Yesus dipersembahkan ke Bait Allah. Demikian juga seluruh Pribadi-Nya. Dan dalam ekaristi kita juga diminta untuk mempersembahkan diri kita. Kalau kemudian kita menyebut bahwa ekaristi adalah sumber dan puncak keselamatan, sebagai puncaknya adalah persembahan diri kita semua yang disatukan dengan kurban Tubuh Kristus sendiri, lalu dari sana kita mengambil kekuatan agar kita dalam hidup beriman sehari-hari bisa berbuah kebaikan kepada sesama yang kita jumpai. Hal itu disampaikan Uskup Tanjungkarang, Mgr Vinsensius Setiawan Triatmojo dalam Misa Tahun Yubileum St. Fransiskus Asisi – Gereja Santo Yusup Pringsewu, 2 Februari 2026.
“Sehingga beriman tidak berhenti di tata ibadah dalam gereja atau mungkin hari-hari tertentu, Sabtu dan Minggu, tetapi menjadi perwujudan kasih Tuhan yang kita salurkan kepada sesama dalam kehidupan sehari-hari,” katanya dalam misa yang bertepatan dengan Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah itu.
Mgr Avin mengajak umat untuk mengambil inspirasi dari Pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah supaya bisa mengingat secara terus-menerus kita yang lemah dan rapuh dalam kemanusiaan ini butuh rahmat surgawi supaya kita mampu mewujudkan dan melaksanakan tugas panggilan kita untuk membawa kasih Allah. “Sehingga siapapun yang berjumpa dengan kita, pengikut Kristus, orang Katolik yang sudah dikuatkan dalam ekaristi, mendapat pelayanan dari kita dan mereka juga bergembira seperti yang dialami oleh Simeon,” katanya.
Simeon ketika melihat Yesus bergembira dan mengatakan, “Sekarang Tuhan, perkenankanlah hamba-Mu ini berpulang”. “Tidak dalam arti kalau orang lain sudah berjumpa dengan orang Katolik mengucapkan doa yang sama. “Sekarang Tuhan perkenankanlah hamba-Mu ini berpulang”. Tidak. Tapi mereka bergembira bahwa sudah boleh melihat kebaikan Tuhan melalui kebaikan kita semua pengikut Kristus,” ungkap Mgr Avin.
Mgr Avin mengingatkan, kesalahan dalam memahami atau kalau gagal paham tentang ekaristi dan yang terkait di dalamnya, barangkali bisa membuat seseorang hanya akan berhenti pada hal-hal seremonial saja. Bahkan tak hanya soal ekaristi, termasuk juga dalam hal berdoa. Dan selanjutnya kita berpikir bahwa memang hanya itulah cara beriman kita. “Nah, Gereja yang mengajarkan tentang kebenaran Kristus mengajak kita harus sampai secara katakanlah benar ya, menghayati iman kita. Apa yang kita ungkapkan di dalam perayaan-perayaan iman yang juga kita kemudian perlihatkan dalam persekutuan kita sebagai Gereja Katolik yang punya tugas harus saling mengasihi, saling melayani juga harus kita wujudkan secara sosial di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Menurutnya, Keuskupan Tanjungkarang sudah menyiapkan Arah Dasar Keuskupan supaya Umat Allah berbuah. “Hidup beriman kita tidak berhenti di dalam altar atau di sekitar altar, di dalam gereja, tetapi justru harus nyata di tengah masyarakat,” katanya.
Terkait dengan Yubileum St. Fransiskus Asisi, Mgr Avin mengajak umat supaya sungguh meneladan Santo Fransiskus Asisi. Menurutnya, Santo Fransiskus Asisi adalah orang yang sungguh mengikuti perintah Yesus, termasuk dalam hal berbagi kepada orang-orang miskin. “Fransiskus Asisi mengikuti perintah Yesus. “Pergilah, juallah segala milikmu, dan berikanlah kepada orang miskin!”” kata Mgr Avin.
Menurutnya, umat Katolik diminta untuk betul-betul tidak terikat oleh harta duniawi supaya bisa mengikuti Yesus secara total.
Dalam hal ini ada umat Katolik yang mempersembahkan diri secara total dengan menjadi kaum religius ataupun imam. “Artinya seluruh pribadinya untuk Tuhan ya. Tapi tidak tertutup kemungkinan juga untuk umat, untuk awam. Kita juga tahu banyak orang yang dengan sukarela, dengan ikhlas mempersembahkan apa yang dipunyai untuk kepentingan banyak orang,” kata Mgr Avin.
Mgr Avin berharap, di Tahun Yubileum Fransiskus Asisi, umat tidak hanya berdoa dan mengklaim mendapat inspirasi dari Fransiskus Asisi dan mendoakan doa-doanya, tetapi juga mendukung banyak karya-karya belas kasih yang ditujukan kepada mereka yang disebut Yesus sebagai saudara-saudara-Nya yang hina-dina.
“Keuskupan kita akan memulai pelayanan untuk kaum ODGJ. Sudah ada panti untuk kaum difabel. Belum ada untuk misalnya nanti panti asuhan, panti jompo,” katanya. Meskipun ada tarekat yang sudah melakukan pelayanan panti asuhan dan panti jompo, namun masih banyak yang membutuhkannya. “Karena masih banyak orang yang menjadi bagian dari mereka yang disebut saudara-saudara Yesus yang hina-dina. Artinya kita tidak cari enak, kita tidak masuk dalam zona nyaman, tetapi bersama-sama Gereja sebagai kesatuan Keuskupan Tanjungkarang juga siap untuk punya karya-karya belas kasih, menjangkau mereka yang tidak terjangkau, merangkul mereka yang selama ini tidak terangkul, dan menyentuh mereka yang selama ini tidak tersentuh. Maka mari juga di Tahun Yubileum Santo Fransiskus Asisi ini kita semakin banyak berbuat baik dan berbuat kasih bagi mereka yang sangat membutuhkan,” ajaknya.
