mereka mau dipaksa oleh sang raja untuk makan daging babi yang haram. Maka seorang dari antara mereka, yakni yang menjadi juru bicara, bertanya: “Apakah yang hendak baginda tanyakan kepada kami dan apakah yang hendak baginda ketahui? Kami lebih bersedia mati daripada melanggar hukum nenek moyang.”

Ketika sudah hampir putus nyawanya berkatalah ia: “Memang benar kau, bangsat, kau dapat menghapus kami dari hidup di dunia ini, tetapi Raja alam semesta akan membangkitkan kami untuk kehidupan kekal, karena kami mati demi hukum-hukum-Nya!” Sesudah itu yang ketiga disengsarakan. Ketika diminta segera dikeluarkannya lidahnya dan dengan berani dikedangkannya tangannya juga.

Dengan berani berkatalah ia: “Dari Sorga aku telah menerima anggota-anggota ini dan demi hukum-hukum Tuhan kupandang semuanya itu bukan apa-apa. Aku berharap akan mendapat kembali semuanya dari-Nya!” Sampai-sampai sang raja sendiri serta pengiringnyapun tercengang-cengang atas semangat pemuda itu yang memandang kesengsaraan itu bukan apa-apa.

Sesudah yang ketiga berpulang yang keempat disiksa dan dipuntungkan secara demikian pula. Ketika sudah dekat pada akhir hidupnya berkatalah ia: “Sungguh baiklah berpulang oleh tangan manusia dengan harapan yang dianugerahkan Allah sendiri, bahwa kami akan dibangkitkan kembali oleh-Nya. Sedangkan bagi baginda tidak ada kebangkitan untuk kehidupan.”

Matius dalam injilnya (Mat 5: 1-12a) mewartakan: Ketika melihat orang banyak itu, naiklah Yesus ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah para murid-Nya kepada-Nya. Lalu, Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga.

Hikmah yang dapat kita petik:

Satu, telah ada banyak saksi iman yang percaya akan kehidupan abadi. Mereka rela dihina, disiksa dan mati karena iman kepada Allah yang hidup. Demikian pula dengan para martir dari Uganda, telah menyatakan imannya di hadapan raja. Melalui kesaksian itu menjadi nyata bahwa para pembenci bisa membunuh orangnya, tetapi iman kepada Allah tetap hidup dan diwarisi oleh anak cucu mereka. Hendaknya kita percaya kesaksian itu.

Dua, ada begitu banyak jalan yang ditunjukkan Kristus agar umat-Nya hidup berbahagia. Kebahagiaan itu bisa diperoleh setiap orang bukan dengan uang tetapi melalui pengorbanan diri yang dilakukan dengan tulus dan setia. Amin.

Mgr Nico Adi MSC

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *