Pesan Vatikan Untuk Umat Muslim Di Bulan Ramadan Dan Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M

DICASTERY FOR INTERRELIGIOUS DIALOGUE 00120 Vatican City

Tel.: +39.06.6988 4321

E-mail: dialogo@interrel.va

www.dicasteryinterreligious.va

 [Diterjemahkan oleh Aloys Budi Purnomo Pr,

Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan

Konferensi Waligereja Indonesia]

Saudara-saudari Umat Muslim yang terkasih,

Dengan penuh sukacita saya menyampaikan pesan ini kepada Anda pada kesempatan bulan Ramadan, yang berpuncak pada Hari Raya Idul Fitri. Perayaan tahunan yang penting ini memberi saya kesempatan yang baik untuk menyatakan kedekatan, solidaritas, dan rasa hormat saya kepada Anda, umat beriman kepada Tuhan, “yang esa, hidup dan kekal, maha penyayang dan mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, yang juga telah berbicara kepada umat manusia” (Konsili Vatikan Kedua, Deklarasi Nostra Aetate, 28 Oktober 1965, 3).

Tahun ini, melalui konvergensi kalender yang penuh rahmat, umat Kristen Katolik merayakan masa puasa dan devosi ini bersama Anda selama masa suci Prapaskah, yang membawa Gereja menuju perayaan Paskah. Selama masa yang penuh intensitas spiritual ini, kita berusaha untuk mengikuti kehendak Tuhan dengan lebih setia. Perjalanan bersama ini memungkinkan kita untuk mengakui kerapuhan bawaan kita dan menghadapi cobaan yang membebani hati kita.

Ketika kita menderita cobaan — baik pribadi, keluarga, atau institusional — kita sering percaya bahwa memahami penyebabnya akan mengungkapkan jalan yang jelas ke depan. Namun, kita sering menemukan bahwa kompleksitas situasi ini melebihi kekuatan kita. Di zaman yang ditandai dengan kelebihan informasi, narasi, dan sudut pandang yang bersaing, daya wiweka-diskresi (discernment) kita dapat menjadi kabur, dan penderitaan kita menjadi lebih akut. Pada saat-saat seperti itu, pertanyaan secara alami muncul: bagaimana kita dapat menemukan jalan ke depan? Dari perspektif manusia semata, jawabannya mungkin tampak sulit dipahami, membuat kita merasa tidak berdaya.

Justru pada saat itulah godaan untuk menyerah pada keputusasaan atau kekerasan dapat muncul. Keputusasaan dapat tampak seperti respons yang jujur ​​terhadap dunia yang rusak, sementara kekerasan dapat muncul sebagai jalan pintas menuju keadilan yang melewati kesabaran yang dibutuhkan oleh iman. Namun, keduanya tidak pernah dapat menjadi jalan yang dapat diterima bagi orang percaya. Seorang mukmin sejati senantiasa memusatkan pandangannya pada Cahaya yang tak terlihat, yaitu Tuhan — Yang Mahakuasa, Yang Maha Penyayang, Yang Maha Adil — yang “memerintah manusia dengan adil” (Mazmur 96:10). Mukmin seperti itu berusaha sekuat tenaga untuk hidup sesuai dengan perintah Tuhan, karena hanya di dalam Dia terdapat harapan akan dunia yang akan datang dan kedamaian yang sangat dirindukan oleh setiap hati manusia.

Sesungguhnya, kita — umat Kristen Katolik dan Muslim, bersama dengan semua orang yang berkehendak baik — dipanggil untuk membayangkan dan membuka jalan baru yang dengannya kehidupan dapat diperbarui. Pembaruan ini dimungkinkan melalui kreativitas yang dipupuk oleh doa, disiplin puasa yang membersihkan pandangan batin kita, dan tindakan amal yang nyata. “Janganlah kamu dikalahkan oleh kejahatan,” demikian nasihat Rasul Paulus, “tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan” (Roma 12:21).

Saudara-saudari Umat Muslim yang terkasih, khususnya mereka yang berjuang atau menderita secara jasmani atau rohani karena haus akan keadilan, kesetaraan, martabat, dan kebebasan: yakinlah akan kedekatan rohani saya, dan ketahuilah bahwa Gereja Katolik berdiri dalam solidaritas dengan Anda. Kita dipersatukan bukan hanya oleh pengalaman cobaan yang sama, tetapi juga oleh tugas suci untuk memulihkan perdamaian di dunia kita yang hancur. Kita benar-benar “semua berada di perahu yang sama” (Fransiskus, Surat Ensiklik Fratelli Tutti, 3 Oktober 2020, 30).

Damai — inilah harapan tulus saya untuk Anda semua, untuk keluarga Anda, dan untuk bangsa-bangsa tempat Anda tinggal. Ini bukanlah perdamaian ilusi atau utopis, tetapi seperti yang ditekankan Paus Leo XIV, perdamaian yang lahir dari “pelucutan senjata hati, pikiran, dan kehidupan” (Pesan untuk Hari Perdamaian Dunia ke-59, 1 Januari 2026). Perdamaian seperti itu adalah anugerah yang diterima dari Tuhan dan dipelihara dengan meredakan permusuhan melalui dialog, mempraktikkan keadilan, dan menghargai pengampunan. Melalui masa Ramadan dan Prapaskah bersama ini, semoga transformasi batin kita menjadi katalis bagi dunia yang diperbarui, di mana senjata perang memberi jalan kepada keberanian perdamaian.

Dengan perasaan ini, saya berdoa semoga Yang Mahakuasa memenuhi setiap Anda dengan kasih sayang-Nya yang penuh belas kasihan dan penghiburan ilahi.

Dari Vatikan, 17 Februari 2026,

George Jacob Kardinal Koovakad

Prefek

Mgr. Indunil Kodithuwakku Janakaratne Kankanamalage

Sekretaris

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *