Mgr Kornelis Sipayung OFMCap: Percaya Kepada Yesus Berarti Berani Juga Mengubah Arah Hidup

Pada Kamis, 12 Maret 2026 di Gereja St. Fransiskus Asisi, Batam, Misa Bersama Para Uskup Regio Sumatera diselenggarakan untuk menutup Pertemuan Para Uskup Se-Regio Sumatera. Misa dipimpin oleh Uskup Keuskupan Agung Medan, Mgr Kornelis Sipayung OFMCap selaku selebran utama didampingi oleh Uskup Keuskupan Padang Mgr Vitus Rubianto Solichin, SX; Uskup Keuskupan Agung Palembang, Mgr Yohanes Harun Yuwono; Uskup Keuskupan Tanjungkarang Mgr Vinsensius Setiawan Triatmojo, dan Uskup Keuskupan Pangkalpinang Mgr Adrianus Sunarko OFM.

Dalam homilinya, Mgr Kornelis Sipayung OFMCap menandaskan tentang pentingnya keberanian mengubah arah hidup setelah percaya kepada Yesus. Berikut ini adalah homili lengkapnya.

Umat Allah yang dikasihi Tuhan, para suster, Rekan-rekan imam dan para Bapak Uskup.

Selamat sore untuk kita semua.

Setelah membaca bacaan-bacaan yang diperdengarkan kepada kita hari ini, termasuk juga mazmur antar bacaan, saya tertarik terutama dalam Injil akan reaksi tiga jenis reaksi manusia setelah menyaksikan Yesus mengusir roh dari orang bisu. Semua orang melihat mukjizat yang sama. Fakta yang terjadi di depan mata mereka sama, yakni seorang yang tadinya tidak dapat berbicara, kini dapat berbicara.

Namun yang berbeda adalah cara manusia menanggapi karya Allah itu yang hadir dalam diri Yesus. Injil menunjukkan tiga reaksi. Pertama, ada yang heran dan kagum. Yang kedua, ada yang menuduh bahwa Yesus menyembuhkan atas kuasa Belzebul. Dan jenis orang yang ketiga meminta tanda dari surga.

Dari peristiwa yang sama lahir tiga sikap yang sangat berbeda. Sikap pertama takjub dan heran. Orang yang melihat mukjizat itu mereka kagum. Sebenarnya kekaguman itu bisa menjadi awal yang baik karena menunjukkan hati yang masih terbuka akan karya Allah.

Mereka menyadari bahwa sesuatu yang luar biasa sedang terjadi. Namun dikatakan bahwa kekaguman belumlah menjadi iman.

Saudara-saudari, kita juga sering masuk dalam golongan yang pertama ini. Rasa kagum setelah mendengarkan sabda Allah. Rasa terharu dalam adorasi. Rasa kagum ketika mengalami perayaan ekaristi. Hari ini juga banyak di antara kita kagum berjumpa dengan lima uskup dan banyak imam. Kagum dan terkesan.

Tetapi apa yang terjadi dengan orang yang kagum dan terkesan dalam Injil hari ini?

Kekaguman itu tidak membuat mereka berubah. Hidupnya sama saja. Kagum sesaat, sesudah itu kembali kepada cara hidup yang lama.

Jenis manusia yang kedua ini lebih serius. Bukan hanya, mereka tidak hanya tidak kagum, tetapi mereka menuduh Yesus bekerja dengan kuasa Belzebul. Ini bukan sekedar keraguan melainkan penolakan aktif terhadap kebenaran. Ketika saya merenungkan hati atau sikap orang yang kedua ini, mengapa mereka sampai kepada tuduhan yang begitu keras?

Pertama, barangkali yang ada dalam diri mereka adalah kesombongan rohani. Memang Injil hari ini tidak mengatakan dengan eksplisit siapa mereka itu. Tetapi kalau dilihat perikop yang sejajar dengan ini dalam Injil lain, terang-terang disebutkan mereka ini adalah ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka adalah pemuka agama yang merasa diri sebagai penjaga kebenaran. Jika mereka mengakui kuasa Yesus berasal dari Allah, mereka harus mengakui bahwa mereka salah dan perlu berubah.

Yang kedua, ada ketakutan bahwa mereka kehilangan otoritas. Yesus menarik banyak orang dan mengajar dengan kuasa yang tidak dimiliki para pemimpin agama pada saat itu.

Kehadiran dan pengakuan terhadap kuasa Yesus bisa menggoncang posisi mereka.

Karena itu lebih mudah cara mengamankan diri, mengamankan posisi dengan menuduh Yesus sebagai orang yang dikuasai roh jahat. Ini rasionalisasi untuk melindungi diri dari pertobatan. Manusia sering mencari penjelasan.

Ini yang ketiga, meminta bukti dan tanda. Ini nampak halus tetapi sebenarnya tidak kalah bahaya, meminta dari surga. Orang-orang ini langsung menuduh Yesus, tidak langsung menuduh Yesus, tetapi mereka berkata, “Berilah tanda yang lebih jelas.” Padahal mereka baru saja menyaksikan bagaimana Yesus menyembuhkan orang bisu dan orang bisu itu menjadi bisa berbicara.

Saudara-saudari terkasih, percaya kepada Yesus berarti berani juga mengubah arah hidup.

Mazmur hari ini, refren pada hari ini, “Kalau kamu mendengar suaranya, janganlah bertegar hati.” Sikap orang yang menyaksikan mukjizat Yesus yang diceritakan dalam Injil hari ini adalah sikap bertegar hati, tidak mau berubah. Baik itu orang yang kagum, heran akan perbuatan Yesus, tetapi mereka tidak berubah. Baik itu yang terang-terang menolak atau yang meminta tanda, mereka inilah yang tidak mau berubah. Secara rohani biasanya akar dari ketiga sikap ini adalah ketakutan, kesombongan, dan keterikatan.

Manusia takut kehilangan kenyamanan jika berubah. Manusia selalu bangga untuk mengakui, bangga, bangga dia dengan keberadaannya dan tidak mau mengakui kehebatan yang lain.

Manusia sering terikat dengan cara hidup yang lama dan tidak mau berubah. Hal ini juga kita dengarkan dalam bacaan pertama. Nabi Yeremia mencoba mendalami hati Allah dan mengungkapkan kekecewaan Allah karena bangsa Israel tidak mau berubah.

Saudara-saudari yang terkasih, bacaan-bacaan hari ini, terutama Injil mengingatkan kita bahwa masalah terbesar manusia bukan kurangnya tanda dari Allah. Sedemikian banyak tanda heran, mukjizat-mukjizat yang diberikan oleh Allah, tetapi yang menjadi persoalan adalah hati yang tidak membuka diri untuk berubah.

Untuk kita barangkali kita bisa mengkategorikan diri kita tidak seperti ahli-ahli Taurat dan pemuka agama yang terang-terangan menolak atau ahli-ahli Taurat yang terang-terangan meminta tanda. Tetapi barangkali kita perlu bertobat dalam hal ini. Dalam hidup keagamaan kita sering kagum. Rasa kagum, rasa sukacita, rasa bahagia ketika mendengarkan sabda Allah, ikut perayaan-perayaan liturgi, terutama dalam adorasi, dalam meditasi. Tetapi sering terjadi bahwa itu tidak mengubah apa-apa dalam hidup kita.

Hidup kita tetap sama, tidak ada perubahan apa-apa kendati pun tetap merayakan liturgi, melihat kebaikan Tuhan, melihat mukjizat-mukjizat ekaristi setiap hari. Ekaristi itu mukjizat yang paling besar di mana Allah hadir dalam rupa roti dan anggur. Tetapi sering terjadi bahwa sekembalinya dari perayaan-perayaan entah itu perayaan ekaristi, perayaan devosi-devosi, hati tetap sama.

Lewat bacaan-bacaan yang diperdengarkan kepada kita, terutama jantung bacaan hari ini, Mazmur tanggapan refren pada hari ini “Kalau kamu mendengarkan suaranya, janganlah bertegar hati.”

Dalam prapaskah ini kita diminta untuk mengubah hati bukan hanya percaya kepada Allah, tetapi mempercayakan diri kepada Allah. Mengubah hati menjadi hati yang berbeda.

Hati yang rendah, hati yang mau mendengarkan, hati yang mau berubah ketika sabda Tuhan menyentuh hidup kita.

Memang tidak gampang, Saudara-saudari. Untuk itulah kita mohonkan rahmat Allah sendiri.

Rahmat yang bisa mengubah hati menjadi pelaksana sabda Tuhan. Bukan hanya pendengar yang kagum dan heran, tetapi menjadi orang yang melaksanakan sabda Tuhan. Tuhan memberkati kita semua.

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *