Mgr. Aloysius Sudarso SCJ: Kebaikan Itu Adalah Membagi Dirinya Sendiri

Ketua Badan Pengurus Caritas Indonesia, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ menjelaskan, Caritas Indonesia diberi tugas oleh Gereja, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) untuk menemani keuskupan-keuskupan di Indonesia terutama ketika mengalami bencana atau penderitaan. “Maka respons segera dibuat. Direktur dan staf kerja keras sambil untuk menanggapi persoalan ini,” katanya dalam  Talkshow “Berjalan Bersama Di Tengah Krisis: Kemanusiaan, Harapan Dan Pemulihan Di Sumatera”, 15 Januari 2026.

Menurutnya hal itu didorong dan disatukan oleh semangat kemanusiaan yang sama. “Ya, kesatuan kita pertama-tama adalah kemanusiaan itu terdampak begitu besar, mengerikan. Apalagi saya sendiri. Sebetulnya orang Sumatera, merasa sangat berat menghadapi itu dan sedih juga. Oleh karena itu, ini yang sebetulnya menyapa kita terus terang bahwa kita adalah saudara sebagai manusia dan juga sesama kita, saudara kita itu menderita. Kalau kita, kalau mereka menderita tentu kita juga ikut dalam penderitaan itu, berbela rasa. Itulah semangat yang harus terus digumuli oleh Caritas. Tentu Caritas, Caritas di keuskupan bahkan di tingkat-tingkat basis supaya berkembanglah semangat kasih seperti itu,” katanya. Itu semua, menurutnya, karena sebagai satu famili dan ada yang sedang menderita, maka yang sedang menderita harus didampingi dengan cara apapun.

Lebih lanjut, Mgr Sudarso juga mengatakan, keterlibatan Caritas Indonesia juga didasarkan karena kesadaran bersama bahwa kita hidup di rumah bersama. “Kita juga merasa sebagai hidup dalam dunia di rumah bersama apalagi pulau Sumatera ini yang dulu diharapkan sebagai pulau harapan di Indonesia ini. Pulau harapan bahkan diberi gelar macam-macam Pulau Emas, macam-macam karena kekayaannya. Tapi dalam suasana ini memang sangat mengejutkan bahwa Sumatera kena musibah, musibah yang sangat menghanguskan masyarakat dan juga bumi kita bersama, tempat hidup kita bersama. Oleh karena itu, dalam hal ini kita ditugaskan oleh Gereja setempat, oleh Gereja Indonesia, Caritas Indonesia itu untuk menjadi teman, mendampingi, menyertai penderitaan yang dialami oleh Gereja setempat, terutama keuskupan dalam menghadapi persoalan-persoalan ini,” ujarnya.

Selain Caritas Indonesia yang hadir mendampingi korban bencana ekologis, Mgr Sudarso melihat adanya semangat yang tinggi dalam merespons bencana tersebut secara serentak dan bersama-sama. “Kita merasa bahwa gerakan yang dibuat oleh Gereja setempat, oleh Bapak Uskup, Romo Vikjen dan juga teman-teman dari Caritas Keuskupan sangat tanggap. Juga relawan-relawan, menjadi jelas, bahwa mereka bergerak, melihat bahwa ini memang bencana yang mengenai kita semua. Bukan hanya yang kena, tetapi mengenai kita semua,” katanya.

Oleh karena itu, Mgr Sudarso, sangat menghargai gerakan dari Keuskupan Sibolga yang menanggapi bencana tersebut dengan merespons secara cepat. “Kita juga dengan sepenuh hati menemani dan juga membantu bagaimana masyarakat Sibolga bisa dibantu menjadi baik kembali seperti sedia kala,” ungkapnya.

Menghadapi bencana, menurutnya, Caritas itu harus melangkah lebih cepat seperti dikatakan Santo Paulus, caritas urgentus, mendesak. “Caritas itu selalu sifatnya mendesak kepada kita. Maka kita bersama, terutama Romo Direktur, itu membantu staf-staf itu untuk mempunyai arti yang seperti itu. Tentu ini dalam proses, dalam perkembangan, dalam retret, dalam pendidikan dan sebagainya bersama sharing bersama bagaimana kita bisa bergerak cepat ketika ada suatu masalah,” katanya. Menurutnya, tindakan cinta kasih mesti dibuat lebih cepat dari biasa, “karena ini menolong sesama manusia apalagi bencana yang terjadi di Sumatera kemarin ini sangat-sangat berat, sangat mengerikan, sangat berat.” “Maka kita juga harus berbuat secepat mungkin dan juga bergerak minta bantuan sana-sini, dalam negeri, teman-teman, donatur-donatur untuk bisa membantu itu semuanya. Jadi gerak cepat memang harus,” tambahnya.

