Romo Irtikandik Darmawanto, OCarm sedang mendapat tugas belajar di Washington DC, Amerika Serikat, ketika Ensiklik Laudato Si’ dirilis pada tahun 2015. Tak berapa lama, ia mendapat informasi bahwa ensiklik tersebut banyak dibaca, dibeli dan disebutkan dalam perbincangan oleh umat di sana.
“Ensiklik yang paling banyak dibaca, paling banyak dibeli umat awam dan pada waktu itu yang paling banyak disebutkan,” kata imam yang biasa disapa Romo Andik dalam Webinar Musim Penciptaan 2025: “10 Tahun Ensiklik Laudato Si Menjadi Cahaya Harapan Bagi Bumi”, 23 September 2025.
Ia mengaku, sebelumnya sebagai seorang imam religius atau biarawan sangat jarang membaca ensiklik-ensiklik secara lengkap. Namun pada 2015, ketika ia studi mengalami atmosfer akademik yang begitu kuat terkait ensiklik Laudato Si’. “Jadi dalam percakapan, terus dalam kelas ya ketika dosen mengajar itu kok seringkali, mata kuliah apapun disebutkan. Ini yang membuat saya penasaran dan kemudian mungkin boleh saya katakan bahwa ini adalah ensiklik pertama yang saya langsung baca dari awal sampai akhir,” kata imam yang ditahbiskan pada tahun 2008 itu.
Ia mendapatkan ensiklik itu dengan mengunduh dari situs vatican.va yang versi bahasa Inggris.
Sejak itu, ensiklik dari Paus Fransiskus ini menjadi bahan-bahan diskusi dan percakapan sehari-hari di lingkungannya. Banyak orang yang memberi komentar akan ensiklik tersebut. “Kita tahu bahasanya Paus Fransiskus itu bahasa yang sangat mudah dimengerti, bahkan oleh orang awam, katakanlah demikian ya, tidak terlalu banyak istilah-istilah teologis yang terlalu tinggi,” katanya.
Selain menjadi bahan perbincangan akademik di kampus dan ruang-ruang kuliahnya, Romo Andik yang kebetulan juga tinggal di komunitas formasio mendapat suasana yang sama. Ensiklik Laudato Si’ juga menjadi bahan pembicaraan di rumah dan di dalam rapat komunitas. Boleh dikatakan Ensiklik Laudato Si’ seakan menelusup ke berbagai ruang sosial. Setelah membaca ensiklik tersebut, banyak inspirasi dan bahan yang bisa diambil sebagai langkah konkret bagi komunitas-komunitas di lingkungan Romo Andik.
Meski banyak individu maupun komunitas terinspirasi ensiklik Laudato Si’ untuk melakukan langkah-langkah praktis, namun menurutnya, banyak yang terkendala pada konsistensi. Bersemangat pada waktu awal, namun patah di tengah jalan. Di sinilah Romo Andik menggarisbawahi pentingnya menggali spiritualitas ekologis di dalamnya secara lebih dalam.
“Seringkali kita membuat program-program yang sementara, itu saya katakan demikian, sehingga kemudian ya kita tidak konsisten. Padahal ketika saya membaca, melihat dan dari banyak pembahasan tentang Laudato Si’, Laudato Si’ itu soal spiritualitas. Bagaimana itu sungguh-sungguh diintegrasikan di dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Maka, ketika kemudian ia mendapat tugas sebagai formator di rumah studi para frater Karmel di Biara Karmel Santo Titus, ia membawa semangat Laudato Si’ dalam formasionya. Ia memandang Ensiklik Laudato Si’ sebagai sarana, alat dan undangan bagi calon-calon biarawan untuk kembali kepada esensi hidup religius.
Ia menemukan salah satu esensi hidup religius dalam ensiklik Laudato Si’ yakni hidup sederhana. “Salah satu yang ditekankan di dalam Laudato Si’ adalah tentang hidup sederhana,” katanya. Hal itu bisa diterapkan misalnya dalam menghemat air, menghemat listrik maupun penghematan lainnya. Menurutnya, kesederhanaan dalam Ensiklik Laudato Si’ selaras dengan kaul kemiskinan yang dihidupi
para biarawan maupun biarawati. “Jadi itu justru sebuah undangan untuk kembali kepada bagaimana seharusnya hidup religius itu dijalani,” katanya.
Paus Fransiskus dalam Laudato Si’, menurutnya, juga menekankan soal keadilan ekologis dan keadilan sosial. “Itu ajakan bagi saya, sebuah sarana untuk mengajak para frater untuk kembali kepada esensi hidup religius itu dengan menyadari bahwa krisis ekologis yang terjadi berkaitan dengan krisis sosial,” ungkapnya.
Terkait keadilan sosial, Romo Andik menemukan, kepedulian kepada orang miskin yang mesti dihidupi. Ia terkesan Paus Fransiskus yang mengingatkan kita kalau membuang makanan, sebenarnya kita mencuri dari piring orang miskin.
Terkait dengan ini ia mengalami kejadian yang akhirnya menjadi tindakan praktis berbagi di rumah formasi. Suatu ketika frater melaporkan kalau beras di rumah formasi dimakan kutu. Waktu itu, Romo Andik sedikit marah dan mempertanyakan kok bisa sampai seperti itu, sedangkan di tempat lain masih banyak orang yang sulit untuk mencari makanan. Namun kemudian, ia mengajak para frater untuk berefleksi. Dari hasil refleksi itu ditemukan ternyata beras di biara terlalu banyak sehingga tidak segera bisa dimasak. Akibatnya, kutu yang lebih dulu memakan beras itu. Dari situasi itu supaya tidak kelebihan dan akibatnya dimakan kutu, beras itu pun dimasak dan dilengkapi dengan sayur dan lauk pauknya untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan seperti tukang becak atau pengemis. “Pokoknya setiap minggu secara rutin kami akhirnya melakukan itu,” katanya.
Baginya, hal itu adalah salah satu bentuk pertobatan ekologis yang mengajak para kaum religius untuk kembali pada esensi hidup religius. Namun konsekuensinya, ia dan para frater mesti melakukan hal yang lebih repot. “Kita mau bertobat artinya kita mau repot gitu. Maka sekarang kita mari sebagai seorang religius, kita itu masuk biara menjadi biarawan, menjadi biarawati mungkin itu bukan untuk mencari
kenyamanan. Justru kita mau harus mau repot gitu. Mau repotnya bagaimana? Ya kalau kita dulu buang sampah dicampur jadi satu, sekarang kita harus memilah-milah,” katanya.
Demikian pula misalnya, ketika di biara ada perhelatan, semua dilakukan dengan tanpa banyak membuang, memakai alat makan seperti piring dan gelas yang bisa dipakai ulang dengan mau repot mencucinya.
Hal itu juga menjadi pengingat bagi para frater yang dibimbingnya. “Itu mengingatkan, juga menjadi saran saya untuk mengingatkan para frater. Kamu masuk biara bukan untuk cari nyaman, tapi justru cari repot. Kalau kamu nggak mau repot, tempatmu bukan di sini. Ya, itu kasarnya seperti itu,” katanya.
Baginya, implikasi Laudato Si’ bukan hanya sekadar projek atau program yang sementara, namun terus dilakukan secara konsisten. Untuk melakukan hal itu, menurutnya, perlu ada spiritualitas ekologis yang mendasari seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Semangat Laudato Si’ juga diterapkan dalam Ordo Karmel tempatnya bergabung. Namun, menurutnya, dalam tataran praktis orang per orang, semua itu bergantung pada orang yang melakoninya. Meski para biarawan Karmel hidup dalam doa dan keheningan, namun dalam konteks lembaga, Ordo Karmel mempunyai semacam divisi Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC) yang juga bergerak dalam isu-isu lingkungan hidup selaras Ensiklik Laudato Si’.
Menurut Romo Andik, JPIC dalam Ordo Karmel lahir tahun 1970-an. Meski menghayati hidup doa dan keheningan, namun sebagai pengikut Nabi Elia, karmelit mesti terlibat dalam memperjuangkan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan.
“Elia itu justru orang yang sungguh-sungguh memperjuangkan keadilan dan perdamaian dan keutuhan ciptaan,” katanya.
Romo Andik juga mengatakan, dalam keluarga besar Karmel atau yang biasa disebut Familia Karmelitana juga memiliki gerakan bersama terkait JPIC dalam Carmelite NGO. Carmelite NGO memiliki status konsultatif dengan Dewan Ekonomi dan Sosial atau ECOSOC di PBB. Carmelite NGO juga memiliki afiliasi dengan lembaga-lembaga di PBB seperti United Nations Environment Program (UNEP) dan The United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).
Menurutnya, anggota Karmelit sering diundang untuk memberikan usulan dan pertimbangan di ranah tersebut.
Dalam tingkat ordo, Romo Andik juga mengatakan, biasanya setiap 12 tahun merevisi Pedoman Pembinaan Ratio Institutionis Vitae Carmelitanae (RIVC) atau Dasar Lembaga Hidup Karmel. Pedoman itu sebagai pembinaan atau formasio hidup Karmelit. “Salah satu yang kami usulkan dan akhirnya dimasukkan di dalam pedoman pembinaan itu adalah Laudato Si dan Laudate Deum,” katanya.
Dalam pedoman itu tersurat, hidup sesuai dengan nilai-nilai injili dalam konteks sekarang itu berarti harus juga memperjuangkan isu-isu sosial dan lingkungan hidup. Laudato Si dan Laudate Deum sebagai panggilan untuk mengikuti Yesus Kristus tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab ekologis. Terkait dengan kemiskinan injili harus direfleksikan dalam cara hidup sederhana dan menghargai ciptaan.
Demikian juga dalam hal ketaatan dan kemurnian hati harus diwujudnyatakan di dalam perhatian pada keadilan sosial dan dignity of every human being.
“Dalam arti itu artinya bahwa Laudato Si’ dan Laudate Deum bagi kami sudah menjadi salah satu pokok, arah di dalam ordo,” katanya.
Dalam salah satu kapital, Ordo juga memutuskan untuk melakukan penghutanan kembali pada lahan-lahan yang selama ini mangkrak.
Tahun 2018, Romo Andik pulang dari studi. Tahun 2019, ia dan beberapa romo mengajak para frater dan umat untuk melakukan kegiatan ziarah dengan jalan kaki yang kemudian diberi nama Napak Jero. “Tahun 2019 saya bersama beberapa Romo itu mengajak para frater dan umat. Dan itu menjadi kegiatan rutin kami tahunan yaitu kegiatan Napak Jero. Napak Jero itu terinspirasi dari Camino Santiago de Compostela. Jadi ya kami di Indonesia mengadakan 3 hari, 4 hari jalan kaki, retret, ziarah, dan retret jalan kaki di mana dari situ juga kami mengajak yang ikut itu untuk juga kembali ke alam. Menyadarkan kita kembali bahwa dengan berjalan kaki itu kita benar-benar lebih dekat dengan alam, lebih ramah kepada lingkungan,” katanya.
Dari semua itu, Romo Andik menggarisbawahi, Laudato Si’ dan Laudate Deum selalu berusaha dijadikan sebagai pedoman dan arah program kebijakan ordo baik provinsi maupun komunitas. “Tantangannya adalah konsistensi dan juga masih ada orang-orang tertentu yang tidak sungguh-sungguh melihat itu sebagai masalah,” katanya.
Terkait dengan panggilan religius dalam merawat alam, menurutnya, kaum religius bisa menjadi cahaya harapan. Selain berbicara dan ikut terlibat menjaga lingkungan maupun hutan sebagai paru-paru dunia, kaum religius, menurutnya, juga menjadi paru-paru rohani bagi dunia. “Itu yang diharapkan mungkin oleh umat dari doa kita. Ekaristi yang kita hayati sungguh-sungguh, adorasi kita. Saya kira itu yang utama, pertama: doa kita, ekaristi kita, adorasi kita. Itu yang menjadi kesaksian utama kita sebagai kaum religius,” katanya.
Yang kedua, gaya hidup sederhana yang mungkin juga dilihat umat menjadi kesaksian nyata bagaimana seorang religius melaksanakan semangat Laudato Si’. “Ya, hidup sederhana. Dan itu saya kira satu yang mungkin dilihat juga dari diri kita sebagai kaum religius, kesaksian hidup,” ungkapnya.
Yang ketiga, aksi nyata religius dengan terlibat kerja sama dengan umat bergerak dalam aksi-aksi nyata.
Namun yang terpenting, menurutnya, panggilan hidup kaum religius adalah menjadi paru-paru rohani bagi dunia dan mewujudnyatakannya dalam aksi-aksi nyata terhadap sesama dan lingkungan hidup kita.
