Mgr Adrianus Sunarko OFM menyampaikan bahwa kerap kali manusia terpesona pada keindahan alam ciptaan namun tidak sampai pada Sang Penguasa. Hal itu disampaikannya dalam Perayaan Ekaristi Pembukaan Tahun Pastoral 2026 Keuskupan Pangkalpinang di Kevikepan Utara, Gereja Paroki St. Petrus, Lubuk Baja, Batam, 8 januari 2026.
Hal itu juga tersirat dalam Kitab Kebijaksanaan bacaan pertama waktu itu. “Tadi kita mendengar bahwa alam ciptaan yang mengagumkan semua yang indah, bintang-bintang, api, angin, dan badai yang dilihat membuat manusia terpesona oleh kuasa dan daya itu dan menyembahnya. Di satu sisi bahaya bahwa kita berhenti pada keindahan alam ciptaan, tetapi tidak sampai pada Penguasa,” katanya.
Mgr Sunarko juga menyampaikan adanya kerinduan manusia pada Sang Ilahi yang tidak terlihat.
“Kalau kita perhatikan budaya-budaya ya, agama-agama, semua menunjukkan kerinduan umat manusia untuk bagaimana caranya ya melihat Allah, menemukan Allah yang memang tidak kelihatan itu, merasakan kehadiran-Nya,” ungkapnya.
Bahkan dalam suku atau budaya tertentu penghormatan pada Sang Ilahi diekspresikan melalui penghormatan pada ciptaan. “Ada suku bangsa tertentu yang kemudian melihat dalam binatang-binatang tertentu itu jelmaan dari yang ilahi,” ungkapnya.
Bahkan ada juga bangsa yang menghormati pohon tertentu sebagai jelmaan yang ilahi. “Tentu juga ada bangsa-bangsa lain yang mungkin bukan kita lagi atau yang melihat juga dalam pohon-pohon, tanaman-tanaman jelmaan dari yang ilahi. Ungkapan kerinduan setiap orang manusia akan perjumpaan dengan Allah yang memang tidak kelihatan,” katanya.
Dalam hal itu, menurutnya, sebagai umat Kristiani kita memiliki keistimewaan karena meyakini Sang Ilahi yang menjelma menjadi Manusia. “Karena bagi kita Yang Ilahi tidak menjelma menjadi hewan-hewan, tidak menjelma menjadi pohon-pohon atau apapun yang lain, tetapi Firman menjadi Manusia,” katanya.
Menurutnya, dalam Firman yang menjadi manusia kita menemukan apa yang kita rindukan sebagai manusia pada umumnya yang rindu untuk bertemu dengan Allah. “Kita mendapat anugerah besar karena Yang Ilahi sendiri sudah berkenan menjadi seperti kita manusia dan bukan ciptaan-ciptaan yang lain. Mudah-mudahan dengan demikian godaan atau bahaya yang tadi kita dengarkan dalam bacaan pertama tentang orang yang berhenti pada keindahan ciptaan-ciptaan dan menyembahnya, lupa pada Allah, tidak kita alami karena iman kita akan Yesus Kristus,” katanya.
Meski demikian, menurutnya, tekanan yang demikian besar pada manusia ini mungkin mempengaruhi juga hidup Gereja. “Sehingga untuk waktu yang lama kita selalu bicara mengenai Tuhan yang datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia sehingga kemudian alam ciptaan yang lain sedikit diabaikan dan dianggap tidak langsung berkaitan dengan iman kita. Kalau kita baca buku-buku katekismus dan menemukan pertanyaan untuk apa Yesus datang ke dunia? Untuk menyelamatkan manusia. Untuk apa Yesus disalibkan, disalib? Untuk menebus dosa manusia.
Jadi, alam ciptaan yang lain itu menjadi seperti nomor dua. Tidak ada kaitannya dengan karya penebusan Allah. Tekanan yang mungkin terlalu berlebihan pada unsur manusia itu,” katanya.
Menurutnya, Kitab Suci kita juga banyak berbicara tentang Allah, manusia dan ciptaan-ciptaan yang lain seperti dalam Injil Matius. “Tadi kita mendengar, “Pandanglah burung-burung di langit yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga”,” katanya.
Mgr Sunarko mengatakan, yang diperhatikan bukan hanya manusia, tetapi juga alam ciptaan yang lain. “Maka kalau ada guru-guru agama di sini nanti perhatikan ya, katekismus perlu diulang, ditulis ulang. Untuk apa Yesus datang ke dunia? Tidak hanya berkaitan dengan manusia, karya keselamatan, tetapi juga dengan seluruh alam ciptaan,” katanya.
Ia pun menyampaikan sejumlah teks lain dalam Kitab Suci untuk menunjukkan bahwa Kitab Suci selain berbicara tentang Allah-manusia juga ciptaan-ciptaan yang lain. “Misalnya, dalam Kitab Ulangan dikatakan demikian. “Apabila engkau melihat keledai saudaramu atau lembunya rebah di jalan, janganlah engkau pura-pura tidak tahu. Engkau harus benar-benar menolong membangunkannya bersama-sama dengan saudaramu itu.” Apa tadi? Keledai, lembu, dan saudaramu. Tiga-tiganya jatuh. Yang ditolong siapa? Engkau harus benar-benar menolong, membangunkannya bersama dengan saudaramu. Jadi keledainya juga harus ditolong, lembunya juga,” ungkapnya.
Mgr Sunarko pun melanjutkan pada Kitab Ulangan 22:6 “Apabila engkau menemui di jalan sarang burung di salah satu pohon atau di tanah dengan anak-anak burung atau telur-telur di dalamnya, dan induknya sedang duduk mendekap anak-anak atau telur-telur itu, maka janganlah engkau mengambil induk itu bersama-sama dengan anak-anaknya”. “Kitab Suci kita juga bicara tentang Allah yang mau menyelamatkan juga alam semesta,” tuturnya..
Ia juga menyampaikan pernyataan para uskup di Brazil yang juga memperlihatkan relasi keselamatan manusia dan ciptaan lain. “Seluruh alam merupakan tempat kehadiran-Nya. Dalam setiap makhluk tinggallah Roh-Nya yang memberi hidup dan memanggil kita untuk masuk ke dalam hubungan dengan-Nya, menemukan kehadiran ini mendorong kita untuk mengembangkan kebajikan-kebajikan ekologis.”
Mgr Adrianus mengatakan, selain karena masalah-masalah yang muncul terkait kerusakan alam ciptaan, iman kristiani juga mengajak kita untuk memperhatikan bumi sebagai sebagai rumah bersama.
“Saudara-saudara sekalian, latar belakang selain juga masalah-masalah yang real kita hadapi berkaitan dengan alam ciptaan, tetapi juga oleh karena memang iman kita mengajak kita semua untuk memperhatikan rumah bersama, bumi tempat kita tinggal,” katanya.
Dengan demikian, menurutnya, kita juga ikut memperhatikan keprihatinan yang disampaikan almarhum Paus Fransiskus dalam dokumennya yang terakhir Laudate Deum yang ditulis 8 tahun setelah ia mengeluarkan ensiklik Laudato Si’. “Dan beliau agak kecewa karena setelah 8 tahun menyerukan itu belum ada tanggapan-tanggapan yang cukup,” katanya. Berikut tulisan Paus Fransiskus dalam Laudate Deum, “Delapan tahun telah berlalu sejak saya menerbitkan Ensiklik Laudato Si’, ketika saya ingin berbagi dengan Anda semua, saudara-saudari di planet kita yang menderita ini, suatu keprihatinan saya yang tulus terhadap pemeliharaan rumah kita bersama. Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa tanggapan kita belumlah memadai, sementara dunia tempat kita hidup sedang menuju keruntuhan dan mungkin mendekati titik puncaknya. (LD 2)”.
Mgr Adrianus berharap pada tahun 2026 ini, umat Keuskupan Pangkalpinang sungguh memperhatikan alam ciptaan seraya membangun dialog lintas agama. “Mudah-mudahan tahun ini menjadi tahun di mana kita berusaha memberi perhatian khusus pada alam ciptaan, lingkungan hidup. Tapi saya juga ingin mengajak kita semua untuk melihat ini sebagai kesempatan untuk membangun dialog dengan penganut-penganut agama lain,” katanya.
Hal ini sangat penting terlebih ketika Kementerian Agama RI saat ini juga telah menyusun Kurikulum Berbasis Cinta yang mengintegrasikan 5 nilai utama yakni cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa, cinta pada diri dan sesama, cinta kepada ilmu pengetahuan, cinta kepada lingkungan, dan cinta kepada bangsa dan negeri.
“Mari kita ikut dalam arus ini untuk memperhatikan alam ciptaan kita, tapi juga menggunakannya sebagai kesempatan untuk makin bisa berdialog dengan teman-teman penganut agama lain yang juga punya keprihatinan yang sama,” pungkasnya.
