Melalui Gal 4: 31b – 5:6 Paulus menyapa umatnya: Saudara-saudara, kita adalah anak-anak perempuan merdeka. Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.
Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat, kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat. Kamu hidup di luar kasih karunia, sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan.
Lukas dalam injilnya (Luk 11: 37-41) mewartakan: Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Sebaliknya, Tuhan berkata kepadanya: “Kamu orang-orang Farisi, membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.
Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Maka, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.
Hikmah yang dapat kita petik:
Satu, Paulus berulang kali menekankan bahwa umat manusia mendapatkan keselamatan karena beriman kepada Kristus dan melakukan teladan-Nya, dan bukan karena melakukan hukum taurat. Hukum Taurat telah disempurnakan Kristus melalui sengsara dan kebangkitan-Nya. Maka, siapa saja yang mengikuti dan mengimani Yesus, akan diselamatkan. Dia yang menjamin keselamatan dan bukan yang lain.
Dua, yang membuat orang pantas dan benar di hadapan Allah, bukan karena mencuci tangan atau melakukan tindakan lahiriah yang menyenangkan, tetapi berlaku adil dan berbelaskasih kepada sesama.
Baju bagus, rumah rapi dan bersih serta makanan enak, memang menyenangkan, tetapi bagi Allah yang lebih utama adalah berlaku benar dan adil. Hendaknya kita menjalankan semua itu dengan tulus dan gembira, lebih-lebih kepada mereka yang miskin dan menderita. Amin.
Mgr Nico Adi MSC
