Renungan Harian 18 Oktober 2026

Minggu, 18 Oktober 2026

Hari Minggu Biasa XIX (Minggu Misi)

Bacaan I          : Yes. 45:1,4-6

Bacaan II        : 1Tes. 1:1-5b

Bacaan Injil     : Mat. 22:15-21

Bersatu dalam Kristus untuk Menjadi Jembatan Belas Kasih

Pada hari ini Gereja merayakan Hari Minggu Misi ke-100 (seabad). Tema yang diangkat, “One in Christ, united in mission” (Satu dalam Kristus, Bersatu dalam Misi). Paus Leo XVI menekankan bahwa karya misi bukanlah tugas individu, melainkan buah dari kesatuan iman. Dalam rangka satu abad gerakan misi global ini, Paus Leo XIV merayakan warisan sejak era Paus Pius XI (1926) dan mengajak Gereja modern menyalakan kembali api sukacita serta semangat misioner dalam bimbingan Roh Kudus.

Motto Kesatuan (In Illo uno unum) ini Mengambil inspirasi dari khotbah Santo Agustinus. Bapa Suci menegaskan bahwa persekutuan dengan Kristus adalah fondasi utama. Tanpa persatuan internal Gereja, kesaksian di luar tidak akan berdaya. Gereja dipanggil menjadi jembatan belas kasih di tengah dunia yang terpecah. Setiap paroki dan komunitas harus mampu mengampuni, berdamai, dan bekerja sama secara inklusif. Paus juga mendorong para misionaris dan umat awam untuk mencari cara-cara (metode) baru yang kreatif dalam mewartakan Injil, memanfaatkan ruang digital, serta beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensi kasih.

Dalam bacaan Injil hari ini, dikisahkan ada sekelompok orang Farisi dan Herodian yang tidak senang dengan Yesus. Mereka bersekongkol dan berusaha mencari-cari kesalahan Yesus, lalu menjebak Yesus. Tujuannya supaya mereka bisa menyalahkan dan menyingkirkan Yesus.

Padahal Yesus telah berbuat banyak untuk kebaikan rakyat Yahudi, dengan karya kesehatan (menyembuhkan orang-orang sakit), karya pendidikan (mengajar tentang Sabda Bahagia, kerajaan Allah, pengampunan, dsb), karya sosial-ekonomi (memberi makan pada banyak orang), dsb.

Orang-orang Farisi berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan terkait dengan kewajiban membayar pajak. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada Yesus: “Guru, apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?”

Pertanyaan ini kelihatanya bagus dan sederhana, tetapi di balik pertanyaan itu mereka bermaksud menjebak Yesus. Jika Yesus menjawab “orang perlu membayar pajak”, maka orang banyak bisa memusuhi Yesus karena Yesus pro penjajah. Jika menjawab “orang tidak perlu membayar pajak”, maka Yesus akan dipandang sebagai pembangkang kaisar dan penghasut rakyat. Secara manusiawi situasinya membuat dilema.

Memang harus hati-hati, sabar dan bijaksana dalam menghadapi orang-orang yang sudah tidak suka, orang-orang yang iri hati. Apa saja yang diperbuat selalu salah di mata mereka dan dicari-cari alasan untuk menyalahkan. Jenis orang seperti ini masih bisa dijumpai di sekitar kita saat ini.

Dengan bijaksana, Yesus memberikan kita teladan. Dia menjawab, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”. Yesus memberikan cara pandang atau mindset baru, bukan soal boleh atau tidak boleh, tetapi soal baik atau tidak baik. Yesus mengajak kita untuk menjadi warga negara yang baik, sekaligus menjadi umat yang taat pada Allah. Sungguh seorang patriot dan sungguh seorang katolik.

Sebagai warga negara yang baik, Mgr. Albertus Soegijapranata mendorong dan memotivasi umat Katolik terlibat memikirkan kepentingan bangsa dan Negara. Dia memberikan landasan moral sosial dan teologis bagi pengintegrasian kekatolikan dan nasionalisme, yaitu 10 Perintah Allah; Mat 22:21; Mrk 12:17; dan Luk 20:25.

Dalam Surat Gembala Masa Prapaskah 6 Februari 1956, Mgr. Soegijapranata menegaskan: “Jika kita sungguh-sungguh Katolik sejati, kita sekaligus patriot sejati. Karenanya, kita merasa bahwa kita 100% patriot, justru karena kita adalah 100% Katolik. Lagi pula, bukankah menurut perintah ke-4 dari ke-10 Perintah Allah –sebagaimana ada dalam Katekismus– kita wajib mencintai Gereja kudus, juga kita wajib mencintai Negara, dengan seluruh hati kita. Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar, dan berikanlah kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.”

Dalam Surat Gembala Kemerdekaan RI ke-81 pada tahun 2026 ini, Mgr. Rubiyatmoko juga mengingatkan kita untuk merawat anugerah kemerdekaan bangsa kita. Merdeka berarti berani membangun kehidupan bersama yang lebih adil dan sejahtera.

Caranya dengan menempuh empat langkah pertobatan bersama, yaitu: menjadi jembatan dan pembangun jembatan dengan saling menghormati dan menghadirkan ruang perjumpaan dan perdamaian; merawat bumi untuk mengusahakan kesejahteraan yang berkeadilan; menggunakan teknologi dan kecerdasan buatan secara bijaksana demi martabat umat manusia; dan berani menghentikan kebijakan yang merugikan kepentingan bersama.

Pertanyaan refleksi, bagaimana cara kita untuk menjadi jembatan belas kasih pada zaman modern ini? Apa sumbangan kita untuk mewujudkan bakti kita pada Allah dan bangsa?#

 Yohanes Gunawan, Pr

Rektor Seminari Tahun Orientasi Rohani Sanjaya,

Jangli – Semarang

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *