Mgr Yohanes Hans Monteiro sesaat setelah ditahbiskan sebagai Uskup Keuskupan Larantuka menegaskan pentingnya kesatuan tubuh, roh, dan harapan dalam hidup menggereja Umat Allah di Keuskupan Larantuka. Hal itu juga tercermin dalam moto penggembalaannya “Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes”. Berikut ini adalah petikan homilinya.
Dengan hati penuh syukur dan kerendahan hati pada hari yang penuh rahmat ini, saya berdiri di hadapan Anda sekalian sebagai seorang uskup yang baru ditahbiskan bukan oleh kehendak saya sendiri melainkan oleh panggilan dan rahmat Allah melalui Gereja-Nya.
Tahbisan episkopal bukan pertama-tama suatu kehormatan pribadi, melainkan sebuah pelayanan bagi Gereja. Dalam terang ajaran Konsili Vatikan II Lumen Gentium 21 dinyatakan episkopat adalah kepenuhan sakramen tahbisan yang menempatkan seorang uskup dalam kesinambungan para rasul sebagai tanda kehadiran Kristus sendiri di tengah umat-Nya.
Melalui penumpangan tangan dan doa tahbisan, Gereja memohon agar Roh Kudus spiritus principalis dicurahkan kepada saya supaya saya dapat menjalankan tugas sebagai pengajar iman, pengudus umat, dan gembala Gereja. Dengan demikian saya tidak datang sebagai pemilik Gereja melainkan sebagai pelayan persekutuan, penjaga kesatuan dan saksi pengharapan.
Bagi Gereja lokal Keuskupan Larantuka, tahbisan ini menegaskan bahwa Kristus sendiri terus menyertai umat-Nya sejak benih iman ditaburkan oleh para misionaris Dominikan, Yesuit, dan Serikat Sabda Allah hingga pertumbuhan iman hari ini yang dijaga dan dihidupi oleh umat sederhana melalui devosi kepada Tuan Ma Reinha Larantuka, persaudaraan awam, komunitas basis gerejani serta karya pelayanan para imam biarawan dan biarawati di keuskupan ini.
Tahbisan ini berlangsung di Gereja Katedral Larantuka, tempat saya dipermandikan, tempat saya menerima komuni pertama, tempat saya menerima sakramen tobat pertama, tempat saya menerima sakramen krisma, tempat saya ditabiskan menjadi imam. Dan hari ini menerima kepenuhan rahmat imamat.
Sebagai anak Nagi, anak kota Reinha, Gereja Katedral ini menyimpan sejarah
rohani perjalanan panggilan saya. Namun terpilih dan ditahbiskan hari ini juga menyadarkan saya akan sabda Tuhan, seorang nabi tidak dihormati di negeri asalnya sendiri.
Di tengah sambutan hangat dan dukungan umat lintas agama pada 3 Februari kemarin, saya membaca sebuah postingan berjudul begini, mahkota duri di balik sorak-sorai. Hari ini disambut, esok siap disalibkan. Ya, imamat tanpa salib berarti kekuasaan. Imamat dengan salib berarti penyerahan diri dan pengorbanan. Disalib dan melalui salib, panggilan dimurnikan.
Saudara-saudari yang terkasih, saya menyadari bahwa perayaan tahbisan ini berlangsung di tengah situasi keuskupan yang sedang terluka. Saudara-saudari kita, umatku para penyintas erupsi Gunung Lewotobi masih tinggal di hunian sementara dalam genangan lumpur dan ketidakpastian masa depan. Demikian pula Gunung Ile Lewotolok di Lembata yang masih fluktuatif. Dalam situasi ini, Gereja dipanggil untuk hadir mendengarkan dan menemani dengan kasih.
Hari ini juga kita mengakui iman Gereja yang kita hidupi bersama. Kita percaya kepada Gereja yang kudus. Namun sekaligus kita mengakui bahwa Gereja terdiri dari manusia yang rapuh dan berdosa. Kekudusan Gereja bersumber dari Kristus
Kepala tubuh dan dari Roh Kudus yang menghidupkan Gereja. Namun pada saat yang sama Gereja memikul luka-luka sejarah, kelemahan manusia dan kegagalan para pelayannya. Justru dalam ketegangan inilah kita dipanggil untuk tetap berharap karena Allah setia membentuk kembali dan menyempurnakan bejana tanah liat yang rapuh ini. Pada titik ini, iman meyakinkan kita bahwa di dalam Gereja Kristus tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
Sebagai uskup, saya dipanggil untuk mencintai Gereja bukan karena Gereja selalu sempurna, melainkan karena Gereja adalah tubuh Kristus yang terus dimurnikan oleh rahmat Allah. Saya ingin berjalan bersama umat, bukan di atas umat. Mendengarkan bukan hanya berbicara, menyembuhkan, bukan menghakimi dan membangun persekutuan, bukan perpecahan.
Pada kesempatan yang penuh rahmat ini, saya menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Bapa Suci Paus Leo XIV yang telah mengangkat saya sebagai uskup Larantuka meneruskan kegembalaan Mgr Fransiskus Kopong Kung. Kepada Bapa Suci, saya menyatakan bakti, ketaatan dan persekutuan penuh dengan takhta Petrus melalui Yang Mulia Nuntius Apostolik untuk Indonesia yang diwakili oleh Monsinur Michael.
Kepada uskup konsekrator, para uskup kokonsekrator, Bapak Kardinal, serta para uskup yang hadir. Saya mengucapkan terima kasih atas persaudaraan episkopal dan kesaksian iman yang menguatkan saya.
Secara khusus saya menyampaikan terima kasih yang tulus dan mendalam kepada Uskup Emeritus Keuskupan Larantuka Mgr Fransiskus Kopong Kung yang selama 24 tahun telah menggembalakan umat Allah dengan kesetiaan, kesabaran, dan pengorbanan. Sejak pelayanan Bapak Uskup, jejak pelayanan Bapak Uskup akan selalu menjadi bagian dari sejarah iman keuskupan ini. (Mulai miring-miring ini, topi uskup). Harap maklum latihan untuk mengenakannya).
Kepada para imam, biarawan, biarawati. Terima kasih atas kesetiaan pelayanan Anda. Anda adalah tulang punggung kehidupan Gereja.
Kepada para pemimpin pemerintah pusat dan daerah, para anggota Dewan Perwakilan Rakyat, para pimpinan perguruan tinggi, para tokoh agama, tokoh adat, masyarakat, sahabat, dan kenalan, serta seluruh umat beriman, terima kasih atas doa, dukungan, dan kerja sama demi kebaikan bersama dan martabat manusia.
Kepada panitia perayaan Tahbisan Uskup ini, saya mengucapkan terima kasih atas seluruh pengorbanan dan pelayanan Anda. Tak lupa tangan-tangan tak kelihatan, orang tua. Kedua orang tua saya sudah pergi meninggalkan kami, saudara saya ada di sini. Yang ada di kursi roda ini saudara dari Bapak saya masih tinggal bersama dengan Tatta.
Seluruh umat beriman terima kasih atas doa, dukungan, dan kerja sama demi kebaikan kita semua. Saya mengucapkan terima kasih atas pengorbanan pelayanan Anda sekalian yang telah membantu dengan cara istimewa. Sebagai uskup yang baru ditabiskan, saya datang dengan moto pelayanan Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes, Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Harapan.
Saya berharap Keuskupan Larantuka sungguh menjadi satu tubuh dalam Kristus, digerakkan oleh Roh Kudus yang satu dan diarahkan kepada satu harapan keselamatan.
Saya ingin berjalan bersama umat sebagai Gereja peziarah yang setia pada warisan iman dan devosi khas Larantuka, namun sekaligus terbuka terhadap tantangan zaman demi pewartaan Injil yang penuh kasih dan membebaskan.
Saya memohon doa dari seluruh umat agar saya setia pada panggilan ini, rendah hati dalam pelayanan, teguh dalam iman, dan penuh kasih dalam penggembalaan.
Akhirnya saya mempercayakan seluruh pelayanan ini kepada Bunda Maria yang di Larantuka dihormati sebagai Tuan Ma Reinha Larantuka, teristimewa pada hari ini pada peringatan Santa Perawan Maria menampakkan dirinya di Lourdes. Maria yang menampakkan diri pada tahun 1585 menyatakan dirinya kepada Bernadette, sebagai Immaculatae Conseptionis, Bunda Maria dikandung tanpa noda asal.
Di Larantuka menjadi bagian dari doa devosional umat dalam doa Tua Luado, Seja Maria senhora nostra consubida sem macula.
Pater Piet Heerkens, SVD dalam karyanya Leader The Florin Nation, kumpulan lagu-lagu dan teks-teks Flores 1953 menulis, adanya ketersembunyian conseptione macula, hal yang kemudian dinyatakan kepada Bernadette Soubirous tahun 1858 dan menjadi perdebatan para teolog Katolik sebelum ditetapkan menjadi dogma.
Dominikan Portugal percaya pada Maria dikandung tanpa noda. Ungkapan iman itu hidup sejak abad ke-16 di Larantuka dan Sikka juga ketika situasi tanpa iman.
Semoga Bunda Maria yang telah berabad-abad menuntun Gereja Keuskupan Larantuka dalam peziarahan iman membawa kita semua mencapai kepenuhan hidup dalam Kristus.
Terima kasih atas doa, dukungan, dan kasih Anda semua. Tuhan memberkati.
