Sepanjang Hidup di Dunia   

Oleh BAVO BENEDICTUS SAMOSIR, OCSO*

Sudah tiga puluh hari berlalu dan masih ada sepuluh hari perjalanan yang harus ia jalani dalam disiplin rohani sebelum merayakan Paskah, merayakan kemenangan Kristus atas dosa dan kematian. Dalam masa prapaskah ini, ia dingatkan bahwa hidup itu bukan hanya tentang kenyamanan diri semata-mata tetapi juga tentang disiplin diri dengan berpuasa dan meluangkan waktu untuk Tuhan di dalam doa. Namun, dalam perjalanan masa prapaskah yang sudah lebih setengah perjalanan ini, ia masih diingatkan terus oleh Dia yang ada di dalam hatinya untuk tetap fokus pada disposisi dan kehidupan batin, bukan hanya pada tindakan lahiriah saja atau penampilan luar saja. Disiplin diri yang bersifat lahiriah adalah sarana pertobatan untuk membawa perubahan hati dan pertobatan yang membawa langkah berjalan dalam iman dan setia bersama Dia.

Menyadari Kelemahan

Masa prapaskah adalah perjalanan pertobatan di mana kita diundang untuk lebih menyadari akan dosa dan kelemahan diri sebagai manusia di hadapan Allah. Menyadari akan kelemahan dan keberdosaan diri, bukan berarti mengajak kita untuk hidup dalam keputusasaan namun mengajak kita untuk menyadari akan rahmat dan belas kasih Allah dalam dosa dan kelemahan diri kita. Rasul Paulus membagikan pengalaman perjalanan pertobatan di dalam kelemahannya di hadapan Allah. Dalam ke dalaman hatinya, ia mendengar Allah berkata kepadanya, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9).  Ketika kita menyadari kelemahan diri di hadapan Allah dalam sikap tobat, maka Allah di dalam kasih karunia-Nya akan memberi kita kekuatan dalam kelemahan diri kita. Mengakui kelemahan adalah jalan untuk mengalami kepenuhan kuasa dan kasih karunia Allah. Untuk itu kita diajak untuk merangkul dan mengakui kelemahan diri dalam kasih karunia-Nya agar kita bertumbuh dan bertransfromasi. Menyadari kelemahan diri adalah aspek yang diperlukan dalam perkembangan hidup rohani.

Tidak ada manusia yang sempurna, kecuali dalam diri Yesus yang seutuhnya Allah dan seutuhnya manusia. Kita semua memiliki kelemahan, keterbatasan.dan memiliki kecenderungan berbuat dosa. Itulah realitas diri kita sebagai manusia. Dalam realita kehidupan mengakui kelemahan tidak selalu mudah. Kita lebih suka membicarakan kekuatan diri kita daripada kelemahan kita. Kita bahkan menolak atas realitas kelemahan diri kita karena dunia menganggap kelemahan sesuatu yang memalukan. Namun dalam perspektif belas belas kasih Allah seperti yang dialami oleh Rasul Paulus, kelemahan kita bukan sebagai penghalang tetapi sebagai bagian penting dari proses perjalanan panggilan kita sebagai murid Kristus, apapun itu status dan perannya, yakni untuk terus berkembang menuju kesempurnaan hidup kristiani yang membawa kita lebih dekat kepada Allah dan juga kepada sesama.

Sepanjang Hidup

Pertobatan tidak hanya terjadi di masa prapaskah saja namun sepanjang hidup kita di dunia ini karena dosa asal telah merasuk ke seluruh bagian kehidupan kita: pikiran kita, kehendak kita, bahkan tubuh kita sendiri. Dosa asal ini membuat kita sebagai manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa. Situasi ini menjadi pergulatan rohani dalam perjalanan hidup kita. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma 7:15, rasul Paulus menyatakan; “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari; kita semua sebagai manusia memiliki kemampuan untuk mencintai sesama kita. Kemampuan mencinta itu karena hati manusia dicipta untuk mencerminkan hati Allah yang mampu mencinta (Kejadian 1:27), karena Allah telah menanamkan hati yang baru dalam diri manusia, hati yang taat untuk mencinta (Yehezkiel 11:19). Namun di sisi lain, kita bisa membenci sesama yang kita anggap sangat menjengkelkan. Hal ini disebabkan karena dosa manusia pertama yang menyalahgunakan kebebasannya (Kejadian 3:1-6) membuat kita memiliki kecenderungan untuk berdosa. Dalam konteks ini sikap membenci yang justru bertentangan dengan diri kita sebagai gambaran Allah yang mencinta.

Dalam diri kita ada si anak bungsu yang mau mengikuti kebebasan sendiri dan pada akhirnya menyimpang dan menjauh dari jalan kebenaran Tuhan. Dalam diri kita juga ada si anak sulung yang hidup dalam kesombongan diri tanpa kasih dan pengampunan kepada sesama. Kecenderungan hidup untuk menjauh dari Tuhan merupakan akibat dosa asal yang kita terima dari dosa Adam dan Hawa. Kita mewarisi kecenderungan bawaan untuk melakukan hal-hal yang tidak baik dan tidak taat pada Allah. Namun di sisi lain sebagai ciptaan yang segambar dengan Allah, kita di dalam kebebasan memiliki kemampuan untuk mengikuti kehendak Allah melakukan hal-hal yang baik. Untuk itulah mengapa pertobatan diperlukan terus menerus sepanjang hidup agar dalam kebebasan, kita dapat mengatasi godaan dan memilih mengikuti teladan Yesus dengan berpegang teguh pada Sabda Allah (Matius 4:1-11). Kita perlu memohon sikap kerendahan hati dan rela membuang kesombongan diri sepanjang perjalanan hidup kita di dunia, khususnya dalam masa prapaskah ini.

Belum Berujung

Empat puluh senja telah ia lewati, namun perjalanan padang gurun kehidupan belum berujung. Ia sendiri tidak tau kapan tiba di ujung perjalanan. Yang pasti, ia mencoba untuk setia berjalan, meski terasa melelahkan perjalanan itu. Kadang fatamorgana memanggilnya untuk melangkahkan kaki ke arah yang tampak seperti kota kehidupan, namun ia tersadar itu bukan realitas kehidupan yang ia tuju. Itu hanya ilusi menjebak yang tampak indah namun yang tidak akan mungkin bisa tercapai. Kelelahan membuatnya hampir putus asa, namun ia melawan rasa putus asa itu. Ia berlutut dan menengadah ke langit. Dan ia mendengar suara yang memintanya untuk menyerahkan perjalanannya kepada Dia, bukan pada kehendak diri yang bisa menyesatkan. Dia yang akan menuntun menyusuri jalan yang harus ditempuh ke tempat yang ingin dituju. Diperlukan sebuah persetujuan iman dalam ketulusan, ketekunan dan ketabahan agar Dia menuntun menuju kehidupan bersama Bapa. Ia masih terus menyusuri padang gurun kehidupannya karena perjalanan itu belum berujung.

*Penulis adalah Rahib and Imam – Our Lady of Silence –Roscrea Co. Tipperary Irlandia.

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *