Renungan Harian 12 April 2026

Hari Minggu Paskah II-Minggu Kerahiman

Minggu, 12 April 2026

Bacaan I                : Kis. 2:42-47

Bacaan II              : 1Ptr.1:3-9

Bacaan Injil :Yoh.20:19-31

Menjadi Rasul Kerahiman

Seminggu setelah Hari Raya Kebangkitan Kristus (Paskah), kita merayakan Minggu Kerahiman Ilahi.Pesta Kerahiman Ilahi ini ditetapkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada 30 April 2000 bersamaan kanonisasi Santa Faustina. Santa Faustina (1905-1938) adalah seorang suster sederhana dari Polandia yang mendapat anugerah melihat Tuhan Yesus. Tuhan Yesus mendatangi dirinya dan berpesan agar menyebarluaskan devosi Kerahiman Ilahi ini.

Pada tanggal 22 Februari 1931,Tuhan Yesus bersabda kepada Suster Faustina: “Aku mau supaya ada Pesta Kerahiman. Aku mau supaya gambar itu diberkati secara mulia pada hari Minggu pertama sesudah Paska. Hari Minggu ini harus menjadi Pesta Kerahiman.” Kehendak Tuhan Yesus itu baru dilaksanakan tahun 2000.

Kata “kerahiman” dalam bahasa Ibrani disebut rahamim dan khesed, yaitu dua ungkapan yang dipakai untuk menyebut sifat kasih Allah. Kata “rahamim” ada kaitannya dengan kata “rehem”(rahim). Maka, rahamim (kerahiman) adalah sifat kasih Allah yang serupa dengan sifat rahim seorang ibu, yaitu melindungi, menghidupi, menghangatkan, memberi pertumbuhan, menjaga, menerima tanpa syarat, dan memberi kedamaian.

Sabda Tuhan pada hari Minggu Kerahiman Ilahi ini mengisahkan bagaimana Tuhan Yesus yang menampakkan Diri-Nya kepada para murid. Berkali-kali dalam bacaan Injil hari ini muncul kata “melihat”. Tentu hal ini menunjukkan bahwa pesan “melihat” adalah sesuatu yang sangat penting. Apa yang mereka lihat? Mereka melihat Tuhan Yesus yang bangkit. Dikatakan demikian, “Murid-murid itu bersukacita karena mereka melihat Tuhan”.

Dengan melihat Tuhan, hati para murid dipenuhi sukacita. Tidak lagi takut dan cemas. Tidak lagi bingung dan “gegana” (gelisah, galau dan merana) karena peristiwa penyaliban di bukit Golgota.Kisah kebangkitan dan iman akan kebangkitan menjadi tradisi Gereja dan pewartaan yang disampaikan sejak zaman para rasul dan Gereja Perdana sampai sekarang ini.

Dengan merayakan Pesta Kerahiman Ilahi ini, kita diingatkan akan panggilan kita untuk menjadi rasul kerahiman pada zaman sekarang ini. Bagaimana caranya? Caranya dengan mengandalkan Tuhan,bersukacita, serta membawa pengharapan dan damai sejahtera kepada sesama.

Yesus Sang Raja Kerahiman Ilahi adalah andalan kita. Dialah Sang Juru Selamat dunia yang sudah mengalahkan maut dan bangkit mnulia. Yesus taat pada kehendak Allah Bapa-Nya dalam menyelamatkan manusia dengan menderita sengsara sampai wafat di kayu salib. Dalam doa devosi Koronka Kerahiman Ilahi, kita tidak lelah berseru, “Demi sengsara Yesus yang pedih, tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada kami dan seluruh dunia”.

Pertanyaan refleksinya, sejauh mana selama ini kita mengimani Allah yang Maharahim?Bagaimana caranya agar kita bisa menghayati dan menghidupi kerahiman Ilahi?#

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *