“Kita semua bahagia pada hari ini dalam ekaristi untuk mohon berkat Tuhan bagi minyak yang akan dipakai untuk pelayanan, baik itu minyak katekumenat, minyak orang sakit, maupun minyak Krisma. Dan sekaligus yang secara khusus sekali adalah kita akan mohon berkat Tuhan untuk para Romo yang hari ini akan membaharui janji imamatnya.” Demikian Uskup Keuskupan Agung Semarang (KAS), Mgr Robertus Rubiyatmoko mengawali homilinya setelah menyapa Umat Allah dalam Misa Pembaruan Janji Imamat dan Pemberkatan Minyak Suci di Gereja St Athanasius Agung, Semarang, 31 Maret 2026 sore.
Selain bertanya pada umat, Mgr Rubi juga bertanya pada para imam. “Maka sekali lagi pertanyaan kepada para romo, apakah para Romo bahagia? Bahagia sebagai Romo? Iya. Saya pun bahagia. Bahagia melihat Romo bahagia. Karena dari kebahagiaan inilah yang akan kita tularkan, kita bagikan kepada umat yang kita layani,” kata Mgr Rubi.
Menurut Mgr Rubi, dalam rangka persiapan rekoleksi dan misa pembaharuan janji imamat ini, dari 308 Romo yang mengikuti rekoleksi, ada 162 Romo yang membuat refleksi tertulis dan mengirimkannya kepadanya. Dari refleksi itu, Mgr Rubi merasa para imam sangat bersyukur atas rahmat tahbisannya.
“Dari refleksi ini kelihatan sekali rasa syukur para romo atas rahmat tahbisan yang kita terima sebagai anugerah Allah sendiri. Bukan karena prestasi, bukan karena kehebatan kita, namun sungguh-sungguh dihayati sebagai anugerah yang gratis dari Allah. Dan alasan bersyukur ini semakin saya rasakan melalui permenungan selama rekoleksi bersama Romo Indra Sanjaya,” katanya.
Meski dirinya dan para imam terbatas dan rapuh Tuhan tetap memanggil dan memilih para imam-Nya. Berikut ini adalah terusan homilinya.
Tuhan pasti tahu keterbatasan dan kerapuhan kita. Namun Tuhan tetap saja memanggil dan memilih kita untuk menjadi imam bagi umat-Nya. Inilah yang kita renungkan bersama-sama. Romo Indra berkata, “Tuhan sungguh ambil risiko.” Tuhan ambil risiko telah memilih kita-kita yang jelas-jelas banyak kekurangan dan banyak kelemahan, banyak keraguan. Dan Tuhan tidak akan memberikan tanggung jawab yang lebih besar dari kemampuan kita. Inilah alasan kita bersyukur ing atasé koyo ngéné kok dipilih oleh Tuhan. ing atasé iki apa ya? Di atasnya. Meskipun kita seperti ini banyak kerapuhan, banyak kekurangan, namun tetap Tuhan “ngotot” memilih kita. Dan itu risiko Tuhan kalau kita nanti sampai gagal. Inilah yang disampaikan Roma Indra kemarin sejauh saya tangkap dan bagi saya sendiri ini membuat saya mantap, bangga, senang.
Kita para Romo juga merasa teringankan dalam hal ini. Menyadari hal ini, pantaslah setiap kali kita para imam membaharui janji imamat. Bukan sekadar mengulang kata-kata yang pernah kita ucapkan saat hari tabisan dahulu, namun merupakan saat yang tepat untuk kembali meneguhkan jati diri kita sebagai orang terpanggil, yakni menjadi imam yang bahagia, yang mampu menginspirasi dan mampu menjahterakan mereka yang kita layani.
Pertanyaannya adalah imam yang bahagia itu yang seperti apa? Dalam refleksinya muncul banyak sekali ungkapan-ungkapan. Dan Mazmur hari ini mengingatkan kita apa yang menjadi sejatinya atau sumber kebahagiaan kita ketika kita mendaraskan mazmur tanggapan, “Bahagiaku terikat pada Yahwe harapanku pada Allah Tuhanku.” “Bahagiaku terikat pada Yahwe harapanku kepada Allah Tuhanku”. Kalimat ini nampak sederhana namun sangat mendasar dan sangat mendalam sekali bagi kita para Romo khususnya berkaitan dengan pertanyaan apa yang membuat kita bahagia?
Kembali kalau saya melihat refleksi para romo, sebagian besar para romo menegaskan kembali bahwa kebahagiaan seorang imam bukan pertama-tama karena kenyamanan hidup, karena keberhasilan karya, karena bisa membangun gereja di mana-mana, karena jabatan atau karena pujian dari umat. Bukan itu ternyata yang dirasakan dialami para romo, melainkan buah dari kesatuan dengan Kristus.
Kebahagiaan seorang imam lahir dari keterikatan dan relasi personalnya dengan Tuhan sendiri. Inilah yang membanggakan dan inilah yang kita alami bersama-sama. Karena itu sekalipun di tengah kelelahan pastoral, persoalan umat yang rumit yang kita hadapi hingga tuntutan administratif yang kadang-kadang sangat menjemukan dan melelahkan, kebahagiaan itu tetap ada, kita rasakan jika kita tetap tinggal dalam Kristus, tinggal di dalam kasih-Nya.
Kita sadar, paling tidak saya sadar, bahwa hilangnya sukacita sebagai imam sering berakar pada melemahnya hidup rohani, terjadinya krisis relasi personal dengan Allah sendiri. Kiranya pengalaman yang sangat konkret dalam refleksi dan dalam diskusi, dalam sharing tadi, begitu banyak cerita-cerita yang mengungkapkan pengalaman konkret ini.
Para Romo yang terkasih, umat kita sangat peka. Umat kita sangat mudah menangkap terhadap kita. Mereka dapat merasakan apakah kita melayani dengan keterpaksaan dan penuh beban ataukah sukacita dan ringan. Saat kita menyapa umat dengan hangat, dengan penuh senyum, mendengarkan mereka dengan sabar dan penuh pengertian dan merayakan ekaristi dengan penuh iman, maka umat pun akan ikut merasakan kebahagiaan kita.
Romo Indra dalam pendampingannya mengatakan kebahagiaan itu menular. Betul? Betul? Kalau umat bahagia, kita ikut bahagia atau malah sedih? Kebahagiaan itu menular dan akan mempengaruhi orang lain. Itulah yang kita alami. Namun kebahagiaan yang kita miliki ini tidak selayaknya kita miliki sendiri. Mesti kita bagikan, mesti kita share supaya orang lain juga ikut mengalami kebahagiaan itu.
Maka caranya bagaimana? Hidup kita sebagai orang yang bahagia karena kedekatan kita dengan Kristus mesti menginspirasi orang lain khususnya umat yang kita layani. Dan inspirasi sejati tidak lahir dari kata-kata yang hebat, dari kata yang muluk-muluk, yang dakik-dakik. Dakik-dakik ki apa ya? Ya, muluk-muluk itu gitu. Bukan rangkaian kata yang indah, namun muncul atau mengalir dari keteladanan hidup kita.
Nabi Yehezkiel dalam bacaan pertama menggambarkan Allah sebagai gembala yang mencari yang hilang dan membalut yang luka. Dia mengumpulkan yang tercerai berai entah karena kegelapan, entah karena serigala, dikumpulkan kembali dan dituntun, digiring ke tempat pembaringan, ke tempat rumput yang hijau, ke sumber air yang tenang dan menyegarkan.
Itulah gambaran gembala yang baik dan kita semua para romo kiranya mempunyai cita-cita, mempunyai harapan seperti itu.
Umat akan mudah terinspirasi ketika ada keselarasan antara apa yang kita doakan di altar dan kita wartakan di mimbar dengan kehidupan kita sehari-hari. Dari refleksi para romo saya tangkap ada sebuah keyakinan dan tekad yang kuat dalam sharing-sharing tadi untuk menginspirasi umat dengan menghidupi kembali secara serius janji imamat antara lain kembali ke sumber dan pusat imamat kita, yakni dengan terus memupuk relasi personal dengan Kristus melalui doa dan perayaan sakramen-sakramen yang kita hidupi. Bukan sekadar merayakan sakramen-sakramen, namun menghidupinya sendiri untuk kita juga sehingga kita ikut menikmati rahmat sakramen yang Tuhan berikan tidak hanya untuk umat, namun juga untuk kita sebagai pelayan.
Yang kedua, membangun imamat dalam sinodalitas. Membangun, menghidupi imamat dalam kebersamaan. Berjalan bersama dan bekerja bersama dalam semangat persaudaraan baik dengan sesama imam maupun dengan umat dan tentu saja dengan uskupnya. Ora mlaku déwé-déwé lan sak karepé déwé. Namun, mlaku bareng-bareng, tumandang bareng dan ngerampungké bareng-bareng. Inilah yang menjadi tekad kita bersama.
Dan yang ketiga, menghayati, menghidupi janji imamat dengan hadir di tengah umat dan membangun komunikasi sing semakin ngénaké ati dan penuh kasih pastoral.
Kita semua diharapkan menjadi gembala yang baik, sing ngrengkuh, sing ngipuk-ipuk, yang siap untuk mbopong umat kita yang mengalami kesusahan dengan berbagai macam bantuan yang bisa kita berikan.
Kedekatan dengan umat, keperpihaan pada yang kecil dan pelayanan yang menyentuh hidup konkret umat merupakan kerinduan kita sebagai pelayan umat. Dan kiranya ini juga menjadi kerinduan umat. Betul umat merindukan yang sama? Romoné péngin, umaté ya mengharapkan. Maka jumbuh, gathuk, cocok. Maka kita mesti membangun kebersamaan dalam rangka mewujudkan harapan dan cita-cita ini.
Dan akhirnya adalah, kita para imam dan seluruh umat beriman dipanggil untuk menyejahterakan. Yesus dalam Injil mengatakan, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada memberikan nyawa bagi sahabat-sahabatnya.” Tidak ada kasih yang lebih besar daripada seorang yang memberikan nyawanya bagi sahabatnya. Wani mati, wani ngrekasa untuk yang dilayani. Inilah yang menjadi harapan kita bersama. Bagaimana kita mensejahterakan umat yang kita layani. Maka kasih sejati seorang imam adalah pemberian diri, pembaktian diri demi kebahagiaan dan kesejahteraan umat yang kita layani.
Menyejahhterakan berarti membawa berkat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar, membawa pengharapan bagi mereka yang putus asa, bukan malah sebaliknya membuat orang putus asa. Membela yang lemah, bukan justru sebaliknya membuat orang lungkrah. Menguatkan keluarga yang rapuh, bukan sebaliknya membuat keluarga-keluarga porak-poranda serta mendorong terwujudnya solidaritas dan kepedulian sosial bagi mereka yang membutuhkan perhatian kita.
Imam yang hadir dan hidup di tengah umat mendengarkan pergulatan mereka dan berjalan bersama dengan mereka akan membantu umat mengalami bahwa iman sungguh menyentuh kehidupan yang konkret. Dan kehadiran kita akan dirasakan kehadiran seorang gembala sing ngemong, momong, lan mbopong, yang siap bekerja keras demi sejahtera umat beriman.
Saudara-saudari yang terkasih, khususnya para Romo yang saya cintai.
Kita semua tahu tantangan kita tidak mudah. Adakalanya kita para Romo mengalami kekeringan rohani, kelelahan pastoral. Apalagi di hari-hari seperti ini, begitu banyak pelayanan yang harus kita lakukan, pengakuan dosa, kunjungan, persiapan ini-itu, rutinitas yang menjemukan atau bahkan konflik dengan sesama imam dan umat.
Ada kerapuhan dalam diri kita sebagaimana Petrus alami dalam permenungan kita sejak kemarin. Namun ini semua bukanlah alasan untuk surut dan menyerah. Sebaliknya menjadi alasan, menjadi jalan menuju pertobatan dan pembaharuan diri. Tentu dalam kebersamaan. Dalam kebersamaan dengan sesama imam, dengan umat, kita akan dimampukan untuk membarui diri dan mengalami sukacita meskipun harus menghadapi banyak tantangan dan kesulitan.
Kita tidak berjalan sendirian karena kita memiliki Tuhan, Tuhan Yesus sebagai sumber sukacita dan pertolongan kita. Asalkan kita berani dan mau rutin tekun datang kepada-Nya, Tuhan akan menolong kita. Kita mempunyai umat yang selalu menantikan kehadiran kita dan menantikan pelayanan kita. Dan inilah menjadi sukacita kita. Kehadiran kita pasti akan diterima dengan penuh sukacita juga kalau kita memberikan yang terbaik.
Kita mempunyai sesama imam sebagai saudara seperjalanan dalam panggilan dan dalam pelayanan. Kita dipanggil untuk menghayati imamat dalam kebersamaan, dalam sinodalitas, baik dengan sesama imam, dengan umat dan dengan masyarakat.
Para Romo yang terkasih, marilah dalam kesempatan yang indah ini dengan dukungan doa seluruh umat yang hadir di sini maupun yang mengikuti secara online, kita perbarui janji imamat kita dengan kesadaran baru, yakni menjadi imam yang bahagia karena keterikatan kita pada Kristus dan tinggal di dalam kasih-Nya. Yang kedua, menjadi imam yang menginspirasi melalui keteladanan hidup bagi orang lain. Dan yang ketiga, menjadi imam yang menyejahterakan dengan kasih yang memberi diri, yang siap untuk berbagi sukacita kepada umat.
Semoga melalui pembaharuan janji imamat ini kita diteguhkan kembali untuk menjadi gembala-gembala yang sungguh mencerminkan hati Kristus Sang Gembala yang baik sebagaimana kita dengar dalam Injil dan bacaan pertama hari ini.
.
