Uskup Sibolga Mgr. Fransiskus TS Sinaga sangat sedih ketika banjir bandang dan tanah longsor menimpa umat di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga pada 25 November 2025 lalu. Hatinya makin sedih karena ketika bencana itu terjadi, dirinya sedang menjalani perawatan akibat kecelakaan yang dialaminya.
“Bencana ini betul sangat memilukan, sangat menyedihkan untuk saya sebagai gembala utama di keuskupan ini. Ketika terjadi bencana banjir bandang dan tanah longsor tanggal 25 November 2025, saya tidak ada di keuskupan ini. Saya tidak hadir di keuskupan ini karena ada kecelakaan kecil yang saya alami. Maka selama 5 minggu dan saya pikir selama tanggal darurat saya tidak hadir secara fisik bersama para imam, bersama para biarawan-biarawati dan bersama khususnya umat masyarakat yang terdampak, yang mengalami bencana ini,” tuturnya dalam Humanitarian Podcast Caritas Indonesia, 15 Januari 2026.
Meski dirawat di Medan, lewat media informasi, ia menyimak perkembangan pasca bencana. “Saya melihat saudara-saudari begitu banyaknya. Umat, masyarakat yang terdampak dan juga yang mengalami bencana ini. Dan saya melihat karena saya juga mengikuti peristiwa bencana ini meskipun saya di Medan, bagaimana banjir bandang, bagaimana arus air itu betul menyapu bersih beberapa daerah ya. Dan juga tanah longsor yang menindih banyak rumah dan juga banyak saudara kita yang tertimpa oleh tanah longsor ini. Maka, kalau ditanya saya sebagai gembala utama di Keuskupan ini, betul saya menangis, betul saya sedih,” ungkap Mgr Frans.
Hatinya sedih karena mereka yang tertimpa bencana mengalami penderitaan, kelaparan, sakit dan menderita penyakit efek dari bencana. “Maka ketika saya pulang dari rumah sakit ya saya langsung, langsung menyapa, karena saya merasa sebagai uskup sebagai gembala di keuskupan ini meskipun ada kesulitan saya, tapi saya memaksa untuk bagaimana saya harus meyakinkan, meneguhkan umat dan masyarakat yang tertimpa bencana ini. Ketika saya bertemu dengan mereka, mereka begitu, begitu mengalami kesedihan dan menangis,” katanya.
Namun, ia bersyukur mengingat banyak pihak terlibat memberikan pertolongan. Bersama Vikaris Jenderal Keuskupan Sibolga, Caritas Indonesia, para imam, biarawan-biarawati, umat awam, dan masyarakat bahu-membahu bekerja bersama dalam tanggap darurat dan memberi bantuan masyarakat. “Bahkan tidak hanya masyarakat yang bisa dijangkau, tapi masyarakat juga yang tidak bisa dijangkau. Di gunung-gunung sana, di hutan-hutan sana banyak saudara-saudara kita yang sangat mengalami kesulitan soal makanan itu. Tapi saya betul bersyukur kepada saudara-saudari saya para pastor, biarawan- biarawati semua bergerak untuk menanggapi ini,” kata Mgr Frans.
Dengan demikian, menurutnya, Gereja Katolik hadir, “bagaimana para pastor, bagaimana para suster, bagaimana orang muda, bagaimana awam kita di tempat ini sungguh dengan berjuang untuk menanggapi kesulitan-kesulitan umat dan masyarakat di tempat ini yang mengalami bencana itu”.
“Di sinilah Gereja hadir meneguhkan, menguatkan supaya kepedulian, bela rasa itu sungguh hadir di tengah-tengah umat dan masyarakat,” ungkapnya.
Bahkan menurutnya, Gereja Katolik yakni Keuskupan Sibolga dan Karina KWI hadir tidak hanya untuk umat Katolik. “Saya selalu berkoordinasi dan juga saya kira Karina, Karitas Nasional menegaskan, kehadiran kita adalah kehadiran yang sungguh untuk semua dan latar belakang apapun. Karena latar belakangnya adalah yang kita bantu adalah manusia, bukan memilih agamanya apa, tapi yang kita layani, yang kita layani adalah manusia dengan martabat yang tinggi dan besar ini,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Mgr Frans memberi apresiasi positif kepada Caritas Indonesia (Karina) yang dengan sangat cepat menanggapi situasi dan kondisi Sibolga, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan. “Maka saya sebagai pribadi, sebagai Uskup Sibolga berterima kasih kepada Karina yang begitu responsif ya dan komunikatif,” katanya.
Ia juga berterima kasih kepada lembaga-lembaga, ordo, maupun kongregasi yang sehati sejiwa untuk turun dan juga membantu korban bencana. “Itu saya syukuri sebagai uskup Sibolga yang bisa menemani dan melampaui banyak hal untuk sekali lagi memperjuangkan, menghargai martabat manusia,” ungkap Mgr Frans.
Menurutnya, semua itu harus diusahakan supaya manusia dengan martabatnya yang luhur itu sungguh tertolong dan terbantu. “Inilah tugas kita. Kehadiran Gereja adalah di sana,” tegasnya.
Mgr Frans menegaskan kembali, bencana tidak memilih korban. “Tapi bencana kan melanda semua agama, suku, budaya,” tuturnya. Maka, menurutnya, semua harus dilayani dengan baik. “Kehadiran Gereja Katolik, kehadiran Gereja lokal adalah untuk semua,” katanya.
Gereja, menurutnya, harus hadir secara inklusif, tidak eksklusif. “Karena kalau eksklusif itu bukan Gereja. Harus, sekali lagi, harus inklusif,” tegasnya. Kehadiran Gereja, menurutnya, juga harus membahagiakan, membantu orang yang sedang dibantu. Kehadiran Gereja dikatakan berhasil kalau bisa membahagiakan korban, maka ada tanggap darurat, ada transisi, ada pemulihan. “Ini kan semua terus mau membantu saudara-saudara kita yang kena bencana itu. Dan sekali lagi kehadiran kita harus nampak bahwa memang mereka harus bahagia,” ungkapnya. Terlebih ketika membantu korban bencana, menurutnya, Gereja harus cepat. “Kita harus cepat karena orang menderita ya,” tegasnya.
Solidaritas yang nyata
Mgr Frans sangat mengapresiasi tingginya solidaritas masyarakat. Paus Leo XIV pun berdoa secara khusus atas bencana alam yang melanda Sumatera. “Doanya apa? Semoga komunitas-komunitas, semoga keluarga-keluarga bisa ambil bagian dalam peristiwa yang seperti ini. Mengulurkan tangan, mengulurkan bantuan dan mengulurkan doa kepada masyarakat yang mengalami korban. Maka saya sangat senang bahwa begitu terjadi bencana di Sibolga, Tapteng dan juga yang lain, banyak masyarakat, banyak orang-orang baik di dunia ini yang sungguh peduli menurut saya, membangun kepedulian, solidaritas yang tinggi, yang kuat,” katanya. Banyak yang terlibat untuk membantu masyarakat yang terkena bencana dengan cara dan kemampuan masing-masing.
“Saya kira doa dari Paus kita ini luar biasa bagaimana menggerakkan orang-orang begini sehingga mau membantu mengulurkan tangan dan ini menurut saya luar biasa dan saya alami di keuskupan ini dan mungkin juga karena bahwa banyak orang yang datang, banyak orang yang memberi, banyak orang yang sungguh meneguhkan kami di keuskupan ini dan juga masyarakat. Jadi itu luar biasa mereka,” kata Mgr Frans.
Selanjutnya, Mgr Frans berharap, dalam waktu dekat, gerakan pemulihan makin lebih cepat, “super cepat supaya orang, masyarakat, saudara-saudara kita yang di tenda itu bisa kembali memiliki rumah yang layak”.
Maka, ia menandaskan pentingnya membangun jaringan dan kebersamaan. “Kita tidak boleh hidup sendiri, melakukan sendiri, membuat sendiri tanpa pihak lain, orang lain. Kita butuh banyak elemen, banyak jaringan untuk menuntaskan situasi bencana yang ada di Keuskupan Sibolga maupun yang ada di tempat lain,” pungkasnya.
