Renungan Harian 21 Maret 2026

Dalam Yer 11: 18-20 dikisahkan: Sekali peristiwa, TUHAN memberitahukan rancangan-rancangan orang kepadaku, maka aku mengetahuinya. Pada waktu itu Engkau, TUHAN, memperlihatkan perbuatan mereka kepadaku. Sebaliknya, aku dulu seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih. Aku tidak tahu bahwa mereka mengadakan persepakatan jahat terhadap aku: “Marilah kita binasakan pohon ini dengan buah-buahnya! Marilah kita melenyapkannya dari negeri orang-orang yang hidup, sehingga namanya tidak diingat orang lagi!”

Meski demikian, TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku

Yohanes dalam injilnya (Yoh 7: 40-53) mewartakan: Ketika itu, beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata: “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata: “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal.”

Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Yesus. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menyentuh-Nya. Lalu para penjaga itu pergi kepada para imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Jawab mereka: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” Jawab orang-orang Farisi itu: “Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara para pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!”

Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada Yesus, berkata kepada mereka: “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?” Jawab mereka: “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.” Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya.

Hikmah yang dapat kita petik:

Satu, Yeremia mengalami bahwa Tuhan Allah memberitahukan kepadanya “rancangan-rancangan jahat dari para musuhnya”. Selain mengadukan persoalan yang dihadapinya, menyerahkan perkara itu, kepada Allah, dia juga minta pertolongan.

Sebagai utusan Allah, dia memberikan teladan kepada kita bahwa dia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan dan tidak main hakim sendiri.

Dua, Yohanes mengungkapkan realita bahwa para musuh Yesus berbeda pendapat dan kemudian saling bertentangan. Ada 1 hal penting yang disuarakan Nikodemus: “Sebelum ditetapkan bersalah, orang itu wajib dimintai keterangannya”. Artinya, info dari satu pihak, tidak cukup sebagai dasar untuk menghukum orang yang diduga bersalah.

Kita diajak untuk menjadi orang yang baik, benar dan bijaksana, yaitu setelah mendapatkan info yang cukup, melihat realita, mempertimbangkan masak-masak bersama dengan orang-orang bijak, barulah mengambil keputusan. Janganlah terburu-buru dalam mengambil kesimpulan/keputusan. Amin.

Mgr Nico Adi MSC

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *