Renungan Harian 11 Maret 2026

Dalam Ul 4: 1.5-9 dikisahkan Musa berbicara kepada bangsanya: Hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu. Ingatlah, bahwa aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya.

Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata para bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi. Bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya? Dan bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum ini, yang kubentangkan kepadamu pada hari ini?

Sebaliknya, waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan cucu cicitmu semuanya itu.

Matius dalam injilnya (Mat 5: 17-19) mewartakan sabda Yesus: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga. Dan siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

Hikmah yang dapat kita petik:

Satu, Musa sebagai orang kepercayaan Allah tetap bertanggung jawab dan termotivasi untuk menyerukan dan mengulangi lagi perintah Allah agar hidup bangsanya dan anak cucu mereka terjamin dan bahagia.

Musa memberi teladan bahwa meski ada Harun dan tua-tua Israel yang menyertai dia, tanggung jawab tetap ada di tangannya. Itu berarti kesuksesan dan kegagalan anak buah tetap ada di tangan pemimpin. Tidak adil dan tidak benar bila sukses itu kesuksesan pemimpin, dan bila gagal/salah, itu tanggung jawab anak buah.

Dua, Yesus datang untuk menggenapi/menyempurnakan Taurat (= hukum yang sudah dihidupi), bahkan membela hukum itu terhadap keputusan pihak-pihak yang dengan sewenang-wenang hendak mengganti/menguranginya. Dia sendiri butuh waktu 30 tahun untuk memahami hukum itu, sebelum menggenapinya. Menghormati dan melakukan hukum/kearifan lokal masyarakat setempat, adalah langkah/sikap yang bijaksana. Jangan terburu-buru untuk membuat perubahan/penyempurnaan. Amin.

Mgr Nico Adi MSC

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *