Hari Minggu Palma
Minggu, 29 Maret 2026
Bacaan I :Yes. 50:4-7
Bacaan II :Flp.2:6-11
Bacaan Injil :Mat. 26:14-27:66 (panjang) atau Mat. 27:11-54 (singkat)
Yesus Sang Raja Damai
Sudah sejak Rabu Abu kita menyiapkan diri dengan berbagai laku tobat (puasa/pantang,jalan salib, renungan APP, dsb.) dan karya amal kasih. Pada hari ini Gereja merayakan Hari Raya Minggu Palma atau Minggu Sengsara. Hari Raya ini membuka rangkaian pekan suci. Salah satu kekhasannya ada hiasan daun-daun palma di gereja. Kita semua diajak untuk melahirkan cinta bakti dan hormat kepada Kristus. Banyak orang mengelu-elukan Dia sebagai Sang Raja Damai. Maka, tepatlah binatang yang ia tunggangi saat memasuki Kota Suci Yerusalem adalah keledai. Keledai merupakan binatang yang ditunggangi seorang raja saat situasi damai.
Di masa silam para raja mempunyai kebiasaan untuk setiap tahun sekali mengunjungi berbagai desa dan kota di wilayah kerajaannya. Kunjungan seperti itu dalam bahasa Yunani disebut “Epifani”. Mereka mengadakan sidak dan bertindak sebagai hakim serta menjatuhkan vonis (=hukuman). Mereka juga mengumumkan peraturan-peraturan (maklumat) serta memungut pajak. Sebagian kunjungan epifani bersifat damai, sementara sebagian lagi lebih menyerupai perang.
Rakyat dapat mengetahui tujuan kedatangan raja dengan mengamati bagaimana ia memasuki kota: naik kuda atau keledai? Pada masa itu kuda harganya amat mahal dan hanya digunakan untuk berperang. Jadi jika raja memasuki kota dengan menunggang kuda, berarti kerajaan dalam bahaya. Jika raja hanya bertujuan untuk mengadakan kunjungan damai, ia akan memasuki kota dengan menunggang keledai.
Dalam bacaan Injil hari ini kita mendengar bahwa Yesus memasuki kota Yerusalem dengan naik seekor anak keledai (keledai muda; Yun: polos). Cara inilah yang digunakan Yesus Kristus Sang Raja untuk memasuki Yerusalem. Yesus bermaksud menyampaikan dua pesan yang jelas kepada rakyat Yerusalem, yaitu: Ia adalah raja dan Ia bermaksud membawa damai sejahtera.
Kata “Yerusalem” dapat dimaknai 2 hal, baik sebagai “Ierusaleem” (Yeru-zalim) maupun “Hierosolyma” (Yeru-syalom). Dimaknai sebagai Yeru-zalim, sebab di disitulah kehadiran Yesus ditolak. Ia di-zalim-i dan divonis mati kendati tidak bersalah. Namun, di Yerusalem pula terlaksana penyelamatan bagi kita sehingga Yerusalem juga disebut sebagai Yeru-syalom. Dari sanalah mengalir syalom, keselamatan dan damai sejahtera bagi kita. Yesus menghadapi, baik Yeru-zalim maupun Yeru-syalom dengan semangat yang sama, yakni ketaatan kepada Allah dan cinta kasih kepada manusia.
Pertanyaan refleksinya, bersediakah kita menjadi rekan kerja Yesus Sang Raja Damai pada zaman sekarang ini? Apa saja tantangannya dalam mewujudkan damai di sekitar kita? Maka marilah pada Minggu Palma ini kita berdoa secara khusus “Doa Jadikanlah Aku Pembawa Damai” (PS 221).#
Yohanes Gunawan,Pr
Rektor Seminari Tahun Orientasi Rohani Sanjaya,
Jangli-Semarang
