Katekis Dipanggil Menjadi Seperti ‘Yohanes Pembaptis Zaman Ini’

“Hari ini menjadi hari yang istimewa bagi Anda sekalian karena pada kesempatan ini para katekis Keuskupan Agung Semarang di Kevikepan Surakarta ini akan mendapatkan surat tugas perutusan dari Bapak Uskup sendiri untuk menjalankan tugas pewartaan di tempat Anda masing-masing.” Demikian Vikaris Episkopal Surakarta Romo Vikep Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr mengawali homilinya dalam Perayaan Ekaristi Missio Canonica Se-Kevikepan Surakarta di Gua Maria Sendang Sriningsih, 7 Desember 2025. Seribu lebih katekis hadir dalam perayaan ekaristi tersebut.

Dalam kesempatan itu, Romo Herman menyampaikan peran Yohanes Pembaptis yang mengajak umat untuk membangun pertobatan. Demikian pula para katekis diharapkan seperti Yohanes Pembaptis. “Kita semua sebagai katekis bisa dikatakan pula menjadi Yohanes-Yohanes Pembaptis zaman ini yang mengantar orang, mempersiapkan orang untuk bisa berjumpa dengan Yesus. Di antaranya juga melalui seruan pertobatan,” katanya. Hal itu dilakukan misalnya dengan senantiasa mengajak anak didik supaya membangun hidup yang baik untuk tidak terlena dengan segala hal di tengah kehidupan dunia ini.

Meski mengajak orang lain bertobat, sebagai katekis pun, menurutnya, diharapkan tetap terus membangun pertobatan dirinya. “Tetapi kita juga sebagai katekis juga perlu membangun pertobatan ketika kita kadang lalai dengan segala tugas-tugas dan tanggung jawab kita untuk mengajar, untuk memberikan kesaksian hidup beriman,” katanya. Seruan pertobatan itu, menurutnya, bukan karena takut nanti akan mendapatkan hukuman, tetapi harapan akan Tuhan yang penuh belas kasih yang akan datang menyelamatkan.

Dalam kesempatan itu, Romo Herman juga mengapresiasi para katekis. “Maka, terima kasih pada para katekis yang siap sedia untuk menjadi Yohanes-Yohanes Pembaptis zaman ini. Mari kita terus berkarya menyerukan hal yang baik. Bukan hanya untuk para mereka yang dipercayakan kepada kita untuk diajar, tetapi juga siapapun juga melalui kesaksian hidup iman kita dengan baik di tengah keluarga, di tengah masyarakat, di tengah hidup menggereja. Kesaksian kita kiranya juga menjadi pewartaan yang nyata di dalam kehidupan kita setiap harinya,” ungkapnya.

Romo Herman berharap, para katekis tetap dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai katekis seperti Yohanes Pembaptis zaman ini, mengantar pribadi-pribadi untuk sampai kepada Tuhan, dengan pertobatan, dengan harapan akan kasih dan keselamatan Tuhan.

Romo Herman juga mengajak beberapa katekis untuk membagikan pengalamannya menjadi katekis. Rico Febrian Nalendra Putra dari Paroki San Inigo Dirjodipuran Solo menyampaikan, ketertarikannya menjadi katekis dipicu karena orang tuanya yang lebih dulu menjadi katekis. Ia merasa bahwa katekis pun harus regenerasi. Terlebih ketika orang tuanya menjadi katekis, ia kerap membantu mereka menyiapkan bahan ajarnya. Setelah mengikuti pembekalan katekis, ia pun memutuskan untuk menjadi katekis. “Jadi, selain regenerasi ya mungkin ini waktunya untuk orang muda juga jadi katekis,” katanya yang masih kuliah itu.

Berbeda dengan Rico, Tyas dari Paroki Dalem, Klaten tertarik menjadi katekis karena diminta romo parokinya. Ia pertama kali diminta untuk mendampingi katekumen dewasa. Alih-alih bosan, ia justru merasa tersentuh ketika mengajar. “Saya berusaha untuk ikut mendampingi mereka terus ya, ternyata memang rasanya itu menyentuh sekali. Saya senang bertemu dengan para katekumen itu meskipun mereka lebih dewasa dari saya tapi mereka itu mau menerima. Itu yang membuat motivasi saya semakin, semakin kuat, semakin semangat untuk melanjutkan menjadi katekis ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Ellen dari Paroki Ketandan tertarik menjadi katekis karena ia menjalani studi pendidikan guru sekolah dasar. Kerap kali, ia menjumpai di sekolah negeri tak ada guru agama Katolik. Setelah mengikuti kursus Katekis, ia pun mengajar katekumen.

Sedangkan Lidya Stefana Rina Harmastuti dari Paroki Purbowardayan mengatakan, ia menjadi katekis karena pernah mengajar sekolah minggu sejak tahun 1986. Pengalaman itu membuatnya terpanggil untuk studi kateketik dan akhirnya menjadi guru agama Katolik. Sekarang pun ia masih menjadi katekis di parokinya.

.

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *