
Hikmah yang dapat kita petik:
Satu, ditegaskan nabi Yeremia: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, dan kekuatannya sendiri, serta yang hatinya menjauh dari TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.”
Betapa keras peringatan itu, dan betapa malanglah orang-orang yang menjauh dari (= menyingkirkan/menolak) Tuhan. Hendaknya kita menyadari/memahami maksud seruan atau peringatan itu, agar menjadikan Tuhan sebagai sumber dan kekuatan sehingga hidup kita diliputi damai sejahtara Tuhan, dan bukan kemalangan
Dua, ditegaskan Yesus melalui kisah Abraham dan orang kaya yang malang: “Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.”
Menyesal kemudian lebih-lebih ketika sudah meninggal ternyata tidak ada gunanya/tidak akan mengubah keadaan orang itu. Maka, peringatan/pemberitahuan/teguran keras sekalipun hendaknya disikapi sungguh-sungguh, bukan pertama-tama untuk menghukum atau untuk menakut-nakuti tetapi supaya manusia itu bertobat dan hidup dalam naungan kasih Tuhan.
Masa prapaska adalah masa untuk mawas diri dan membaharui cara hidup/sikap hidup yang berlawanan dengan martabat kita sebagai anak-anak Allah. Amin.
Mgr Nico Adi MSC