“Kepedulian Pada Alam Ciptaan”
(Disampaikan sebagai pengganti khotbah, pada
Perayaan Ekaristi Hari Sabtu/Minggu,14/15 Februari)
Para Ibu dan Bapak,
Suster, Bruder, Frater, Rama,
Kaum muda, Remaja dan Anak-anak yang terkasih dalam Kristus,
1. Pada Hari Rabu Abu, 18 Februari yang akan datang, kita akan memasuki masa Prapaskah, masa yang penuh rahmat, masa yang secara khusus disediakan oleh Gereja untuk membarui iman kita agar kita dapat semakin tekun dan setia menanggapi panggilan kita. Kita semua tahu bahwa semua murid Yesus, dalam status dan peran yang berbeda-beda mempunyai panggilan yang sama yaitu untuk bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Kristus, bertumbuh menuju kesempurnaan hidup Kristiani. Sabda Tuhan yang diwartakan pada hari Minggu ini dapat menjadi inspirasi.
2.1. Yesus bersabda, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 5:20). Sesudah pernyataan itu, menyusullah satu rangkaian tuntutan radikal supaya kehidupan keagamaan para murid dapat lebih benar, misalnya tidak hanya tidak boleh membunuh, tetapi tidak boleh marah; bukan hanya tidak boleh bersumpah palsu, tetapi tidak boleh bersumpah. Dengan cara itu Yesus mengajarkan prinsip-prinsip moral Kristiani yang mesti dihayati agar hidup sungguh menjadi bijaksana, berhikmat.
2.2. Hikmat itulah yang diberitakan oleh Rasul Paulus. Ia menulis, “Kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, bukan hikmat yang dari dunia ini … tetapi hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia yang sejak sebelum dunia dijadikan telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita” (1 Kor 2:6-7). Dengan kata lain, ketika kita hidup sebagai pribadi yang berhikmat, kita menjadi pribadi yang matang dan mulia.
2.3. Sementara itu, Kitab Putera Sirakh, menegaskan bahwa orang yang takwa – artinya pribadi yang berhikmat – tidak akan memilih kematian, melainkan hidup (bdk Sir 15:17).
2.4. Dengan demikian pesan sabda Tuhan pada hari ini jelas: kita diharapkan bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang berhikmat, yang matang dan mulia lewat pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan kita yang menunjukkan bahwa hidup keagamaan kita benar.
Saudari-saudara yang terkasih,
3. Gereja Keuskupan Agung Jakarta, dalam penegasan bersama, sudah memilih dan memutuskan untuk mendalami lima pokok Ajaran Sosial Gereja dan berusaha mencari jalan-jalan kreatif untuk mewujudkannya selama tahun 2022 sampai tahun 2026. Secara berurutan kita mendalami tema penghargaan pada martabat luhur manusia (2022), tanggung jawab kita untuk mewujudkan kebaikan bersama (2023), panggilan kita untuk bertumbuh dalam solidaritas dan subsidiaritas (2024), mewujudkan kepedulian lebih kepada saudari-saudara kita yang lemah dan miskin (2025); dan pada tahun ini (2026) kita ingin semakin menyadari tanggung jawab kita untuk semakin peduli pada keutuhan alam ciptaan dengan memelihara kelestarian bumi sebagai rumah kita bersama.
4. Berkaitan dengan tanggung jawab kita untuk memelihara kelestarian alam sebagai rumah kita bersama, kita diajak untuk melakukan pertobatan ekologis. Mengapa?
4.1. Kerusakan alam di Indonesia hingga tahun 2025 sudah sangat serius. Sebagian besar bencana seperti banjir, tanah longsor dan cuaca ekstrem disebabkan oleh kerusakan alam (hampir 99% dari 3.116 kejadian). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat yang paling banyak terjadi adalah banjir (1.584 kasus). Bencana ini – yang antara lain juga disebabkan oleh ulah manusia – menyebabkan korban jiwa, pengungsian massal, dan kerugian fisik besar. Sumatera menjadi titik paling parah. Ini memberikan petunjuk bahwa Indonesia merupakan wilayah yang berisiko tinggi.
4.2. Sementara itu wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) menghadapi masalah lingkungan serius: banjir, polusi udara parah dari kendaraan dan industri (PLTU), pencemaran air sungai dan air tanah akibat limbah rumah tangga dan industri, krisis sampah dengan timbunan yang terus naik, penurunan muka tanah, dan kerentanan iklim yang mengancam kita semua, terutama saudari-saudara kita yang paling miskin dan rentan.
Saudari-saudara yang terkasih,
5. Untuk menerjemahkan tema kepedulian pada keutuhan alam ciptaan tahun 2026, Aksi Puasa Pembangunan (APP) tahun ini memilih tema “Pertobatan untuk Merawat Bumi, Rumah Kita Bersama”. Di balik tema ini, ada gagasan besar yang dikemukakan oleh mendiang Paus Fransiskus, yaitu “Ekologi Integral”.
5.1. Paus Fransiskus menampilkan Santo Fransiskus Assisi sebagai teladan pribadi yang menghayati ekologi integral itu dengan mengatakan bahwa Santo Fransiskus Assisi adalah seorang mistikus dan peziarah dengan hidup sederhana dan dalam harmoni dengan Allah, dengan orang lain, dengan alam dan dengan dirinya sendiri. Relasi kita dengan lingkungan hidup (alam) tidak dapat dipisahkan dari relasi kita dengan manusia lain. Setiap orang di bumi ini (seharusnya) terhubung satu sama lain, dan dari kesadaran ini muncul solidaritas baru dan universal. Masalah lingkungan hidup yang kita hadapi sekarang ini berakar dari tidak adanya solidaritas universal ini. Ketika manusia merusak hubungan dengan Allah, dengan sesama dan alam, ia tidak akan mampu menyadari bumi sebagai rumah kita bersama dan tidak mampu pula memikul tanggung jawab untuk merawat bumi. Inilah yang ditegaskan oleh Paus Fransiskus dengan kata-kata ini: “Tidak ada dua krisis yang terpisah, yang satu menyangkut lingkungan (alam) dan yang lain sosial, tetapi satu krisis sosial-lingkungan yang kompleks” (Laudato Si’ No. 139)
5.2. Dalam keadaan seperti ini, kita diajak untuk mensyukuri anugerah alam ciptaan serta bertanggung jawab untuk mengelola dan merawatnya, di tengah krisis ekologi yang serius saat ini. Kita perlu melakukan aksi nyata untuk merawat dan menyelamatkan alam ciptaan sebagai wujud pertobatan ekologis. Aksi kepedulian terhadap alam ciptaan dapat dikembangkan dengan berbagai cara kreatif yang tidak hanya memberikan dampak positif sosial dan kelestarian alam tetapi juga mendatangkan keuntungan ekonomi, misalnya dengan mengembangkan ekonomi sirkular. Sudah banyak pribadi, keluarga, maupun komunitas yang berupaya secara kreatif melakukan aksi-aksi nyata yang mencerminkan kepedulian pada alam ciptaan. Hal-hal baik ini hendaknya terus dilanjutkan sampai menjadi kebiasaan dan gaya hidup yang berkelanjutan. Kita perlu juga bekerja sama dengan otoritas pemerintah dan lembaga-lembaga kemasyarakatan agar gerakan kepedulian kita pada keutuhan alam ciptaan semakin berdampak luas.
6. Bebeberapa gerakan aksi nyata yang sederhana namun nyata bisa kita kembangkan misalnya memanfaatkan lahan-lahan kosong untuk ditanami, mengembangkan pertanian kota, mengolah sampah menjadi berkah, tidak membuang makanan, menghemat pemakaian air dan listrik. Usaha-usaha seperti ini dapat sekaligus menopang kebutuhan pangan keluarga, memperbaiki kualitas lingkungan, dan menambah penghasilan. Kita perlu mengupayakan penyediaan tempat sampah terpilah, memanfaatkannya, serta membangun kerjasama dengan bank-bank sampah yang dikelola pemerintah maupun pihak lain. Kita juga perlu mempromosikan kepedulian pada keutuhan alam ciptaan kepada anak-anak dan remaja dan kaum muda yang akan lebih efektif jika orangtua memberi contoh. Lembaga-lembaga pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial lain, juga merupakan wilayah yang sangat penting dalam promosi kepedulian terhadap lingkungan hidup ini.
Saudari-saudara terkasih,
7. Akhirnya bersama dengan para imam, diakon dan semua pelayan umat, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para Ibu, Bapak, Suster, Bruder, Frater, Kaum Muda, Remaja dan Anak-Anak semua yang dengan beraneka cara terlibat dalam karya perutusan Keuskupan Agung Jakarta. Kita berharap melalui pertobatan ekologis dan berbagai aksi kepedulian pada keutuhan alam ciptaan yang kita lakukan dan melalui hidup sederhana dan bijaksana yang kita jalani – dengan meneladan Santo Fransiskus Assisi – kita dapat berkontribusi untuk mewujudkan kelestarian alam ciptaan Tuhan, wujud nyata keselamatan untuk generasi sekarang dan yang akan datang. Salam dan Berkat Tuhan untuk Anda semua, keluarga dan komunitas Anda.
+ Kardinal Ignatius Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta
