Menjadi Manusia-manusia Paskah

Pada misa Hari Raya Paskah-Hari Raya Kebangkitan Tuhan di Gereja Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Katedral Jakarta, Minggu, 5 April 2026, Bapak Ignatius Kardinal Suharyo melalui homilinya, menyampaikan pertanyaan reflektif. Pertanyaan itu adalah, apa relevansi Paskah bagi masyarakat kita, bagi bangsa dan negara kita, bagi kemanusiaan, dan tentu saja bagi Gereja Katolik di Indonesia?

Melalui permenungan yang diambil dari bacaan Kis 10:34a.37-43, Kol 3:1-4 dan Yoh 20:1-9, Kardinal Suharyo berharap, Paskah mendorong kita untuk menjadi manusia-manusia Paskah. Paskah tidak hanya dirayakan setahun sekali, tetapi setiap hari karena Paskah adalah perjalanan meninggalkan kegelapan, menyambut terang.

Berikut ini adalah homili lengkapnya.

Para Ibu dan Bapak, para Biarawan-biarawati, Kaum Muda, Remaja, dan Anak-anak yang terkasih, bersama-sama dengan para imam, petugas ibadah pada hari raya Paskah ini, dan tentu saja dengan bersama dengan panitia Paskah yang membuat kita dapat merayakan Paskah dengan nyaman, pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat hari raya Paskah. Semoga Kristus yang bangkit terus-menerus menyertai hidup kita, keluarga, keuskupan, dan bangsa kita agar di dalam keadaan apapun iman kita semakin teguh, harapan kita semakin kokoh, dan kasih kita tidak pernah luntur.

Kita berdoa juga untuk perdamaian dunia. Kita juga berdoa untuk bangsa dan negara kita agar dapat merayakan dan mengalami Paskah. Semakin hilangnya “kegelapan” dan semakin bersinarnya terang Kristus yang membawa damai dan sejahtera.

Saudari-saudaraku yang terkasih, salah satu simbol penting dalam perayaan Paskah adalah lilin Paskah yang ada di depan kita ini. Setiap tahun lilin Paskah ini selalu baru. Yang sudah dipakai, tidak dipakai lagi, disesuaikan dengan tahun ketika Paskah itu dirayakan. Sehingga pada lilin Paskah tahun ini tertulis angka 2026. Maksudnya adalah agar perayaan Paskah tetap bermakna secara nyata pada tahun 2026 ini.

Kalau disampaikan dalam bentuk pertanyaan, pertanyaannya berbunyi begini, apa relevansi Paskah bagi masyarakat kita, bagi bangsa dan negara kita, bagi kemanusiaan, dan tentu saja bagi Gereja Katolik di Indonesia?

Untuk mencoba menjawab pertanyaan ini, tentu saja kita perlu membaca tanda-tanda zaman. Keadaan realitas dunia, realitas Gereja, realitas masyarakat dan bangsa kita adalah realitas yang sangat kompleks dan tidak boleh disederhanakan begitu saja. Sementara itu pada hari-hari ini lewat berbagai media disuguhi berita-berita yang mengerikan mengenai perang yang berdampak besar juga bagi bangsa kita. Demikian juga berita-berita di tanah air kita.

Sejak tahun 1998, pemberantasan KKN: korupsi, kolusi, nepotisme gencar disuarakan, tetapi seringkali hasilnya dipertanyakan. Bahkan muncul keadaan baru sebagai akibat dari semuanya itu, kekerasan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan, kerusakan bumi yang seharusnya menjadi rumah kita bersama. Sehingga sedemikian rupa akhir-akhir ini kita sering mendengar orang mengatakan bahwa keadaan dunia, keadaan kita sedang tidak baik-baik saja.

Menurut pengamatan yang dilakukan oleh Konferensi Waligereja Indonesia sejak tahun 1998 dan disampaikan dalam berbagai macam nota pastoral, akar dari semua itu adalah kesadaran moral, moral pribadi, moral sosial yang semakin luntur.

Saudari-saudaraku yang terkasih, dalam kisah kebangkitan yang tadi kita dengarkan, keadaan seperti itu digambarkan secara simbolik dalam kata ketika hari masih gelap atau sebagai akibat perilaku duniawi yang tidak mau mengenal dan menerima Sang Terang. Kutipan dari kitab, dari surat Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose yang kita dengarkan sebagai bacaan yang kedua. Dengan gayanya yang khas Yohanes, keadaan gelap ketika Maria Magdalena pergi ke kubur Yesus mesti dipahami secara simbolik, yaitu perilaku manusia yang membiarkan diri dikuasai oleh kegelapan, perilaku yang tidak bermoral, yang tidak mau menerima terang. Padahal dalam Sang Terang itu ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.

Dalam konteks itulah terang baru yang terpancar dari lilin Paskah yang baru pula mempunyai makna simboliknya. Terang itu tidak sekadar berfungsi membuat ruang ibadah yang semula gelap menjadi terang.

Bagi kita umat Kristiani, terang itu adalah Kristus yang bangkit yang seharusnya mendorong kita semua untuk tidak pernah kenal lelah membangun kembali keadaan yang rusak karena berbagai perilaku yang tidak menunjukkan moralitas yang tinggi,  “moralitas” yang berasal dari atas, yang bersumber dari Sang Terang. Kesimpulan ini ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam suratnya yang tadi kita dengarkan. Saya kutip, “Kamu telah dibangkitkan bersama dengan Kristus. Maka carilah perkara yang di atas di mana Kristus berada.” Kristuslah hidup kita. Atau dengan meneladan Yesus yang berkeliling sambil berbuat baik.

“Perkara” yang di atas menurut Rasul Paulus dan perbuatan baik sebagaimana diteladankan oleh Yesus adalah buah dari perilaku yang bermoral. Perilaku bermoral itu kalau dirinci menurut pokok-pokok ajaran sosial Gereja adalah hormat terhadap martabat manusia, tanggung jawab untuk mewujudkan kebaikan bersama, tanggung jawab untuk mengembangkan solidaritas, memberikan perhatian lebih kepada saudari-saudara kita yang kecil, lemah, miskin, dan tersingkir dan bertanggung jawab untuk merawat bumi sebagai rumah kita bersama.

Gagasan-gagasan besar ini mesti dirinci dalam gagasan-gagasan yang lebih kecil dan diwujudkan di dalam berbagai gerakan dengan menjawab pertanyaan ini, apa yang harus kita lakukan supaya perayaan Paskah tahun ini sungguh bermakna bagi dunia, bagi bangsa dan negara kita, bagi kemanusiaan yang sedang tidak baik-baik saja?

Semoga Paskah yang kita rayakan terus-menerus mendorong kita untuk menjadi manusia-manusia Paskah. Terinspirasi oleh iman akan Kristus yang bangkit, termotivasi oleh kemanusiaan yang adil dan beradab, dikuatkan oleh ketekunan yang tahan uji, terus berusaha tanpa kena lelah, mencari jalan-jalan baru untuk mewujudkan nilai-nilai itu.

Kalau demikian Paskah tidak hanya kita rayakan setahun sekali, tetapi kita rayakan setiap hari. Karena Paskah adalah perjalanan meninggalkan kegelapan, menyambut terang. Dan terang Kristus itulah yang kita syukuri, yang kita rayakan pada hari Paskah ini. Sekali lagi, selamat hari raya Paskah kepada para Ibu, Bapak, Biarawan, biarawati bersama Keluarga dan Komunitas-komunitas. Kita berdoa tanpa lelah untuk perdamaian dunia dan untuk damai dan sejahtera bagi bangsa dan masyarakat kita.

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *