On The Liturgical Feast of Divine Mercy

Damai selalu bersamamu! Tuhan mengucapkan kata-kata ini untuk kedua kalinya dan menambahkan, “Seperti Bapa mengutus Aku, demikianlah Aku mengutus kamu” (ay. 22). Dia kemudian memberi para murid Roh Kudus untuk menjadikan mereka orang-orang yang membawa perdamaian: “Jikalau kamu mengampuni dosa orang lain, maka dosanya diampuni” (ay.23). Para murid tidak hanya menerima belas kasihan; mereka menjadi pemberi rahmat yang mereka terima sendiri. Mereka menerima kuasa ini bukan karena jasa atau usaha belajar mereka, tetapi murni sebagai karunia rahmat, berdasarkan pengalaman mereka sendiri yang telah diampuni. Saya sekarang berbicara kepada Anda semua yang membawa misi belas kasih: jika Anda tidak merasa diampuni, jangan lakukan pelayanan Anda sebagai pembawa misi belas kasih sampai Anda merasakan pengampunan itu. Rahmat yang telah kita terima memungkinkan kita untuk menyalurkan banyak belas kasihan dan pengampunan. Hari ini dan setiap harinya, di dalam Gereja, pengampunan harus diterima dengan cara yang sama, melalui kebaikan yang rendah hati dari seseorang yang penuh belas kasih yang melihat dirinya bukan sebagai pemegang kekuasaan tetapi sebagai saluran belas kasih, yang mencurahkan pengampunan kepada orang lain yang dia sendiri pertama kali sudah menerimanya. Dari sinilah muncul kemampuan untuk memaafkan segala sesuatu karena Tuhan selalu mengampuni segala sesuatu. Kitalah yang lelah meminta maaf tapi dia selalu memaafkan. Anda harus menjadi saluran pengampunan itu melalui pengalaman pengampunan Anda sendiri. Tidak perlu menyiksa orang beriman ketika mereka datang untuk mengakui dosa. Penting untuk memahami situasi mereka, mendengarkan, memaafkan, dan memberikan nasihat yang baik agar mereka dapat bergerak maju. Tuhan mengampuni segalanya dan kita tidak boleh menutup pintu itu bagi orang-orang.

“Jika kamu mengampuni dosa seseorang, maka diampunilah dosanya”. Kata-kata ini merupakan asal mula Sakramen Tobat, tetapi bukan hanya itu. Yesus telah menjadikan seluruh Gereja suatu komunitas yang menyalurkan belas kasihan, suatu tanda dan alat rekonsiliasi bagi seluruh umat manusia. Saudara-saudari terkasih, kita masing-masing, di dalam pembaptisan, menerima karunia Roh Kudus untuk menjadi pria atau wanita pendamaian. Kapan pun kita mengalami sukacita karena dibebaskan dari beban dosa dan kegagalan kita; setiap kali kita mengetahui secara langsung apa artinya dilahirkan kembali setelah situasi yang nampak tanpa harapan, kita merasa perlu untuk membagikan roti belas kasihan kepada orang-orang di sekitar kita. Mari kita membiarkan diri terpanggil untuk hal ini. Dan marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: di rumah, di keluarga saya, di tempat kerja, di komunitas saya, apakah saya memupuk persekutuan, apakah saya menjadi orang yang mengupayakan rekonsiliasi? Apakah saya berkomitmen untuk meredakan konflik, membawa pengampunan sebagai ganti kebencian, dan perdamaian yang menggantikan kebencian? Apakah saya menghindari menyakiti orang lain dengan tidak bergosip? Yesus ingin kita menjadi saksi-Nya di hadapan dunia dengan kata-kata: Damai sejahtera bagimu!

Kedamaian selalu bersamamu! Tuhan mengucapkan kata-kata ini untuk ketiga kalinya ketika, delapan hari kemudian, dia menampakkan diri kepada para murid dan memperkuat iman Thomas yang letih lesu. Thomas ingin melihat dan menyentuh. Tuhan tidak tersinggung oleh ketidakpercayaan Thomas, tetapi datang membantunya: “Letakkan jarimu di sini dan lihat tanganku” (ay. 27). Ini bukan kata-kata pembangkangan tapi belas kasihan. Yesus memahami kesulitan Thomas. Dia tidak memperlakukan Thomas dengan kasar, dan rasul itu sangat tersentuh oleh kebaikan ini. Dari seorang yang tidak percaya, dia menjadi seorang yang beriman, dan membuat pengakuan iman yang paling sederhana dan terbaik: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (ay.28). Ini adalah kata-kata yang indah. Kita dapat menjadikannya milik kita sendiri dan mengulanginya sepanjang hari, terutama ketika, seperti Thomas, kita mengalami keraguan dan kesulitan.

Karena kisah Thomas sebenarnya adalah kisah setiap orang beriman. Ada saat-saat sulit ketika hidup tampaknya mendustakan iman, saat-saat krisis ketika kita perlu menyentuh dan melihat. Seperti Thomas, justru pada saat-saat itulah kita menemukan kembali hati Kristus, belas kasihan Tuhan. Dalam situasi-situasi seperti itu, Yesus tidak mendekati kita dengan kemenangan dan dengan banyak bukti. Dia tidak melakukan mukjizat yang menghancurkan bumi, tetapi malah menawarkan kepada kita tanda-tanda belas kasih-Nya yang menghangatkan hati. Dia menghibur kita dengan cara yang sama seperti yang dia lakukan dalam Injil hari ini: dia memberi kita luka-luka-Nya. Kita tidak boleh melupakan fakta ini. Sebagai tanggapan atas dosa kita, Tuhan selalu hadir menawarkan luka-luka-Nya kepada kita. Dalam pelayanan kita sebagai orang-orang yang telah menerima pengampunan dosa, kita harus membiarkan orang melihat bahwa di tengah dosa mereka, Tuhan menawarkan luka-luka-Nya kepada mereka. Luka-luka Tuhan lebih kuat daripada dosa.

Yesus membuat kita melihat luka saudara dan saudari kita. Di tengah krisis dan kesulitan kita sendiri, belas kasih ilahi sering membuat kita sadar akan penderitaan sesama kita. Kita berpikir bahwa kita mengalami rasa sakit yang tak tertahankan dan mengalami situasi penderitaan, dan kita tiba-tiba menemukan bahwa orang lain di sekitar kita diam-diam menanggung hal-hal yang lebih buruk. Jika kita merawat luka-luka sesama kita dan menuangkan balsam belas kasihan kepada mereka, kita menemukan bahwa telah lahir kembali di dalam diri kita sebuah harapan yang menghibur kita dalam keletihan kita. Mari kita bertanya pada diri sendiri apakah akhir-akhir ini kita telah membantu seseorang yang menderita dalam pikiran atau tubuhnya; apakah kita telah membawa kedamaian bagi seseorang yang menderita secara fisik atau spiritual; apakah kita telah menghabiskan beberapa waktu hanya untuk mendengarkan, hadir, atau membawa kenyamanan bagi orang lain. Karena setiap kali kita melakukan hal-hal ini, kita bertemu dengan Yesus. Dari mata semua orang yang terbebani oleh cobaan hidup, dia memandang kita dengan belas kasihan dan berkata: Damai sejahtera bagimu! Dalam hal ini, saya memikirkan kehadiran Bunda Maria bersama para Rasul. Saya juga ingat bahwa kita memperingatinya sebagai Bunda Gereja pada hari setelah Pentakosta dan sebagai Bunda Belas Kasih pada hari Senin setelah Minggu Kerahiman Ilahi. Semoga dia membantu kita bergerak maju dalam pelayanan kita.

Diterjemahkan oleh

Blasius Panditya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *