Tahbisan Uskup Larantuka, Mgr Hans Ingatkan 3 Kesatuan Penting dalam Gereja: Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Harapan

Keuskupan Larantuka memiliki seorang uskup kembali setelah sebelumnya Mgr Frans Kopong Kung mengundurkan diri sebagai Uskup Larantuka dan diterima pengunduran dirinya oleh Tahta Suci Vatikan pada 22 November 2025. Selanjutnya, Tahta Suci Vatikan menunjuk Mgr. Yohanes Hans Monteiro sebagai uskup penerusnya. Uskup kelahiran Larantuka, 15 April 1971 itu kemudian ditahbiskan sebagai uskup di Gereja Reinha Rosari Katedral Larantuka oleh Uskup Emeritus Larantuka, Mgr Frans Kopong Kung sebagai penahbis utama, didampingi oleh Uskup Agung Ende,Mgr Paulus Budi Kleden SVD dan Uskup Maumere Mgr Ewaldus Martinus Sedu pada 11 Februari 2026.

Sejumlah uskup, imam, biarawan-biarawati dan umat awam hadir mengikuti prosesi tahbisan uskup itu dengan khidmat.

Dalam homilinya, Mgr Paulus Budi Kleden, SVD menyinggung moto yang dipilih Mgr Yohanes Hans Monteiro,”Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes”(Satu Tubuh,Satu Roh dan Satu Harapan). Menurutnya, moto tersebut menyentuh semua kelompok, mengajak seluruh umat. “Moto ini menyadarkan kita bahwa kita semua apapun perbedaan yang ada di antara kita, hidup di bawah kolong langit yang satu dan menjejakkan kaki di atas bumi yang sama. Kita adalah anak-anak dari Tuhan yang satu. Namun moto ini serentak membuka mata kita untuk melihat betapa ada jurang yang terbentang di antara kita. Jurang yang kian lebar antara mereka yang hidup dalam kelimpahan dan mereka yang merana dalam kemiskinan ekstrem.Antara yang berada di pusat kekuasaan dan yang terpental ke wilayah pinggiran. Kita sering membangun tembok pemisah dari orang yang berbeda suku dan pilihan politik. Kita hidup dalam kecurigaan yang laten terhadap mereka yang berkeyakinan lain,”katanya.

Mgr Paulus Budi Kleden, SVD

Dengan motonya yang terinspirasi dari Surat Santo Paulus kepada umat di Efesus,menurutnya, Mgr Hans mengingatkan kita akan tiga dimensi kesatuan yang sangat-sangat penting.Pertama, Unum corpus, satu tubuh. “Kita adalah satu tubuh.Sebagaimana dikatakan Santo Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma. Tubuh ini memiliki banyak anggota. Satu Gereja yang mempunyai satu Kepala yaitu Kristus yang mempersatukan anggota yang berbeda-beda dalam satu kesatuan masing-masing dengan perannya yang khas. Perbedaan tidak menjadi alasan untuk memandang diri lebih penting dan lebih berkuasa dari yang lain atau lebih rendah dan tidak berarti.Kesatuan dijamin oleh seorang pemimpin yang mendengarkan dan memberi ruang bagi semua untuk berpartisipasi, tetapi serentak mesti menunjukkan arah dan berani mengambil keputusan. Karena itu ketaatan dibutuhkan untuk mewujudkan kesatuan seperti ini. Membawa semua orang ke dalam kesatuan berarti mencari dan merangkul semua, terutama mereka yang karena alasan tertentu menjauhkan diri atau dijauhi orang,” ungkapnya.

Merawat kesatuan,menurutnya,berarti mencegah satu kelompok menjadi terlampau dominan sambil menutup ruang bagi yang lain, selalu memilih melihat kenyataan dari perspektif korban, mempererat persatuan, menuntut usaha sungguh untuk merangkul mereka yang kehilangan pegangan dan makna hidup, memberi perhatian istimewa kepada anak-anak dan kelompok orang dewasa yang menderita karena berbagai bentuk kekerasan dan kemiskinan. “Kemiskinan harta, kemiskinan relasi,kemiskinan empati, kemiskinan perhatian dan waktu,” katanya.

la menambahkan, menjaga kesatuan berarti menumbuhkan kepekaan untuk menangkap desahan tanpa suara dari mereka yang berada di jurang keputusasaan,terutama anak-anak. “Memelihara kesatuan memerlukan kesediaan dan keberanian mengatasi ketersinggungan pribadi dan menumbuhkan kerelaan saling mengampuni.Dalam Injil hari ini,Yesus yang bangkit menghembusi para murid-Nya dengan Roh Kudus dan memberi mereka kuasa untuk mengampuni,”katanya. Kedua, unus spiritus. Satu roh, satu semangat. “Tanpa semangat yang sama,tubuh yang satu menjadi tidak berdaya.Kesatuan roh itu diuraikan oleh Nabi Yesaya dalam bacaan pertama hari ini. “Roh Tuhan ada padaku”. Roh itu dicurahkan kepada kita semua anggota Gereja. Roh itu diberikan kepada Bapak Uskup. Roh itu diberikan kepada setiap orang yang ditahbiskan, diturunkan atas Bapak Uskup Hans supaya dibebaskan dari penjara ingat diri dan kecemasan akan keamanan diri. Kita berani dan sanggup mewartakan kabar pembebasan untuk melepaskan para petani dan nelayan kita dari genggaman para tengkulak yang kian agresif,membebaskan keluarga-keluarga kita dari cengkeraman para pelaku lembaga keuangan yang tidak saja memiskinkan tetapi juga merendahkan harga diri mereka seperti pinjaman online dan koperasi harian atau koperasi mingguan. Agar ada keberanian untuk melawan praktik-praktik perdagangan orang dan menghentikan pembabatan hutan,pencemaran air, dan eksploitasi kekayaan alam yang menghancurkan ekosistem dan menggoyahkan kesatuan masyarakat. Semangat roh seperti ini perlu dihidupkan supaya Gereja tidak sekadar menjadi sebuah struktur yang rapi tertata, tetapi supaya kesatuan ini sungguh menjadi sakramen keselamatan, tanda yang berdaya dan bermanfaat bagi banyak orang terutama yang mengalami perlakuan yang tidak adil,” kata Mgr Budi.

Dengan menjadi imam atau uskup, sambung Mgr Budi, kita disebut rohaniwan yang berurusan dengan roh. “Namun, seorang rohaniwan tidak hanya tidak dilarang,tetapi mendapat kewajiban berbicara juga tentang yang duniawi dan mengupayakan kebaikan yang bersifat material. Kita turut bertanggung jawab atas ketimpangan yang terjadi, atas luka kemiskinan yang menyayat, kemiskinan dengan berbagai konsekuensinya. Pandangan Kristiani tidak pernah memisahkan tubuh dari roh. Sebab seperti yang kita doakan dalam setiap perayaan ekaristi, roti dan anggur yang kita persembahkan untuk diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus adalah hasil bumi dan usaha manusia. Ya, yang dipersembahkan di atas altar Tuhan adalah pemberian bumi dan buah kerja keras manusia. Karena itu perhatian pada kelestarian bumi dan komitmen untuk memperjuangkan hak-hak dasar manusia adalah bagian utuh dari tanggung jawab semua yang membawa persembahan di atas altar Tuhan,” kata Mgr Budi.

Ketiga, Una Spes, satu harapan. “Bergerak bersama sebagai satu tubuh dalam semangat yang sama di bawah tuntunan Roh yang kudus menyalakan di dalam diri kita api harapan yang sama yakni hidup dalam Kristus yang bangkit menjadi Gereja tubuh Kristus yang terlibat di tengah perjuangan hidup umat dan masyarakat kita,”katanya.

Sebagaimana yang dihidupi dalam Tahun Yubileum dan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia V, Mgr Budi mengingatkan kita semua akan pentingnya menjaga dan menyebarkan api harapan. “Memancarkannya ke tengah dunia yang kian terancam kehilangan harapan. Juga karena kita para pemimpin lebih sering menggunakan jalan kekerasan, lebih mudah cuci tangan dan mempersalahkan orang lain,dan lebih suka menyebarkan ancaman dan ketakutan daripada penghargaan dan dialog. Kita perlu menyalurkan harapan ke tengah Gereja kita yang butuh nafas yang panjang untuk menghadapi berbagai tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Harapan yang tunggal itu berpijar dalam berbagai kerinduan, penantian, dan kesabaran para pelayan, para pekerja, para pejuang,” katanya.

Uskup Emeritus Larantuka Mgr Frans Kopong Kung dalam sambutannya mengajak Umat Allah Keuskupan Larantuka untuk bekerja sama dengan Mgr Hans. “Hari ini sudah resmi Mgr Hans menjadi uskup kita di Keuskupan Larantuka.Saya mengajak marilah seluruh umat, para imam, biarawan, biarawati, semua tokoh umat,awam-awam Katolik, juga generasi muda, orang-orang muda Katolik,kaum remaja,mari semuanya kita bergandengan tangan berjalan bersama dengan uskup baru ini untuk membangun keuskupan ini menuju Gereja umat Allah yang makin dewasa,mandiri dan misioner. Satu kawanan di bawah satu gembala. Beliau gembala kita dan di bawah gembala utama adalah Kristus sendiri. Mari mendukung,bekerja sama, dan mendoakan beliau,” ajaknya.

Mgr Frans Kopong Kung

Uskup tertahbis, Mgr Hans dalam sambutannya berharap, Keuskupan Larantuka sungguh menjadi satu tubuh dalam Kristus, digerakkan oleh Roh Kudus yang satu dan diarahkan kepada satu harapan keselamatan. “Saya ingin berjalan bersama umat sebagai Gereja peziarah yang setia pada warisan iman dan devosi khas Laratuka, namun sekaligus terbuka terhadap tantangan zaman demi pewartaan Injil yang penuh kasih dan membebaskan. Saya memohon doa dari seluruh umat agar saya setia pada panggilan ini, rendah hati dalam pelayanan, teguh dalam iman, dan penuh kasih dalam penggembalaan,” ujarnya.

Mgr. Yohanes Hans Monteiro

Sementara itu, Perwakilan Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr Michael A.Pawlowicz mengajak umat untuk bersyukur karena Keuskupan Larantuka kini memiliki seorang gembala baru dan berpesan kepada Mgr Hans. “Paus Leo memilih Anda sebagai uskup untuk mengasihi Gereja Kristus dan untuk menjadi gambaran kasih Bapa yang hidup bagi kita semua. Saya percaya bahwa Anda akan melakukan hal ini dengan semangat dan kemurahan hati, dengan dukungan klerus Anda, kaum hidup bhakti yang berkarya di Keuskupan dan dengan semua umat beriman Kristus.Andalkanlah selalu saudara-saudara uskup Anda! Kasihilah para imam Anda! Percayalah pada rekan kerja Anda! Dan mampukanlah umat beriman bekerja bersama Anda guna memperdalam Injil dalam hidup kita sehari-hari!” pesannya.Demikian pula, ia berpesan kepada semua imam, kaum hidup bhakti dan umat beriman awam di Larantuka. “Kalian, dengan penahbisan uskup baru, Anda juga memiliki peran sangat penting dalam membantu Mgr Montero melaksanakan tugas luhur ini.Seperti Simon-Simon dari Kirene yang membantu Yesus memikul salib suci, Uskup Hans membutuhkan kerja sama Anda juga. Saya mendorong Anda untuk mendoakannya setiap hari untuk mengasihi dan menaatinya dan rela membantunya dalam cara apapun yang dimintanya. Marilah kita mempercayakan gembala baru kita dan pelayanannya ke dalam perlindungan dan doa-doa Bunda Maria, Tuan Ma, agar ia selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar dan karenanya dapat membangun Gereja dalam satu tubuh, satu roh, satu pengharapan,” demikian pesannya.

Sedangkan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC dalam sambutannya mengatakan, tubuh itu satu tetapi bermacam-macam sebagaimana kain tenun dalam satu daerah Flores Timur bahkan di Larantuka pun bermacam-macam. “Itulah Gereja, itulah Gereja bineka tunggal ika. Itulah Indonesia. Dan Gereja harus memberi kompas moral dan spiritual bahkan kompas sosial akan bineka tunggal ika ini. Kesatuan di dalam Gereja. Satu tubuh,satu roh yaitu Roh Kristus sendiri sehingga kita bisa menjadi satu memiliki satu pengharapan. Hanya komunitas Gereja inilah yang dapat memberikan damai sejahtera,” katanya.

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *