Suhu udara di Batu, Malang, sangat sejuk pada bulan Oktober 2015. Pagi itu bersama dua orang Novis I dan tiga orang Novis II, Suster Siscilia Andri, SSpS duduk melingkar di kompleks novisiat. Diselimuti hawa sejuk yang membawa kesegaran, mereka hendak membaca Ensiklik Laudato Si yang pada 24 Mei 2015 dirilis Paus Fransiskus.
“Ketika kami membaca itu saya rasanya berkobar-kobar,” kata Suster yang biasa disapa Suster Sisil berkisah dalam Webinar Musim Penciptaan 2025: “10 Tahun Ensiklik Laudato Si Menjadi Cahaya Harapan Bagi Bumi”, 23 September 2025. Ia merasakan bahasa ensiklik itu sederhana dan mudah dipahami. “Ensiklik ini saya merasakan bahwa bahasanya seperti sebuah surat yang hidup ya, walaupun gak ada gambarnya. Biasanya itu kan kalau bacaan yang tidak ada gambarnya itu menjadi satu yang kering begitu ya. Tetapi ensiklik ini sungguh hidup. Saya rasakan itu dan membuat berkobar ya, berkobar,” kata suster yang pernah menjalani studi Pendidikan Fisika dan Manajemen Sumber Daya Manusia itu.
Sebagai formator para novis waktu itu, ia merasa diteguhkan ketika membaca ensiklik tersebut. Selain diteguhkan, Suster Sisil merasa diundang untuk menanggapi undangan Paus Fransiskus melalui ensiklik itu. “Kami merasa juga diundang untuk masuk dalam lingkaran yang lebih besar, yang lebih luas, bagaimana saat ini bumi kita itu menunggu tanggapan yang konkret. Bagaimana merawat bumi begitu ya. Maka sebagai pendamping novis waktu itu, saya sangat antusias membaca dan membacakan untuk para novis dan juga membaca bersama serta menanggapinya,” kata Suster yang mendapat mandat menjadi formator novis dari 2013-2019 itu.
Selain bersama para novis mempelajarinya, Suster Sisil juga bersemangat untuk mewartakan ensiklik tersebut dalam format digital. “Saya dengan antusias membagi kepada semua orang yang saya kenal begitu ya. Seakan-akan ingin, ayo kita membaca bersama dan kita merawat bersama bumi kita untuk menjadi tempat yang lebih layak,” kata Suster yang pernah bertugas mengurusi administrasi Rumah Sakit RKZ, di Surabaya tahun 2019-2022 itu.
Setelah membaca dan mempelajari ensiklik tersebut, baik Suster Sisil maupun para novisiat makin bersemangat dalam merawat bumi, khususnya kebun novisiat. “Demikian semangatnya begitu. Dan itu konkret dalam kegiatan sehari-hari termasuk pilihan-pilihan hidup ya, bagaimana kita merawat kebun secara organik di Novisiat. Kemudian bagaimana kami belanja itu juga sadar untuk membawa tas sendiri, kemudian membawa kotak sendiri. Kemudian juga bagaimana sebagai orang muda kami memilih bagaimana menggunakan pembalut yang bisa dicuci ulang dan juga dipakai ulang supaya tidak menambah sampah di bumi begitu ya. Itu menjadi satu semangat dan gerakan yang membangun satu dengan yang lain,” kata Suster Sisil.
Saat ini, Suster Sisil diutus untuk melayani di dunia pendidikan. Ada banyak hal menantang dan potensi dalam dunia pendidikan terkait menanggapi undangan yang tersurat dalam Ensiklik Laudato Si. Menurutnya, komunitas pendidikan adalah komunitas yang penuh energi. “Komunitas yang hidup yang mulai dari pagi hingga sore itu mencoba untuk bergerak dalam berbagai disiplin ilmu, kemudian juga berelasi dengan alam dan juga dengan sesama. Saya melihat bahwa sangat potensi bahwa di bidang pendidikan ini kita mewartakan Laudato Si ya, gerakan untuk bagaimana kita menyerukan undangan untuk merawat bumi, undangan untuk membarui relasi,” tutur Suster Sisil.
Untuk itu, ia tidak bisa melakukannya sendiri. Bersama para suster, guru, karyawan, mitra misi dan anak-anak didik, ia mengarahkan diri untuk melakukan pertobatan ekologi.
“Jadi mulai dari diri kami, bagaimana kami melihat, bagaimana gaya hidup kami selama ini, kemudian bagaimana ketika kami beraktivitas di sekolah termasuk bagaimana menggunakan kertas, kemudian menghargai air yang kami gunakan, listrik begitu ya. Kemudian bagaimana juga relasi kami melihat ketika tanaman di sekitar kami itu kering begitu ya atau bagaimana kita berkata-kata kepada sesama kita. Cara-cara kita berkomunikasi begitu, apakah itu menghidupkan ataukah justru itu mematikan begitu ya. Itu kesadaran-kesadaran ekologi yang kami sadari. Sehingga dari pertobatan itu kemudian kita membuat sebuah komitmen, komitmen bersama ya sebagai komunitas di sekolah. Bagaimana kita mulai membiasakan diri dengan membawa botol minum dan kotak makan, sehingga kita tidak menambah jumlah sampah ke bumi begitu,” ungkap Suster Sisil.
Menurutnya, dari kesadaran yang dibangun sedikit demi sedikit, hari demi hari perlahan menjadi kebiasaan. “Sehingga kalau kita ada kegiatan bersama seperti rapat atau kita pesta, kita mencoba menyadari kemasan apa yang kita gunakan begitu ya. Makanan bagaimana yang kita masak supaya tidak terbuang dan cukup untuk kita konsumsi bersama, kita nikmati bersama, begitu. Jadi, istilahnya pesta tanpa melukai bumi begitu ya atau mengurangi melukai bumi itu yang kita lakukan. Kemudian bagaimana kita berkomitmen untuk mengolah lahan biara secara organik begitu, yang dulu konvensional begitu ya, menggunakan pestisida apa kimia, kemudian pupuk kimia. Sekarang kita mencoba untuk menggunakan pupuk organik gitu. Kemudian kita juga mengolah kantin sehat sekolah dan itu pun kita terapkan juga ekonomi ekologi di mana penjualnya juga dari orang tua murid begitu ya. Kemudian makanannya juga makanan yang dipilih makanan sehat bukan frozen food. Kemudian juga kemasannya yang ramah lingkungan. Jadi seperti itu gerakan-gerakan yang kita konkret lakukan dengan tetap mempertahankan spirit Laudato Si,” katanya.
Untuk menjaga roh Laudato Si dalam iklim pendidikan, setiap hari sebelum bekerja, suster bersama anggota komunitas membaca ensiklik bersama-sama. “Satu hari ke satu nomor,” katanya. Dengan demikian, sebagai komunitas, mereka bersama-sama menyadari spiritualitas yang mendasari tindakan-tindakan untuk merawat bumi. Meski demikian, Suster merasa upaya itu tidak selalu mulus. Ada tantangan gaya hidup konsumtif dan instan yang sudah menjadi kebiasaan warga sekolah dan juga asrama. “Sehingga untuk memilih atau mengalihkan dari delivery food menjadi kemasan, menjadi kemasan yang ramah lingkungan atau makanan yang sehat itu tidak mudah begitu ya,” ungkap Suster Sisil.
Kongregasi Suster Misi Abdi Roh Kudus atau SSpS tempat Suster Sisil bergabung adalah kongregasi internasional yang berkarya dalam bidang kesehatan, pendidikan, ekopastoral maupun JPIC khususnya pencegahan dan penanganan kasus trafficking. Jauh sebelum ensiklik Laudato Si terbit, menurutnya, Kongregasi SSpS sudah menggumuli isu-isu lingkungan. “Sebenarnya lama sebelum ensiklik ini terbit, kami melihat dan merenungkan, merefleksikan kembali bahwa sebenarnya para perintis dan juga pendahulu kami itu telah menanamkan visi lingkungan begitu ya. Seperti ketika hal-hal yang kita lihat saja dalam kompleks area biara. Dalam luasan seperti misalnya di beberapa komunitas kami, luasan lahan hanya sedikit saja yang dibangun bangunan gedung. Jadi sebagian besar itu dipikirkan untuk menanam pohon-pohon besar begitu ya, pohon-pohon yang menyimpan air seperti bambu, mahoni, kemudian berbagai jenis buah-buahan begitu ya. Dan juga sudah dipikirkan aliran bagaimana tanaman organik itu juga ditanam, kemudian ternak begitu,” katanya.
Bahkan Suster Sisil bercerita, para suster pendahulu sudah memikirkan ketika situasi ekonomi Indonesia tahun 1927 belum terlalu kuat, para suster sudah memikirkan beternak sapi yang menghasilkan susu supaya bisa membantu anak-anak sekolah. Selain itu, para suster juga memanfaatkan kotoran ternak untuk dijadikan pupuk yang bisa menyuburkan tanaman di sekitar.
Meski banyak upaya merawat bumi sudah dilakukan sejak para pendahulu hingga saat ini oleh para suster melalui berbagai karyanya, Suster Sisil melihat hal itu harus terus diupayakan.
Sidang Agung Gereja Katolik (SAGKI) tahun 2005 di Bogor yang di dalamnya salah satunya merekomendasikan untuk merawat lingkungan memberinya inspirasi. Suster Sisil bersama komunitasnya menanggapinya dengan mendedikasikan salah satu area sekolah untuk menjadi kebun ekologi bagi masyarakat Kota Blitar waktu itu. “Kami mencoba untuk membagikan bahwa lingkungan biara bisa menjadi sarana untuk belajar anak-anak terutama di usia dini,” katanya. Upaya itu mendapat sambutan positif dari pemerintah setempat. Bahkan sejak itu, pihaknya kerap diundang untuk berbagi wawasan tentang sekolah berwawasan lingkungan. Bahkan, karena kegigihan merawat lingkungan, sekolahnya mendapat penghargaan Adiwiyata.
Kongregasinya tetap memegang teguh merawat bumi. Menurutnya, setiap Kapital Provinsi maupun Kapital Umum, kongregasi selalu memberi perhatian kepada Laudato Si. “Secara khusus pada Kapital Umum SsPs Januari 2022 dan juga Kapital Provinsi November 2022, kami menentukan komitmen sebagai kongregasi dan juga provinsi dan komunitas untuk melakukan gerakan bersama, pertobatan ekologi bersama,” katanya.
Upaya untuk konsisten merawat bumi tetap dilakukan misalnya dengan mengirim beberapa suster untuk mengikuti pelatihan pertanian organik maupun kursus animator Laudato Si.
“Kami juga berkomitmen secara komunitas dan pribadi untuk ikut pelatihan animator ya, kursus Animator Laudato Si waktu itu walaupun kita ingat waktu itu adalah pandemi begitu ya, kita bersemangat sekali untuk mengikuti dan itu kita, kita bagikan dalam kehidupan komunitas dan juga karya sehingga semangat itu terus-menerus diperbaharui, walaupun kami sadar ketika kami melakukan, kami pun juga melakukan ketidakadilan begitu ya. Jadi perlu pertobatan terus menerus. Metanoia itu perlu kami lakukan. Jadi ada pertumbuhan tetapi juga ada hal yang perlu diperhatikan karena tetap ada ketidakadilan yang kami lakukan itu. Jadi pertobatan perlu dilakukan terus-menerus,” demikian pengakuan Suster Sisil.
Merawat bumi sebenarnya upaya menjaga kehidupan yang berpengharapan. Dalam hal ini menjaga relasi dengan Tuhan sangat dibutuhkan. “Saya merasa bahwa ketika kita diundang untuk menjadi manusia atau saksi-saksi harapan, kita sendiri perlu kembali kepada pemilik hidup ya, kepada Tuhan yang menjadi sumber kekuatan dan Roh-Nya yang memberi hidup. Jadi kembalinya ya kepada Tuhan,” katanya. Hal itu, menurutnya bisa ditemukan dalam ekaristi, adorasi maupun doa, baik secara pribadi maupun dalam komunitas. “Itu menjadi satu kekuatan sehingga hidup kita mengalir dari situ ya, mengalir dari kekuatan kita dalam perjumpaan dan relasi kita dengan Tuhan, sehingga mungkin senyum sedikit begitu ya dengan sesama, memberi harapan di pagi hari. Kemudian juga bagaimana sikap kita, komunikasi kita, kata-kata kita, bagaimana menjadi berkat itu, jadi harapan hari itu mungkin ya. Kemudian juga kesetiaan dan kesaksian hidup kita. Jadi apa yang kita hidupi dalam Roh, Roh Allah kita bagikan begitu ya. Kalau sendiri memang kita gak bisa, tetapi bersama dengan Roh Allah dan juga bersama dengan sesama dan semesta, kita akan menjadi tanda harapan,” katanya.
