Hawa udara mulai hangat. Dalam keheningan dan hembusan udara segar, para peserta berjalan pelan tanpa alas kaki di sekitar Gereja Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi, Minggu, 8 Maret 2026. Ada yang berjalan ke halaman depan gereja. Ada yang ke samping gereja. Ada pula yang memilih berjalan ke belakang gereja. Fasilitator kegiatan Romo Basilius Edy Wiyanto, Pr sebelumnya menyampaikan, dalam acara Tapa Ngrame Sedulur Alam itu, mereka diajak untuk hening dan mendengarkan sapaan alam. Mereka diajak untuk menemukan yang pernah disapa secara khusus. Kalaupun belum pernah menyapa secara khusus, peserta diajak untuk menemukan pengalaman perjumpaan dengan ciptaan yang paling menggetarkan.
“Karena tapa ngramé ini bersama sedulur alam, rasakan sapaan alam sekitar kita. Boleh tumbuhan, boleh lantai, boleh bangunan yang ada di sini. Nanti setelah jalan ke depan kembali ke sini. Temukan entah bagian, entah tumbuhan, yang pernah saya sapa secara khusus,” kata Romo Edy mengajak peserta mungkin di antaranya ada yang pernah menyapa secara khusus misalnya dengan merawat atau membersihkan.
Usai berjalan bersama dan menemukan pengalaman perjumpaan dengan alam, para peserta yang dibagi dalam 10 kelompok pun berbagi pengalamannya dalam sharing 3 putaran. Masing-masing berbagi peristiwa atau perjumpaan yang menggetarkan dan menggerakkannya. Lalu masing-masing peserta diajak untuk memilih atau mengapresiasi sharing sahabat kelompoknya yang paling menyentuh dan menggerakkan hatinya. Yang terakhir, para peserta diajak untuk merumuskan dalam kata, frasa atau kalimat yang paling dominan mewarnai kelompok itu, bisa berupa ketertarikan, keprihatinan atau apapun yang menggerakkan.
Dalam sharing itu muncul keprihatinan misalnya sampah plastik yang belum terkelola dengan baik. Selain itu, di antara peserta juga muncul ketergerakkan hati untuk terlibat dalam merawat ciptaan.
Dalam kesempatan itu, Romo Edy memberikan peneguhan bahwa kita semua dipanggil untuk melakukan pertobatan ekologis. “Bumi ini menjerit karena rusak. Ironisnya, rusaknya bumi itu karena saudaranya sendiri yaitu manusia. Maka, sebenarnya ketika bumi menjerit ini sebenarnya manusia yang perlu berbela rasa. Ini yang menjadi gerakannya. Maka, di sana perlu ada pertobatan ekologis,” kata Romo Edy.
Romo Edy menegaskan, hal yang mendasar, yang perlu kita hayati dan kita terima, alam itu adalah saudara, sedulurku. “Bukan alam itu buruhku. Alam bukan tempat saya menjadikan saya besar dan mereka harus saya lenyapkan, bukan. Maka, pujian pada Tuhan itu memang akhirnya keseluruhan ekologis itu, ekosistem ini secara keseluruhan diajak menjadi pujian pada Tuhan,” katanya.
Maka, pertobatan ekologis adalah ajakan bagi kita. “Yang utama dari pertobatan ekologi itu adalah penghormatan akan hidup. Sing urip kuwi ora gur awake dewe. Ning yo tanduran, yo kewan,” katanya. Itu yang kemudian, menurutnya, menjadi upaya dan kesadaran tentang berkelanjutan dalam hidup.
Lebih lanjut, Romo Edy mengajak peserta untuk merawat alam, salah satunya dengan merawat dan mengoptimalkan lahan yang ada. “Tolong di lingkunganmu silakan dilihat, lahan yang kosong itu ada nggak. Yang dilihat lahan kosong itu bukan hanya nduwe sawah ora digarap. Bagi saya di sekitar rumah, halaman, 4×5 (meter) ora ana apa-apa, kuwi ora digarap,” katanya. Hal itu disampaikannya mengingat, di lahan yang hanya 2 meter kali 90 cm pun masih bisa untuk memelihara ayam. “Maka, ini saya sharingkan pada yang rawuh di sini, mari kita dengan semangat asung pitulungan itu bisa kok ke lingkungan kita. Silakan dilihat ada nggak lahan sing nganggur ora diopeni?” katanya memberi tantangan.
Ia mengajak peserta untuk memetakan (mapping) lingkungan teritori. “Mungkin ada tanah yang nganggur. Kalau menjadi gerakan dengan pertobatan ekologis dan menjadi pujian pada Tuhan, ini menurut saya menarik. Spiritnya adalah Laudato Si,” katanya. Ini bisa menjadi sinergi antara Bidang Kemasyarakatan, Tim Pelayanan Pengembangan Sosial Ekonomi, maupun Tim Pelayanan Keutuhan Ciptaan dan Lingkungan Hidup (KCLH) paroki.
“Bisa kok paroki kita pakai dana sosial. Apalagi ini APP ngomong dana sosial ya. Kita bisa menggerakkan ke sana kok. Semangat pertobatan ini tidak hanya satu, tetapi menyeluruh. Ini ngopeni tanduran karo kewan. Berarti lebih dari satu ya. Ini mereka kita openi ning yo ngrejekeni,” katanya.
Dalam kesempatan Yubileum memperingati 800 tahun Santo Fransiskus Assisi wafat, Romo Edy juga mengajak peserta untuk meneladan semangat Santo Fransiskus Assisi yang juga dihayati Paus Fransiskus dan dituliskan dalam ensiklik Laudato Si’. “Yubileum itu memang secara rohani itu memberi berkat indulgensi. Tetapi menurut saya, ini menjadi cara kita menghayati apa yang menjadi seruan teladan Fransiskus Assisi bagi Gereja Katolik, bagaimana mempunyai kedekatan dengan Tuhan, mempunyai kesederhanaan, kerendahan hati, dan menjadi pembawa damai di keluarga, lingkungan dan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Koordinator Tim KCLH, Lukas Awi Tristanto mengatakan, selain sebagai media pembelajaran bersama tentang spiritualitas ekologis dalam semangat ensiklik Laudato Si’, kegiatan tersebut diharapkan menjadi masukan cara berkegiatan di gereja yang lebih ramah lingkungan. Maka, peserta yang diundang adalah perwakilan dari lingkungan teritori, perwakilan paguyuban, perwakilan yayasan pendidikan di sekitar paroki, perwakilan tarekat hidup bhakti di sekitar paroki, perwakilan Tim Pelayanan, dan Ketua-ketua Bidang.