Lebih lanjut Mgr Sudarso membeberkan, caritas itu adalah cinta. “Cinta itu intinya adalah membagi diri dan membagi diri. Jadi cinta itu harus membagi. Dan kami Caritas ini adalah sebutnya menjadi bridging bridge, jembatan yang bridging, melanjutkan apa yang kita terima, bukan kepunyaan kita sendiri, dari para donatur dan begitu banyak orang kita yang mempunyai cinta, harus menjadi bridging bridge, jembatan yang menghubungkan, memberikan hidup seperti itu. Jadi itu harus dibina dalam umat juga ya, bagaimana bisa menjadi jembatan yang menjembatani walaupun itu bukan punya saya sendiri, bukan punya kami sendiri karena kita mengumpulkan dari donatur-donatur, orang yang peduli, tapi harus dijiwai, dibina semangat caritas seperti itu ya seperti yang diharapkan Tuhan, membagi, memberi. Kalau dalam bahasa Latin kan bonum. Bonum itu kebaikan. Bonum est diffusivum sui. Kebaikan itu adalah membagi dirinya sendiri. Nah, maka kita coba membagi yang kita terima dari banyak orang lain, juga untuk membantu ya. Itu bukan karena kekayaan kita,” jelasnya. Ia menegaskan, Tuhan pun berbagi. “Tuhan sendiri begitu, membagi Diri-Nya kepada kita. Jadi kita harus melanjutkan itu,” katanya.

Bantuan atau pendampingan yang diberikan, menurutnya, harus membuat seseorang mempunyai harapan. “Dan harapan itu menimbulkan mereka berjuang menggunakan energinya sendiri untuk maju. Itu akan berhasil karena kita nggak bisa mengikuti terus. Saya sudah 80 tahun juga gak bisa ngikuti. Juga dengan Tuhan kan yang dihargai Tuhan itu perjuangannya, bukan hasil perjuangannya. Ada orang yang tidak pernah jadi kaya, ada yang sakit terus-menerus. Tapi apakah dia berjuang? Perjuangan yang akan dihargai. Apakah bantuan kita menimbulkan orang berjuang,  berharap, bekerja seperti itu, menanam apa saja supaya bisa makan dan sebagainya,” katanya.

Lebih lanjut, menurutnya, menyampaikan kasih mesti dikelola juga secara profesional. “Menurut saya keberhasilan akan kelihatan ketika orang menggunakan dayanya sendiri, lalu dia berjuang untuk melakukan lebih baik ya,” katanya.

Lebih lanjut, Mgr Sudarso melihat pentingnya berjejaring dalam melakukan tindakan kasih. Selain pentingnya jejaring dengan pihak luar, Mgr Sudarso menekankan pentingnya menguatkan jejaring internal. “Kita punya seksi ini, seksi itu, seksi ini. Nah, kita harus  berjejaring, jadi ada kerja sama. Tentu jejaring dengan yang lain sangat penting. Tetapi intern kita, Gereja semuanya sudah mempunyai pola-pola itu. Yang kurang jejaring. Masing-masing mau sendiri. Ini bagian saya, ini bagian saya. Ini harus berjejaring itu supaya bisa menghadapi masalah-masalah seperti ini.

Nah, ini yang harus dibangun, menurut saya, ya dan dibangun oleh paroki-paroki, pastor-pastor bagaimana seksi ini dapat berjejaring dengan ini dan ini sebagai untuk bisa menghadapi kemungkinan terjadinya lagi masalah-masalah besar,” ungkapnya.

Terkait kepedulian orang muda terhadap isu kebencanaan dan bela rasa, menurutnya, perlu ditingkatkan. “Saya secara khusus mengharapkan agar orang muda, orang muda dengan cepat diantar kepada mengerti persoalan-persoalan yang dihadapi, bencana-bencana dan sebagainya supaya pada awal sudah tumbuh bela rasa,” ungkapnya.

Meski orang muda sekarang lebih suka tampil bagus, menurutnya, perlu disiapkan untuk mempunyai nilai-nilai kepahlawanan meski kecil-kecil.

“Menari baik, berhias baik, tetapi itu kepahlawanan yang kecil-kecil itu dalam kehidupan sehari-hari itu yang harus dibina dan supaya dengan cepat tumbuh bela rasa. Bela rasa. Nah, itu orang-orang muda kitalah harus jadi relawan-relawan itu. Iya, dilatih jadi relawan,” ungkapnya.

Wajah sosial Gereja mesti nampak tidak hanya untuk internal Gereja. Namun itu perlu diwujudkan dalam bentuk jejaring dan kerja sama dengan banyak pihak. “Saya sungguh berharap agar  kerja sama yang terjadi di sini, keuskupan dengan berjejaring dengan siapa saja dan dengan Karina itu akan menjadikan Keuskupan Sibolga ini contoh untuk keuskupan-keuskupan lain, juga uskupnya menjadi contoh supaya para uskup, para imam yang bergerak di sini dalam menghadapi kebencanaan ini juga menjadi contoh kepada keuskupan-keuskupan lain dan uskup lain juga, romo-romo lain juga supaya peduli pada masalah kemanusiaan.

Karena hanya dengan cara beginilah kita menampilkan wajah Gereja yang kelihatan di dalam masyarakat supaya wajah Gereja nampak betul di tengah masyarakat. Kita bergerak bersama bukan sendiri-sendiri dalam kebersamaan. Saya kira apa yang dimulai dengan menghadapi musibah ini di Sibolga ini, saya harap menjadi contoh bagi keuskupan-keuskupan lain,” pungkasnya.

 

 

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *