Pertobatan Ekologis: Tanggung Jawab Merawat Bumi

Dalam program Api Karunia Tuhan, Uskup Keuskupan Agung Jakarta Bapak Ignatius Kardinal Suharyo menyampaikan perhatian Gereja pada isu ekologi sudah dilakukan sejak lama. Dalam konteks Indonesia, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sudah memberikan perhatian pada isu ekologi dengan mengeluarkan Nota Pastoral berjudul “Keterlibatan Gereja dalam Melestarikan Keutuhan Ciptaan” pada tahun 2013. “Sebetulnya Konferensi Waligereja Indonesia pada tahun 2013 sudah mengeluarkan satu buku yang bahkan satu-satunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, sehingga bisa dibaca oleh khalayak yang lebih luas. Bukunya kecil, ini, tetapi rupa-rupanya pada waktu itu gemanya belum luas. Jadi, kesadaran akan tanggung jawab ekologi pada waktu Nota Pastoral ini dibuat belum luas,” ucapnya dalam program Api Karunia Tuhan “Pertobatan Ekologis – Tanggung Jawab Merawat Bumi” di Aula SMA Santa Ursula, Jakarta 14 Maret 2026.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan perhatian Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) pada isu lingkungan hidup. Salah satunya, pada tahun 2015 mengeluarkan Booklet Gerakan Silih Ekologis. “Gerakan ekologi di Keuskupan Agung Jakarta yang dirumuskan dalam banyak gerakan, bahkan salah satunya ada yang dikutip dalam salah satu dokumen dari Vatikan yaitu yang waktu itu disebut dengan silih ekologis. Ia memberikan contoh jika kita naik pesawat terbang, sementara jejak karbon pesawat terbang tinggi, maka kalau kita bepergian naik pesawat terbang, kita ikut “merusak” bumi ini. Maka, silih ekologis pada waktu itu yang diusulkan adalah, kalau naik pesawat terbang tiketnya satu juta, disisihkanlah uangnya 50 ribu, lalu dikumpulkan menjadi silih ekologis dan kemudian uang yang terkumpul itu untuk memperbaiki bumi. Sudah banyak sebetulnya. Tetapi waktu itu belum ada gerakan seperti yang sekarang ini baik secara umum maupun di dalam lingkup Keuskupan Agung Jakarta. Jadi, lewat begitu saja,” katanya. Ia juga menyebut buku yang bisa menjadi sumber belajar seperti “Menyapa Bumi, Menyembah Yang Ilahi” dan sebuah majalah yang waktu itu juga mengulas tanggung jawab merawat bumi.

Melanjutkan pengajarannya, ia pun menyampaikan sebuah dongeng. Kurang lebih ini kisahnya. Di suatu tempat ada sebatang pohon yang sangat besar. Sangat besar. Daunnya rimbun dan banyak sekali burung-burung yang bersarang di tempat itu. Ada oma-opa burung. Ada orang tua burung. Ada anak-anak dan cucu-cucu burung. Semuanya merasa nyaman bersarang di pohon itu. Sampai pada suatu hari, ada seorang pemburu yang sedang mengejar kijang. Kijang sudah diburu lama tetapi tidak pernah tertangkap oleh pemburu yang membawa panah. Sampai pada suatu saat, kijang itu rupanya lelah. Ia berhenti dan terduduk di bawah pohon besar itu dan tidak bisa berlari lagi.

Pemburu itu berpikir, “Sekarang saatnya saya akan melepaskan (anak) panah saya!” Dan betul, busur direntangkan, panah dilepaskan, yakin bahwa kijang itu akan kena. Ternyata, dengan tenaganya yang terakhir, kijang itu meloncat ke samping, sehingga panah tidak kena kijang itu, melainkan kena pohon yang besar tadi. Padahal panahnya beracun. Karena racun itu, pohon itu mulai meranggas. Daun-daunnya mulai menguning berjatuhan. Ranting-rantingnya mulai kering dan mulailah burung-burung yang ada di situ pergi satu per satu mencari tempat yang lebih nyaman sampai akhirnya tinggal seekor burung yang tidak pergi, yakni  burung Nuri. Burung Nuri itu bertengger terkena hujan, terkena panas, tetapi tidak pergi seperti teman-temannya yang lain. Lewatlah seorang pengembara. Ia melihat burung Nuri bertengger sendirian itu merasa aneh. Lalu dia berkata, “Burung Nuri, kenapa kamu tidak seperti saudara-saudaramu, orang tuamu, teman-temanmu pergi dari pohon ini?” Burung Nuri menjawab, “Bapa, bagaimana mungkin saya pergi meninggalkan pohon ini sendirian? Kakek-nenek saya bersarang di sini, orang tua saya bersarang di sini, teman-teman saya semua bersarang di sini, bagaimana mungkin saya meninggalkan pohon yang begitu bermakna bagi hidup kami sendirian?” Lalu, pengembara itu berkata, “Nuri betapa mulianya hatimu. Ajukan satu pertanyaan dan saya akan mengabulkan permintaanmu!” Nuri menjawab begini. “Bapa, apalagi yang ingin saya sampaikan selain saya minta supaya pohon ini tumbuh kembali.” Ternyata peziarah itu mahadewa yang bisa mengabulkan semua permintaan siapapun. Permintaan Nuri itu dikabulkan. Pohon yang semula meranggas kering, dahan-dahannya mulai hijau kembali. Tunasnya mulai tumbuh dan burung-burung yang tadinya pergi meninggalkan pohon itu satu per satu kembali, merasa nyaman bersarang di tempat itu, merasa nyaman hidup bersama-sama dengan burung-burung yang lain.

Usai menyampaikan dongeng, Kardinal Suharyo mengatakan, dongeng tersebut adalah warisan nenek-moyang yang mengandung pesan supaya kita merawat bumi. “Saudari-saudara sekalian, ini adalah kisah warisan dari nenek moyang kita yang mempunyai pesan yang sangat dahsyat menurut saya, yaitu tanggung jawab untuk merawat bumi. Tanggung jawab untuk melakukan segala sesuatu, memperjuangkan segala  sesuatu untuk bersolider dengan bumi ini,” ungkapnya.

Masalahnya, lanjutnya, apakah hanya pohon itu yang terluka dalam ajaran yang mau diwariskan oleh nenek moyang kita? “Jawabannya bukan. Dongeng itu memang mungkin saya temukan di dalam suatu buku tentang ekologi, tanggung jawab merawat bumi, tetapi bisa kita perluas, yang terluka kena racun itu tidak, bukan hanya pohon, bukan hanya bumi ini. Yang kena racun, yang terluka adalah kemanusiaan. Kita semua, umat manusia terluka,” kata Kardinal.

Itulah sebabnya, menurutnya, KAJ, melalui Arah Dasarnya sejak tahun 2022-2026 mengajak seluruh umat untuk mendalami ajaran sosial Gereja. “Dan bukan hanya mendalami ajarannya, tetapi mencari jalan-jalan yang konkret untuk menyembuhkan luka-luka kemanusiaan itu. Dan sekarang, pada tahun kelima ini kita sampai pada tanggungjawab untuk merawat bumi yang kita harapkan akan berkembang menjadi rumah kita bersama,” katanya.

Ia pun mengajak peserta untuk mengritisi frasa “bumi rumah kita bersama”. “Betul atau tidak itu? Tidak betul. Seandainya bumi itu rumah kita bersama, ndak ada orang miskin, ndak ada negara miskin, tidak ada kerusakan alam. Harapannya memang bumi itu rumah kita bersama. Tetapi tidak. Kalau misalnya rumah kita bersama, di rumah kita tidak ada anak misalnya anak yang merasa dianaktirikan. Tidak ada yang merasa tidak diperhatikan dibandingkan dengan yang lain. Kalau sekolah ya seragamnya sama, sepatunya sama. Bukan yang satu mereknya ini, yang lain mereknya itu. Kalau dibeda-bedakan seperti itu, lalu rumah kita bukan rumah kita bersama. Demikianlah bumi ini. Kita berharap, bumi ini menjadi rumah kita bersama. Nyatanya tidak. Ada yang kamarnya lux, rumahnya lux, tetapi ada yang rumahnya di gerobak sampah,” katanya.

Karena hal itulah, menurutnya, KAJ menawarkan dan mengajak umat untuk mempelajari dan mendalami gagasan-gagasan tentang ajaran sosial Gereja. “Apa yang dimaksudkan dengan ajaran sosial Gereja yang kita sosialisasikan di seluruh Keuskupan Agung Jakarta ini? Setiap tahun kalau ingat sejak tahun 2022 di semua gereja di Keuskupan Agung Jakarta di bagian depan itu dipasang banner-banner. Tahun 2022, kita mengajak untuk mendalami tema yang pertama, martabat manusia, menghormati martabat manusia. Apakah martabat manusia terluka? Jawabannya iya. Sangat terluka dengan berbagai macam hal. Berbagai macam hal itu apa? Misalnya, sejak beberapa tahun yang lalu semakin sering kita dengar istilah TPPO, Tindak Pidana Perdagangan Orang. Kalau manusia diperdagangkan apakah kemanusiaan itu tidak terluka? Luka parah. Sangat jelas, perdagangan bayi sangat melukai martabat manusia,” ungkapnya.

Kardinal Suharyo juga menyinggung, rasa tidak atau kurang hormat terhadap martabat manusia itu juga tampak di dalam struktur sosial yang tidak adil. “Di dalam budaya tertentu misalnya, perempuan tidak disetarakan dengan laki-laki. Yang laki-laki dapat warisan, yang perempuan tidak. Bukankah itu luka kemanusiaan? Di dalam kebudayaan, saya orang Jawa, dan terlahir di dalam budaya Jawa yang feodal. Untuk mempertahankan feodalisme diciptakanlah bahasa Jawa dengan 3 lapis itu. Ada krama inggil, krama madya, ngoko,” katanya.

Tahun 2023, KAJ mengajak umat untuk mendalami tema kedua dari ajaran sosial Gereja yakni, tanggung jawab untuk mewujudkan kebaikan bersama. “Itu cita-cita dari seluruh umat manusia. Kebaikan bersama. Itu pula yang terumus misalnya di dalam Pancasila, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Seluruh rakyat Indonesia. Dalam salah satu ayatnya saudara-saudara kita yang terlantar menjadi tanggung jawab negara. Betul apa ndak itu? Silakan menjawab menurut pengamatan masing-masing. Rupa-rupanya masih sangat jauh. Jadi, ajaran sosial Gereja ke gereja, yaitu kebaikan bersama itu pun terluka. Ada yang mempunyai akses yang seluas-luasnya untuk pendidikan. Ada yang karena tidak mempunyai KTP. Ada yang karena tidak mempunyai kartu keluarga tidak bisa sekolah, bahkan di sekolah dasar.  Ndak bisa. Apakah itu cermin dari kebaikan bersama?” katanya.

Tahun 2024, KAJ mengajak umat mendalami tema  solidaritas dan subsidiaritas. Dalam kesempatan itu, Kardinal Suharyo mengajak peserta untuk mengritisi frasa Fratelli Tutti, salah satu ensiklik Paus Fransiskus. “Semua adalah saudara, sesama saudara. Betul demikian? Rasa-rasanya tidak. Seandainya solidaritas internasional itu terwujud, maka tidak akan ada istilah negara kuat, negara lemah. Dunia bagian utara, dunia bagian selatan. Tidak ada. Negara kaya, negara miskin tidak ada kalau solidaritas itu sesuai dengan yang diharapkan di dalam ajaran sosial Gereja, sama Indonesia barat-Indonesia Timur,” katanya.

Tahun 2025 KAJ mengajak umat untuk mendalami tema kepedulian lebih pada yang lemah dan miskin. Menurutnya, seperti apapun solidaritas itu diperjuangkan, di manapun, di dunia ini “selalu ada saudari-saudara kita yang kalah di dalam persaingan, perjuangan hidup ini”. “Maka, temanya adalah memberi perhatian lebih kepada saudari-saudara kita yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Saya sengaja merumuskan kalimatnya seperti itu “memberi perhatian lebih kepada saudari-saudara kita yang kecil, lemah, miskin, tersingkir”. Di dalam doa-doa biasanya rumusannya nggak seperti itu. Marilah kita berdoa untuk mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir. Beda apa nggak itu? Kalau kita menyebut mereka yang lemah, kecil, miskin, dan tersingkir, mereka itu ya itu, bukan saya. Saya tidak menghormati mereka. Tetapi kalau saya menggunakan kata marilah kita perhatikan saudari-saudara kita, saudari-saudara kita yang kurang beruntung, berbeda sekali nuansa kalimat itu rasa bahasa saya. Dalam kalimat yang berbeda itu kita ungkapkan rasa hormat terhadap martabat saudari-saudara kita yang kurang beruntung,” katanya.

Tahun 2026, KAJ mengajak umat untuk mendalami tema keutuhan alam ciptaan. “Dan sekarang kita tahun kelima ingin mempelajari tanggung jawab kita untuk merawat bumi. Dengan demikian ajaran sosial Gereja itu selama 5 tahun kita dalami dan kita cari jalan untuk mewujudkan ajaran-ajaran-Nya, tidak terpisah satu dengan yang lain. Kesadaran akan tanggung jawab ekologi adalah puncak dari usaha kita untuk memahami dan mewujudkan ajaran sosial Gereja. Jadi, bukan sekadar tahun ini, ini, tahun itu, itu, nggak. Tetapi kalau disambung-sambungkan, akhirnya hormat kita terhadap martabat manusia itu berujung pada tanggung jawab kita untuk merawat dan menjadikan bumi ini rumah kita bersama,” katanya menjelaskan bahwa tema-tema ajaran sosial Gereja yang ditawarkan KAJ adalah satu kesatuan utuh dan terkait satu dengan yang  lain.

Keutuhan Alam Ciptaan

Secara khusus, dalam kesempatan itu, Kardinal Suharyo menjelaskan alasan tahun kelima Arah Dasar KAJ mendalami tema Keutuhan Alam Ciptaan sebagai puncak dan muara Arah Dasar KAJ 2022-2026. “Kita sadari bersama-sama dari pengalaman yang sangat nyata bahwa yang sekarang ini yang kita hadapi adalah krisis ekologi,” katanya. Jakarta mengalami polusi udara. “Gejalanya mudah sekali, pilek, batuk-batuk, bersin. Dan ndak usah pakai analisa sosial, ilmu apapun. Jelas sekali,” katanya.

Jakarta juga mengalami polusi air. “Sehingga yang dulu, zaman dulu orang bisa minum dari air sumur, sekarang takut minum dari air sumur. Jangan-jangan zat besinya dan sebagainya. Jelas sekali,” katanya.  Laut juga mengalami polusi yang parah. Kardinal Suharyo juga menyampaikan adanya perubahan iklim. “Mudah sekali kita rasakan perubahan iklim,” katanya. Demikian pula ia menyampaikan terjadinya penurunan tanah di Jakarta sehingga mudah terjadi banjir.

Dalam kesempatan itu, Kardinal juga menyoroti masalah tambang yang diributkan di Indonesia. “Maka, ini menjadi masalah, bukan hanya masalah ekologi, tetapi juga menjadi masalah ekonomi, menjadi masalah moral, berkaitan dengan tambang. Berkali-kali dikatakan ketika ada tawaran tambang dari pemerintah kepada lembaga agama, Konferensi Waligereja Indonesia langsung tidak pikir, tidak rapat, tidak menerima. Ini masalah moral. Tanggung jawab moral yang mesti diemban dengan tekun, dengan apa namanya, dengan setia,” katanya.

Ia juga menyinggung tentang Sawit yang di satu sisi disebut pohon. Namun di sisi lain, para ahli mengatakan bahwa Sawit bukan pohon dengan berbagai penjelasan ilmiahnya. “Kenapa Bapak Presiden mengatakan Sawit itu pohon? Karena beliau sedang berbicara mengenai tebang hutan ganti Sawit. Sehingga nanti kalau dikritik oleh para pejuang lingkungan hidup, dia mengatakan loh Sawit kan pohon,” katanya. Ia mengatakan bahwa di balik masalah krisis ekologi itu ada masalah macam-macam termasuk politik.

Kardinal juga menyoroti ajaran Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’. “Paus Fransiskus berbicara di dalam dokumen ini mengenai sumber dari krisis ekologi alam atau bumi,” katanya. Ada  dua alasan. Yang pertama, adalah teknologi dengan segala macam aplikasinya. “Teknologi, kita semua tahu pada dasarnya netral, sangat berguna bagi umat manusia, memberikan kemudahan, memperlancar komunikasi dan sebagainya. Tetapi, karena pada dasarnya netral, bisa digunakan seturut kemauan manusia. Ya, kalau kemauannya baik, seimbang, dipertimbangkan secara moral dan etis, akan memajukan kesejahteraan umat manusia seluruhnya, bukan sebagian,” katanya.

Misalnya, teknologi mesin. “Mesin itu sangat berguna, menjadi salah satu indikator kemajuan budaya manusia. Tetapi, kalau mesin itu digunakan untuk efisiensi saja, untuk menghasilkan produksi yang sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya bisa menjadi malapetaka bagi kemanusiaan. Misalnya, efisiensi. Dulu pekerjaan yang dikerjakan oleh manusia 50 orang. Karena efisiensi sekarang bisa dikerjakan 2 orang. Lalu yang keempat puluh delapan dikemanakan? Itu efisiensi. Dulu dengan mesin tertentu satu jam hanya dapat menebang pohon 5, misalnya. Sekarang dengan teknologi yang baru, 1000 pohon bisa ditebang dalam satu jam. Akibatnya apa untuk keutuhan alam ciptaan ini? Itu teknologi. Salah satu akar dari krisis ekologi adalah teknologi yang digunakan tanpa pertimbangan moral, tanpa pertimbangan etis. Teknologi mengabdi kepada kemanusiaan. Tetapi kemajuan teknologi dapat membuat kemanusiaan itu semakin terluka,” ungkapnya.

Kardinal Suharyo pun berkisah, dalam suatu rapat membicarakan satu lembaga yang terlalu banyak karyawan. Dalam diskusi akan dilakukan pengurangan karyawan. “Entah bagaimana waktu itu karena saya pastor, saya mengatakan, hati-hati mem-PHK karyawan, karena lembaga kita juga mempunyai fungsi sosial. Moga-moga saya tidak salah. Kalau menurut peraturan atau cara berpikir perusahaan pasti saya salah. Tetapi saya hanya mengatakan, hati-hati. Hati-hati itu kan tidak harus, tidak melakukan apa-apa, hanya hati-hati. Di balik kata hati-hati itu silakan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan moral,” kata Kardinal Suharyo.

Yang kedua, adalah pertimbangan ideologi. “Pertimbangan ideologi. Istilah yang dipakai ideologi antroposentrisme. Jadi, manusia menjadi pusat dari segala-galanya,” katanya. Bisa jadi hanya Kejadian 1:28 yang diperhatikan, tanpa memperhatikan Kejadian 2:15, hanya menguasai dan menundukkan bumi. “Hanya itu saja yang dibaca. Karena apa? Karena segala sesuatu mestinya diperuntukkan oleh manusia. Kalau manusia membutuhkan apapun, yang dilakukan tanpa memperhatikan alam ciptaan yang lain, yang hidup maupun yang tidak hidup,” katanya. Bahkan, menurutnya, jika mendasarkan pada antroposentrisme, makhluk yang mati seperti  air, udara, boleh diapa-apakan kalau manusia menghendaki. “Termasuk Allah yang semestinya menjadi pusat dari seluruh perjalanan umat manusia dan alam semesta ini, semuanya dipusatkan perhatiannya pada manusia. Kalau tidak digunakan oleh manusia ya dibuang, termasuk angkatan kerja. Kalau tidak dibutuhkan lagi, buang. Karena apa? Karena kepentingan manusia. Itu yang menjadi manusia tertentu, tentu saja yang tidak ada manusia pada umumnya. Makhluk lain dianggap tidak mempunyai tujuan untuk dirinya sendiri. Semuanya untuk manusia. Itu akar dari masalah ekologi alam, menurut Paus Fransiskus,” kata Kardinal.

Lebih lanjut Kardinal Suharyo mengajak peserta untuk mengamati realitas, membaca realitas dalam terang iman dan melakukan tindakan nyata.

Mengamati dan menganalisa realitas dengan disiplin ilmu

Kardinal Suharyo lebih lanjut mengajak peserta untuk mengamati dan menganalisa keadaan termasuk yang positif (baik) maupun hal-hal yang bersifat krisis (negatif). Ia menyampaikan beberapa langkah untuk melakukannya.

Pertama, membaca realitas dengan segala macam ilmu yang tersedia: ilmu sosial, ilmu politik, ilmu ekonomi dan sebagainya. Hal itu, menurutnya, juga dilakukan oleh Paus Fransiskus. “Nah, kalau keadaannya sudah tergambarkan, pertanyaannya adalah bagaimana iman kita atau kita sebagai orang beriman membaca realitas itu. Moga-moga langkahnya jelas. Kalau saya membaca realitas dengan kaca mata politik, jadinya ya politicking, main-main dengan politik. Kalau saya membaca realitas dari segi ekonomi ya hanya segi ekonomi itu yang muncul. Sekarang kita sebagai umat kristiani, umat Katolik, membaca realitas seperti itu kita sampai ke mana, diajak bagaimana, supaya kita bisa mengambil sikap. Jadi, nanti bagian berikutnya sesudah realitasnya begitu, kacamata yang kita pasang adalah kacamata Katolik,” katanya.

Membaca realitas dengan kacamata iman

Menurutnya, sebagai orang kristiani, kita membacanya dari kacamata sabda Tuhan. Ia mengingatkan peserta supaya membaca Kitab Kejadian 1:28 bersama-sama dengan Kejadian 2:15. “Karena orang kristiani, oleh para penggiat ekologi, dianggap orang-orang yang paling bertanggungjawab terhadap kerusakan alam. Justru karena kitab sucinya menyebutkan untuk menguasai alam. Merasa ya kaitannya? Umat kristiani dituduh dalam jangka waktu lama sebagai lembaga gereja-gereja ini yang paling bertanggung jawab terhadap kerusakan bumi karena kitab sucinya berbunyi seperti itu, menguasai alam, tanpa membaca Kitab Kejadian 2:15 yang memberikan perintah kepada kita untuk, untuk apa, untuk memelihara alam,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan, bahwa bumi bagi orang kristiani mesti menjadi media untuk sampai kepada Allah, untuk melihat kemuliaan Allah di dalam alam ini. Ia pun mengutip Mazmur 104: 14, “Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia yang mengeluarkan makanan dari dalam tanah dan anggur yang menyukakan hati manusia”. Masih dalam kitab yang sama, ia melanjutkan ke ayat 19, “Engkau yang telah membuat bulan menjadi penentu waktu”. Kemudian berlanjut ke ayat 31, “Biarlah kemuliaan Tuhan tetap untuk selama-lamanya.” “Ini orang, pendoa Mazmur yang membaca realitas alam ini tidak dengan kacamata ekonomi, tidak dengan kacamata politik, tetapi dengan kacamata iman. Dan lebih spesifik lagi dengan kacamata, dengan mata kontemplatif,” ungkapnya.

Menurutnya, mata kontemplatif adalah mata yang mampu melihat lebih jauh daripada yang tampak. “Mata kontemplatif adalah mata yang dapat melihat lebih jauh daripada yang tampak. Saya tidak mengatakan mata yang mampu melihat yang tidak tampak. Ndak. Beda. Itu dukun namanya. Bukan mata kontemplatif,” katanya.  Untuk menjelaskan hal itu, ia pun menyampaikan cerita. Ini kisahnya.

Pada suatu hari ada seorang pemahat yang sedang bekerja di studionya. Ia sedang menatah sebongkah batu yang besar. Tak berbentuk batu itu. Datanglah seorang anak yang ingin tahu apa yang dikerjakan oleh pemahat itu. Dia mendekat kepada pemahat itu, ingin tahu. Tapi dia tidak tahan karena serpihan dan pecahan dari batu itu mengenai dia, kulitnya, badannya, hingga terasa perih, maka dia pergi. Beberapa bulan kemudian, anak itu datang kembali ke studio pahat itu. Dan dia melihat di tempat dia dulu melihat sebongkah batu tak berbentuk itu ada patung singa. Lalu, anak itu bertanya, “Bapak, bagaimana mungkin Bapak melihat ada singa di dalam bongkahan batu itu?”

Seniman pahat itu, menurutnya, bisa membayangkan di balik sebongkah batu itu ada singa.  “Sementara anak itu, ndak mau sakit-sakit kaya gitu-gitu ya ndak bisa melihat bahwa di dalamnya ada singa. Itulah kehebatan seorang kontemplatif. Dan salah satu kontemplatif itu pasti adalah seniman. Seniman itu biasanya orang yang kontemplatif,” katanya.

Ia pun memberi contoh salah satu petikan lirik lagu ciptaan Ebiet G. Ade, “… mengapa di tanahku terjadi bencana?” Ebiet menjawab sendiri dengan berbagai kemungkinan hingga dia mengajak bertanya “coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang”. “Bagi orang yang tidak punya mata kontemplatif, rumput itu adalah makanan kambing. Itu saja. Tetapi bagi seorang kontemplatif, dia melihat di balik rumput yang bergoyang itu ada sesuatu yang bisa dilihat oleh sang seniman itu,” katanya.

Kardinal Suharyo menekankan, di balik rumput itu ada siapa, bukan apa. “Ada yang menciptakan angin. Ada yang menciptakan rumput. Dan itu sama kalau kita bicara mengenai orang. Kalau kita melihat orang itu kan ini, pangkatnya apa, ini golongan gajinya apa, dan sebagainya. Yang dilihat adalah yang kelihatan itu. Padahal kalau kita omong tentang manusia, persona, person, pribadi, itu kita bisa melihat di balik siapapun itu ada yang di baliknya. Persona itu dalam bahasa Latin artinya sonus, artinya suara, gema. Per itu yang lewat,” katanya. Dengan demikian, menurutnya, di balik yang kelihatan manusia itu ada Allah yang menciptakan manusia menurut citra-Nya.

Demikian halnya dengan waktu. “Kalau membaca Injil Yohanes itu ada kata saat. Saat itu tidak sama dengan waktu. Kalau di dalam bahasa asli, waktu yang biasa ini, jam 1, jam 2, jam 3, jam 4 itu kronos. Maka, muncul kata kronologi, urut-urutan. Hanya urut-urutan saja,” katanya. Namun, menurutnya, saat dalam injil Yohanes, berarti kairos, kesempatan. “Setiap saat adalah kesempatan untuk berjumpa dengan Tuhan. Beda sekali. Kalau kita omong tentang waktu, saya dikejar-kejar waktu, dikejar waktu harus selesai pekerjaannya  dan sebagainya, membuat orang cemas. Tetapi kalau kita bicara tentang saat, itu tidak mencemaskan, tetapi memberi peluang, kesempatan untuk berjumpa dengan Tuhan,” katanya.

Ia pun menjelaskan tentang manusia yang diciptakan menurut citra Allah dari Kitab Kejadian. “Kalau kita melanjutkan kisah penciptaan Kejadian bab 1 sampai dengan bab 2, disusul bab 3, itu adalah kisah tentang jatuhnya manusia pertama. Kitab Kejadian bab 1 dan bab 2, salah satu yang sangat penting untuk diperhatikan, refren adalah, adalah baik. Sesudah Tuhan menciptakan ini “baik adanya”.  Sesudah ini “baik adanya”. Sesudah menciptakan manusia, “amat baik adanya”. Pada hari ke-7 berhenti,” katanya.

Ia menjelaskan tentang kejatuhan atau dosa manusia pertama. Menurutnya, banyak yang berhenti pada simpulan kejatuhan manusia disebabkan oleh ular yang menggoda perempuan. Namun, Kardinal Suharyo mengajak peserta melihat lebih dalam pada Kejadian 3:4-5, “Tetapi ular itu berkata pada perempuan itu: “Sekali-sekali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui bahwa pada waktu kamu memakannya, matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah…”

“Inilah dosa manusia yang pertama. Hakikatnya adalah makhluk, tetapi dia ingin menjadi seperti Allah. Sudah salah jatidiri, salah posisi. Seandainya ingin menjadi seperti Allah dalam kasih setia-Nya, oke. Masalahnya adalah ingin menjadi Allah hanya dalam hal kekuasaan-Nya. Ini salah yang sangat fatal,” katanya. Dosa-dosa berikutnya adalah Kain membunuh adiknya, Habel, disusul dengan kisah air bah dan menara Babel. “Orang-orang dari Babel itu kan mau membangun menara sampai mencapai langit, tempat Allah tinggal. Intinya sama dengan yang dikatakan ular tadi. Dengan membangun tangga itu, dengan secara simbolik dikatakan bahwa manusia ingin menjadi  seperti Allah. Inilah dosa fatal. Tetapi inilah intinya, nanti juga kita menarik kesimpulan iman dari situ. Ketika manusia sampai pada kejatuhan yang sangat fatal itu, manusia diceraiberaikan (Kejadian 11),” katanya.

Ia menyambung dengan sejarah karya penyelamatan yang dimulai dengan panggilan Abraham. “Yang bagian pertama itu adalah kisah penciptaan dan dosa pertama, manusia pertama, disusul dengan kisah panggilan Abraham yang adalah awal dari sejarah karya keselamatan Allah,” katanya. Karya keselamatan itu, menurutnya, sepanjang Kejadian 12 sampai Kitab Wahyu. “Dari Kejadian 12 sampai Kitab Wahyu itulah sejarah karya keselamatan Allah, karya keselamatan Allah yang tidak akan pernah gagal. Itulah yang dikatakan. Jadi kita ambil Kitab Kejadian, buku pertama, dan Kitab Suci yang terakhir, Kitab Wahyu 21, yang berceritera dalam penampakan, dalam bentuk penampakan,” katanya. Penulis Kitab Wahyu menulis dalam bab 21 ayat 1, “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru…”. Langit baru, bumi baru.

Kardinal Suharyo, melalui Wahyu  21:10, menyampaikan bahwa langit baru dan bumi baru itu turun dari surga, dari Allah. “Itu artinya karya keselamatan Allah tidak dibangun oleh manusia, tetapi adalah wujud dari janji Allah kepada Abraham. Itulah dasar harapan kita, Allah yang telah memulai karya yang baik, ketika di tengah-tengahnya tidak baik akan menyempurnakannya juga. Nah, atas dasar keyakinan itu, bahwa manusia yang berdosa karena karya keselamatan Allah diselamatkan melalui Kristus dengan pengantaraan Kristus. Maka, Kristus adalah kunci dari iman kita. Maksudnya apa? Itulah yang disebut di dalam surat kepada orang Efesus bab 1 ayat 10, dan atas dasar itu, Santo Paus Pius X ketika beliau menjadi Paus mempunyai semboyan dalam bahasa Latin Restorare Omnia in Christo, semuanya harus dikembalikan dalam Kristus, dikembalikan ke mana? Kitab Kejadian, menjadi semuanya baik,” katanya.

Semboyan pontifikat Paus Pius X itu, Restorare Omnia in Christo, menurutnya, juga menjadi tugas kita semua. Gereja diajak, diutus untuk memulihkan dunia, manusia yang berdosa ini dalam Kristus. Restorare Omnia in Christo.

Kardinal pun menunjukkan rumusan tersebut dalam Kitab Suci yakni dalam surat Paulus kepada jemaat di Efesus (Ef 1:10). Ia juga menyampaikan teks lain yang, menurutnya, sering dilupakan karena tidak dibaca dengan teliti yaitu Markus 16:15, “Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, (beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”” “Maksudnya bukan hanya manusia. Kepada segala makhluk. Caranya bagaimana memberitakan Injil kepada pohon, memberitakan Injil kepada kucing, caranya bagaimana? Itu pertanyaan yang bisa kita renungkan menurut keyakinan masing-masing.  Dengan demikian, menurutnya, penebusan Kristus mengembalikan relasi harmonis antara manusia dengan Allah, dengan sesama, dan dengan alam ciptaan, penebusan Restorare Omnia in Christo, mengembalikan semua menjadi baik adanya di dalam Kristus.

Melakukan Tindakan Nyata

Setelah membaca realitas dengan disiplin ilmu dan merenungkan dalam kacamata kekatolikan, Kardinal Suharyo mengajak peserta untuk melakukan tindakan konkret dalam konteks ekologi integral yang diajarkan Paus Fransiskus. Menurutnya, Paus Fransiskus memperluas wawasan mengenai ekologi, bukan hanya ekologi alam, tetapi ekologi integral. “Maksudnya apa? Karena manusia itu mempunyai peranan yang istimewa di dunia ini, ia mempunyai tanggung jawab, tidak hanya untuk merawat bumi sebagai rumah kita bersama, bukan hanya bumi yang harus dirawat. Tetapi ekologi integral itu. Maksudnya apa? Ekologi integral itu meliputi seluruh wilayah kemanusiaan hidup manusia,” ungkapnya.

Ia pun mengawalinya dengan ekologi ekonomi. “Sistem ekonomi itu kan banyak ya. Ada sistem sosialis, ada sistem kapitalis, ada macam-macam. Nah, kalau sistemnya kapitalis, misalnya, salah satu penjelasan yang paling mudah sekurang-kurangnya bagi saya, mengenai ekonomi kapitalis itu adalah yang kuat akan menang, persaingan bebas,” katanya. Demikian juga ekologi politik. Negara kuat bisa mengalahkan negara yang lemah.

Terkait dengan ekologi ekonomi, Kardinal menceritakan model ekonomi yang digagas pendiri Komunitas Focolare, Chiara Lubich. Begini kisahnya. Tahun 1991, Chiara Lubich mengunjungi Brazilia kemudian masuk ke kota yang paling canggih. Tetapi di balik gedung-gedung tinggi, itu dia melihat slum, wilayah kumuh. Lalu dia berucap kepada pengikutnya, adakah sistem ekonomi yang bisa menjembatani, bisa membuat perbedaan yang begitu mencolok itu semakin kecil, semakin tipis? Guru taman kanak-kanak tidak bisa berpikir tentang sistem ekonomi. Tapi dia hanya berucap, berharap, supaya komunitasnya dapat menciptakan sistem ekonomi yang tidak menyebabkan kesenjangan yang seperti ini. Setelah dipikir sekian waktu, muncullah yang mereka sebut dalam komunitas Focolare, economy of communion, economy of sharing.

Menurut Kardinal, dengan disemangati iman, Chiara Lubich menciptakan ekologi ekonomi yang sejahtera. Sistemnya, menurutnya, sederhananya begini. “Kalau satu perusahaan mempunyai keuntungan, sepertiga langsung disumbangkan kepada saudari-saudara kita yang membutuhkan. Langsung. Sepertiga lain digunakan untuk formasi, supaya semakin banyak pribadi-pribadi yang mempunyai watak berbagi. Hanya sepertiga yang untuk mengembangkan perusahaan,” katanya. Hal itu paling banyak ada di Filipina, pusat dari gerakan Focolare di Asia. “Sekarang diikuti oleh sekitar 300 sekian perusahaan di antara komunitas ini. Ini tentu langkah yang boleh dikatakan gila. Yang ingin dikatakan adalah kerusakan bumi ini tidak bisa dilepaskan dari sistem-sistem yang membentuk ekologi integral itu. Itu pesannya. Dalam politik begitu, dan budaya begitu. Kalau budayanya tidak ikut bermain di dalam menciptakan ekologi integral ya dunia akan tetap seperti ini,” katanya. Ini merupakan salah satu pertobatan ekologis itu yang bisa dilakukan.

Ia menyampaikan pada tahun ini KAJ secara khusus memberi perhatian pada permasalahan ekologi. Terlebih tahun ini bersamaan dengan Yubileum Fransiskus Assisi memperingati 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus Assisi. Terkait dengan itu, menurutnya, gereja-gereja di KAJ “dipersilakan membuat suatu sudut, pasti tidak sama dengan porta sancta waktu itu, bagi umat untuk belajar mengenai Fransiskus Assisi.”

Kardinal Suharyo juga menyampaikan Santo Fransiskus Assisi adalah sosok penting bagi Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’. “Paus Fransiskus menyebut begini mengenai Fransiskus Assisi, ia adalah seorang mistikus dan peziarah dengan hidup sederhana dan dalam harmoni dengan Allah, dengan orang lain, dengan alam dan dengan dirinya sendiri. Itu sosok Fransiskus Assisi yang ditampilkan oleh Paus Fransiskus,” kata Kardinal Suharyo.

Menurutnya, Paus Fransiskus juga ingin mengatakan ketika  terpilih sebagai Paus memilih nama Fransiskus. Waktu itu menjadi pertanyaan ketika  Jorge Bergoglio yang adalah seorang Jesuit memilih nama Fransiskus merujuk ke Santo Fransiskus Xaverius atau Santo Fransiskus Assisi. “Jelas jawabannya ada di dalam pilihan-pilihan Paus Fransiskus yang memang ingin meneladan Fransiskus Assisi, khususnya di dalam dua dokumen yang tadi sudah disebut oleh Romo Edy, satu Laudato Si’, satu Fratelli Tutti. Alam dan Persaudaraan,” katanya. Paus Fransiskus dikenal sebagai sosok sederhana. Kardinal Suharyo kagum ketika Paus Fransiskus ke Indonesia dengan penampilan yang sederhana. Kesederhanaan lebih lanjut bisa menyangkut ke pertobatan ekologis.

“Jadi, pertobatan ekologis itu dasarnya, nanti wujudnya bisa macam-macam, tapi dasarnya adalah perubahan gaya hidup. Misalnya, gaya hidup zaman kita ini, gaya hidupnya konsumerisme. Rumusannya adalah saya berbelanja, maka saya ada. Jatidiri seseorang ditentukan oleh belanjaanya mereknya apa. Kalau mereknya buatan Tangerang itu kurang bergengsi. Baru kalau mereknya itu buatan Paris nah, padahal yang di Paris itu juga buatan Tangerang, hanya diganti labelnya saja. Konsumerisme seperti itu. Gaya hidup. Nah, gaya hidup sederhana yang ditunjukkan oleh Paus Fransiskus itu rupanya pada waktu itu ya pengaruhnya besar bagi kita semua. Misalnya, presiden yang waktu itu biasanya menggunakan Mercedes dengan mobil antipeluru, ketika menyambut Paus Fransiskus, yang dinaiki Presiden itu Kijang, sama dengan yang dinaiki oleh Paus Fransiskus, menyesuaikan. Jam tangan yang digunakan oleh para entahlah siapa, itu pada diganti dengan jam yang seperti Paus punya, karena Paus punya harganya 100 ribu. Sementara jam-jam yang lain itu harganya jutaan, milyar dan sebagainya,” ungkapnya.

Kardinal Suharyo pun menyampaikan ilustrasi mengenai hidup sederhana yang bisa diterapkan zaman sekarang. Sekarang ada bangunan-bangunan minimalis, termasuk juga ruangannya. “Dan rupa-rupanya, ini menjadi istilah yang bisa digunakan secara luas, untuk mengembangkan yang namanya hidup sederhana. Rumah minimalis itu isinya lengkap. Semua ada, yang perlu-perlu untuk kehidupan, entah keluarga, entah siapa. Semuanya ada. Jadi bukan rumah kumuh, bukan. Istilahnya minimalis. Tetapi nah, ini, tidak terlalu banyak ornamen yang tidak perlu untuk hidup damai, hidup cukup, ndak perlu. Jadi, misalnya, rumah, nggak perlu kan ada kolam renangnya empat,” katanya. Istilah dalam arsitektur yakni gedung atau rumah minimalis itu dapat menjadi model hidup sebagai buah dari pertobatan ekologis.

Kardinal juga menegaskan tentang makna cukup. Salah satunya dalam hal makan. “Jadi, kalau makan satu piring cukup, ya tidak usah pesan tiga piring. Nanti, akhirnya yang dua itu kan dibuang menjadi sampah makanan. Istilah yang semakin populer dipakai sekarang dalam bahasa Inggris, saya juga tidak paham maksudnya itu apa, rumusannya adalah less is more, kurang itu artinya lebih. Nanti dipikirkan, apa maksudnya itu kurang adalah lebih. Jadi, kalau kita mengatakan cukup, itu artinya kita sudah memasukkan makna hidup itu, tidak terletak pada hidup yang berlebih-lebihan. Itu maksudnya. Tetapi, hidup yang bermartabat, tidak berlebih-lebihan, dan bertumbuh di dalam solidaritas yang semakin nyata. Itulah yang kita rumuskan beberapa tahun yang lalu, semakin beriman, semakin peduli, semakin berbagi,” katanya.

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *