Renungan Harian 15 Maret 2026

Hari Minggu Prapaskah IV

Minggu, 15 Maret 2026

Bacaan I              :Sam. 16:1b,6-7,10-13a

Bacaan II             :Ef.5:8-14

Bacaan Injil : Yoh. 9:1-41 (panjang) atau Yoh. 9:1,6-9,13-17,34-38 (singkat)

Yesus Sang Terang Kehidupan

Minggu Prapaskah IV disebut juga Minggu Sukacita (Minggu Laetare). Dalam Bacaan Injil Minggu Prapaskah III kemarin, kita diajak merenungkan tentang air kehidupan. Yesuslah Sang Sumber Air Hidup. Pada hari Minggu Prapaskah IV ini, kita diajak merenungkan tentang terang kehidupan. Sebagaimana air merupakan kebutuhan mutlak kita untuk hidup, demikian pula terang juga mutlak kita butuhkan untuk melihat dan memilih yang baik sehingga selamat.

Kita semua tentu mengamini bahwa terang akan membawa kita pada kehidupan dan keselamatan sedangkan gelap akan membawa kita pada kesengsaraan. Kalau tidak percaya, silakan dicoba: nanti malam listrik di rumah tidak usah dinyalakan sama sekali atau kalau mengendarai motor/mobil saat malam tidak usah pakai lampu. Apa kira-kira yang akan terjadi? Gelap.

Tuhan Yesus membuat mukjizat penyembuhan bagi orang buta sejak lahir. Bagi orang Yahudi,dosa dan cacat badaniah erat berhubungan. Bahkan murid-murid percaya bahwa penderitaan atau cacat pasti akibat dosa, entah dosa orang itu sendiri atau orangtuanya. Namun Tuhan Yesus dengan tegas menolak anggapan itu. Bagi Yesus, yang bersalah bukan dia dan bukan juga orang tuanya,tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Pesannya kiranya jelas, yakni jangan suka mencari kambing hitam, tetapi mari kita berusaha mencari dan peka terhadap hikmah dari peristiwa yang terjadi.

Melalui kisah penyembuhan orang yang buta sejak lahir ini, kita diajak merenungkan dan menimba inspirasi tentang perjalanan iman kita dari gelap menuju terang, baik secara fisik maupun spiritual. Si buta disembuhkan secara fisik dan spiritual. Karena setelah menyembuhkan mata si Buta sehingga ia bisa melihat, Yesus juga membuka hatinya sehingga ia percaya kepada Yesus sebagai Nabi,Anak Manusia dan Mesias.

Secara fisik kita tidak buta, namun bukankah secara rohani kita semua dilahirkan buta? Kita buta sama sekali tentang iman. Kita juga buta tentang Tuhan. Baru dalam perjalanan waktu, kebutaan kita itu dibuka sedikit demi sedikit. Tahap awal keterbukaan iman kita ini, kita alami melalui kesediaan kita untuk menerima Sakramen Baptis. Oleh orangtua, katekis, guru agama, para romo, dan lain-lain kita dibimbing untuk semakin mengenal Tuhan dan beriman kepada-Nya. Dengan dibaptis, kita diangkat menjadi anak-anak Allah dan anak-anak terang (Bacaan II).

Sekarang, bagaimana caranya kita menghayati identitas kita sebagai anak-anak terang itu? Ada Tiga hal bisa kita upayakan: pertama, kita berani bersaksi tentang pengalaman iman kita berjumpa dengan Tuhan dan mendapatkan rahmat (mukjizat) dari Tuhan. Kedua, kita memancarkan terang dalam hidup sehari-hari, baik di rumah, di sekolah, di tempat kerja, maupun di masyarakat. Ketiga,kita tidak tersandung dan menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Masa Prapaskah adalah masa untuk menemukan Sang Terang Sejati. Hidup kita kadangkala diwarnai oleh kegelapan, kepenatan, dan kebutaan. Kita diajak untuk menjadi seorang Katolik sejati dengan melihat kehadiran Allah yang menyelamatkan di balik segala peristiwa hidup kita. Yang diperlukan dari pihak kita adalah kepekaan akan kehadiran Allah yang terus-menerus menyapa kita.

Pertanyaan refleksinya, apa saja yang bisa membuat kita buta terhadap kasih Allah dan kebaikan sesama dalam hidup sehari-hari? Bagaimana cara yang perlu dilakukan agar hidup kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain?#

Yohanes Gunawan,Pr

Rektor Seminari Tahun Orientasi Rohani Sanjaya,

Jangli-Semarang

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *