Disampaikan sebagai pengganti Khotbah, pada perayaan Ekaristi
Hari Sabtu/Minggu sebelum Rabu Abu 14/15 Februari 2026
No. 069/G.111/Il/2026
‘Menuju Gereja Paroki Yang Dewasa”
Saudari-saudara, Ibu-Bapak, anak anak, remaja, OMK, Suster, Bruder, Romo dan seluruh Umat Allah yang saya kasihi,
Pada hari Rabu Abu, 18 Februari 2026, kita akan memasuki masa Prapaskah; masa yang disediakan secara khusus untuk memperbarui diri, melalui aneka pertobatan, menuju kedewasaan Kristiani. Masa Prapaskah dihayati pula sebagai suatu retret agung bagi seluruh anggota Gereja. Kesempatan penuh makna menyiapkan diri secara layak menyongsong sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan.
Tahun ini kita mendalami dua tema besar: Kedewasaan iman dan lima tugas hidup menggereja. Tentang pendewasaan hidup paroki, tema tersebut diteguhkan melalui pendalaman iman masa prapaskah, bulan Maria, bulan Kitab Suci Nasional dan bulan Rosario.
Ujud tobat selama masa Prapaskah ini diwujudkan dengan lebih rajin merayakan Ekaristi dan doa-doa pribadi, mengikuti pendalaman iman, melakukan amal kasih, pantang dan puasa serta menerima sakramen Tobat.
Dalam pendalaman iman di lingkungan dan stasi, umat mendalami 4 tema pertemuan:
* Kesadaran akan jatidiri Gereja dalam Persekutuan Paroki
* Mewujudkan rahmat Baptis dalam Keterlibatan Hidup berparoki
* Komunitas Paroki yang Berakar Lingkungan
- Kehadiran Gereja di Tengah Masyarakat
Saya berharap agar pemahaman dan pendalaman iman selama masa Papaskah ini memberikan hikmat, seperti yang dikatakan oleh Santo Paulus kepada Jemaat di Korintus. Jati diri dan misi Gereja bagi dunia adalah hikmat yang datang bukan dari penguasa dunia ini. Inilah yang St Paulus sebutkan sebagai ‘Hikmat bagi orang yang matang’ (1 Kor 2:6). Di masa tobat ini kita tidak hanya bertobat demi kematangan individu tetapi juga mematangkan atau mendewasakan persekutuan.
Pertobatan bukanlah sekedar karena tidak melanggar aturan puasa dan pantang namun lebih dari itu, yakni kesungguhan mengembangkan hidup bersama demi mewujudkan persekutuan Kristiani yang dewasa serta berpartisipasi mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera. Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus mengingatkan pula kepada kita, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:20).
Akhir-akhir ini kita jumpai berbagai macam keprihatinan di kalangan umat dan masyarakat yang membutuhkan kepekaan dan kepedulian kita semua: kurangnya penghasilan, kehilangan pekerjaan, kemiskinan, stunting, lilitan pinjol/judol, ketidakmampuan membiayai pengobatan, kecanduan gadget, pelecehan seksual, bullying, KDRT, kelalaian terhadap pemenuhan hak anak, putus sekolah, keterasingan lansia di tengah jemaat, pendampingan bagi difabel dan keluarganya, bantuan biaya pendidikan dan pengelolaan lembaga pendidikan Katolik, upah kerja rendah, diskriminasi, kerusakan alam, banjir, pengelolaan sampah, gagal panen, dampak perubahan iklim, bencana alam, dan lain-lain.
Saya berharap Aksi Puasa Pembangunan (APP) menjadi pewujudan pemahaman dan penghayatan atas jati diri Gereja sebagai Persekutuan Umat yang misioner, peduli dan terlibat. APP mewujudkan Persekutuan Umat yang berbelarasa dan memberdayakan. Musyawarah pada pendalaman Iman APP V dimaksudkan agar belarasa dan kepedulian Anda secara pribadi bertumbuh menuju komitmen bersama sebagai Persekutuan Umat yang solider, berbelarasa dan peduli. Kepedulian bukan lagi sekedar kebaikan individual melainkan suatu gerakan kepedulian dan solidaritas bersama.
Pada kesempatan ini, dengan tulus saya ingin menyampikan penghargaan yang besar atas kepedulian Umat Katolik Keuskupan Surabaya terhadap korban banjir di Sumatra. Saya juga mengucapkan terimakasih atas prakarsa-prakarsa baik para Biarawan-Biarawati serta relawan yang hadir bagi para korban di lokasi bencana.
Selamat memasuki masa Prapaskah. Jadikan tanda abu di dahi Anda menguatkan penghayatan pertobatan di dasar kesadaran sehingga dengan penuh sukacita, tulus dan iman yang matang mewujudkan Gereja yang dewasa dan berbelarasa.
Tuhan memberkati
Surabaya, 2 Februari 2026
Mgr Agustinus Tri Budi Utomo
Uskup Surabaya
PERATURAN PANTANG & PUASA KEUSKUPAN SURABAYA TAHUN 2026
(Dibacakan sesudah pembacaan Surat Gembala Prapaska)
Sesuai dengan Ketentuan Pastoral Keuskupan Regio Jawa 2017, Pasal 138 No. 2.b Tentang Hari Tobat, peraturan puasa, dan pantang ditetapkan sebagai berikut:
- Hari Puasa tahun 2026 ini, dilangsungkan pada Hari Rabu Abu, tanggal 18 Februari 2026, dan Hari Jumat Sengsara dan Wafat Tuhan (Jumat Agung), tanggal 3 April 2026. Hari Pantang dilangsungkan pada Hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaskah sampai dengan Jumat Sengsara dan wafat Tuhan.
- Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berumur 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Sedangkan yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berumur genap 14 tahun ke atas.
- Puasa dalam arti yuridis, berarti makan kenyang hanya sekali (satu kali) sehari. Pantang dalam arti yuridis berarti tidak makan daging atau makanan lain yang disukai, dan tidak merokok. Berhubung peraturan puasa dan pantang cukup ringan, maka sebaiknya agar secara pribadi atau bersama-sama (dalam keluarga, biara, pastoran, lingkungan, seminari), menyepakati cara puasa dan pantang yang dirasa lebih sesuai dengan semangat tobat dan matiraga yang mau dinyatakan.
- Hendaknya diusahakan agar setiap orang beriman, kristiani, baik secara pribadi maupun bersama-sama, mengusahakan pembaharuan hidup rohani, misalnya dengan rekoleksi, retret, latihan rohani, tekun dalam ibadat jalan salib, meditasi, pengakuan dosa, adorasi, dan tekun mendalami materi APP.
- Salah satu ungkapan tobat ialah Aksi Puasa Pembangunan (APP) yang diharapkan mempunyai nilai pembaharuan pribadi dan nilai solidaritas tingkat lingkungan, paroki, keuskupan, dan nasional. Hendaknya di setiap paroki berdasarkan masukan dari lingkungan mengadakan kegiatan sosial konkret yang membantu masyarakat, misalnya donor darah, pasar murah, dan lain-lain.
- Hasil pengumpulan dana selama masa Prapaskah hendaknya diserahkankepada Panitia Aksi Puasa Pembangunan Keuskupan Surabaya, paling lambat pada tanggal 31 Juli 2026.
Salam dan doa saya,
Agustinus Tri Budi Utomo
Uskup Surabaya
