Pater Martin Harun, OFM: Dia Akan Memberi Jalan

Pater Martin Harun OFM sangat gembira ketika Paus Fransiskus menandatangani Ensiklik Laudato Si pada 24 Mei 2015 dan kemudian mempublikasikannya secara resmi pada 18 Juni 2015. “Saya gembira bahwa tidak dalam bahasa Latin, tapi dalam delapan bahasa lain ya. Itu sudah luar biasa,” katanya dalam Webinar Musim Penciptaan 2025: “10 Tahun Ensiklik Laudato Si Menjadi Cahaya Harapan Bagi Bumi”, 23 September 2025.

Saat itu, tulang kakinya retak. Ia banyak menghabiskan waktu dengan duduk di kursi.  Karena tidak bisa ke mana-mana, ia pun memanfaatkan sepanjang harinya dengan membaca ensiklik tersebut dari awal sampai akhir.

“Saya begitu terkesan karena ya bagi saya ensiklik itu ya bagi saya yang sebenarnya sudah lama berkecimpung dalam masalah ini sepertinya everything fell in (to) place ya. Saya tiba-tiba melihat keseluruhannya. Keseluruhan masalah. Juga gambaran lebih baik mengenai kegiatan mana manusia dan siapa yang menjadi sebabnya, juga kaitannya dengan orang miskin, kemudian ajakan dialog. Bukan suatu jawaban, tapi ajakan dialog dan terutama juga bagian yang teologi menjadi begitu segar diuraikan dengan menuju spiritualitas,” kata penulis buku berjudul “Bumi Leluhur Kita, Menimba Ekospirit dari kitab Kejadian” itu.

Ia berkesimpulan bahwa ensiklik itu harus bisa dibaca semua orang. Ia menyadari, waktu itu, ensiklik tersebut belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Konferensi Waligereja Indonesia seperti halnya beberapa dokumen lain dan biasanya diberi sampul berwarna kuning. Ada yang dicetak maupun juga diunggah di situs online.

Ia pun berinisiatif untuk menerjemahkan dokumen itu bekerja sama dengan Penerbit Obor supaya terjemahan itu segera diunggah dan diakses gratis oleh umat dan segera bisa dipelajari. Dalam perjalanan waktu KWI pun menyusul menerbitkannya baik format PDF maupun cetak.

“Dan yang paling menggembirakan bagi saya, kami untuk pertama kali menerbitkannya juga online, selain buku ya,” katanya.

Setelah membaca, mempelajari dan menerjemahkannya, Pater Martin mengatakan, isi ensiklik Laudato Si membantunya mendapat suatu paham yang lebih lengkap, utuh. “Tidak terpatah-patah, tidak parsial ini dan itu. Sehingga saya merasa ya itu yang yang mesti bisa dilihat semua orang,” ungkap imam yang tinggal di Cipanas itu.

Menurutnya, melalui ensiklik Laudato Si, Paus Fransiskus memberi kita motivasi iman untuk memperhatikan seluruh ciptaan dan orang miskin. “Dia mau mendobrak paradigma monopoli keselamatan untuk manusia. Ya, itu suatu hal yang begitu menonjol,” katanya. Selama ini, ada paradigma, Allah hanya berurusan dengan manusia, tidak dengan ciptaan-ciptaan lain, seolah manusia adalah yang terutama.

Dalam ensiklik Laudato Si, menurutnya, Paus selalu bicara tentang hubungan Allah dengan makhluk-makhluk ciptaan dan juga makhluk-makhluk dengan Allah. “Ya, beberapa contoh ya, bila bumi memang adalah ciptaan Allah, milik-Nya ya, sesuatu yang Allah nilai baik ya, kita juga harus menerimanya demikian, dan kita harus menghormati bumi seperti adanya ya. Kita harus menghormati hukum alam yang ada iramanya, keterbatasannya ya karena itu semuanya baik ya. Jadi ada konsekuensi bagi kita kalau Allah memang berhubungan dengan seluruh karya-Nya.

Ya, satu contoh lain. Kalau alam semesta sebagai keseluruhan seperti dikatakan Paus dengan akan ada hubungannya satu ungkapan dari kekayaan dan keindahan Allah ya, kita harus sangat sedih kalau sekarang begitu banyak dari keanekaragaman hayati hilang, karena itu mengurangi gambaran yang kita dapat mengenai kekayaan dan keindahan Allah ya,” kata imam yang aktif menulis dan menerjemahkan tema seputar biblis dan ekologis itu.

Pater Martin pun menyampaikan, bagaimana Yesus mengamati ciptaan dan menemukan pesan-pesan Kerajaan Allah di dalamnya. “Ya, kalau Dia menemukan, Dia juga mengarahkan mata kita kepada ciptaan untuk juga menemukan hikmat Allah, pekerjaan Allah, juga pesan mengenai Kerajaan Allah,” katanya.

Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudato Si, menurut Pater Martin, yang paling utama adalah membuka mata kita akan hubungan dan cinta Allah untuk seluruh karya-Nya. “Dan itu mengundang kita untuk ya tidak lagi tidak peduli ya. Kita harus berbagi di dalam kasih Allah ya. Dan kita sedikit mengurangi antroposentrisme kita ya yang sebenarnya menjadi dasarnya permulaannya dari ya pandangan kita yang seringkali salah atau terbatas ya dalam teologi kita,” ungkapnya.

Menurut Pater Martin, saat ini mulai banyak orang yang terlibat dalam gerakan merawat bumi meski belum  menjadi gerakan yang masif. Saudara-saudara se-ordonya, yakni OFM, pun  banyak yang terlibat dalam karya justice, peace, and integrity of creation (JPIC) dan ekopastoral. Demikian juga paroki-paroki sudah mulai banyak yang membuat program merawat bumi. Ada juga yang terlibat dalam advokasi merawat ciptaan maupun aktif dalam menghidupi spiritualitas ekologis sampai pada ibadat atau liturgi.  Gerakan ini makin terasa terlebih ketika ensiklik Laudato Si dirilis dan menginjak usia yang ke-10. “Saya rasa untuk beberapa orang saya melihat itu ya mereka lebih terinspirasi lagi, tapi belum tentu meningkat dalam arti memang mereka cukup konsisten dalam salah satu hal yang ditangani,” katanya.

Bagi Pater Martin, Laudato Si telah memberinya satu gambaran lebih utuh mengenai masalah ekologis dan penyebabnya serta pendekatan  dari sudut iman maupun spiritualitas hingga praktik.

Meski sudah 10 tahun Laudato Si dirilis, Pater Martin melihat ada beberapa hal yang masih lemah terutama keterkaitan antar satu dengan yang lainnya. “Saya lihat di situ seringkali masih lemah ya. Seorang bisa antusias berkaitan dengan sampah, tapi lupa akan energi ya. Atau ya masalah air itu sangat penting ya, tetapi hal-hal lain tidak dilihat. Jadi saya justru mengharapkan bahwa dokumen seperti itu kalau dibaca dengan baik ya orang lebih memahami bagaimana yang satu berkaitan dengan yang lain,” katanya. Dia berharap, penghayatan akan ensiklik Laudato Si bisa makin utuh terutama dalam praktik.

Pater Martin melihat perwujudan semangat ensiklik Laudato Si masih harus terus diperjuangkan mengingat masih ada yang belum tersadarkan akan pentingnya merawat bumi. Ketika yang lain sudah mulai bergerak merawat bumi, sebagian yang lain masih berada dalam zona nyamannya. “Malas untuk membaca, malas untuk mencari satu kedalaman ya, malas untuk kemudian mempraktikkan. Saya kira itu pergumulan mungkin dalam semua kongregasi kita, bagaimana lebih banyak, makin banyak orang bisa terlibat. Dan syukur kalau sekarang dalam pendidikan hal itu menjadi perhatian,” ungkapnya.

Meski dalam hal kecil, gerakan merawat bumi sudah cukup bagus, namun melihat situasi dunia saat ini, Pater Martin mengaku tidak mau memberi optimisme palsu. “Gambaran menyeluruh itu cukup suram ya. Karena sekarang kekuatan dunia begitu bersaing sehingga mereka tidak mau beralih ke energi baru dan itu yang paling menentukan untuk masa depan bumi, sehingga saya tidak optimistis sekarang,” katanya. Meski tidak optimis, sebagai orang beriman, ia tetap berpengharapan.

“Tapi pengharapan itu lain ya. Kalau memang bumi karya Allah dan Dia ya hadir di situ ya, membidaninya, saya tetap berharap bahwa  akan terjadi hal-hal yang belum kita bisa memperhitungkan sekarang yang akan mematahkan kekuatan-kekuatan yang sekarang berusaha bertahan dengan migas dan batubara,” katanya.

Negara-negara besar tetap bersikukuh dengan energi tak ramah lingkungan yang berdampak buruk bagi masa depan bumi.

“Saya sekarang tidak ada banyak alasan untuk optimisme,  tapi saya tetap percaya Tuhan yang hadir di dalam bumi ya, Dia bisa, katakanlah, kekuatan yang baik yang juga ada ya di banyak negara, ada juga banyak hal yang baik, Dia akan memberi jalan,” katanya.

Ia mempunyai pengharapan, Tuhan dengan karya-Nya sendiri yang akan mempertobatkan manusia.

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *