Renungan Harian 1 Maret 2026

Hari Minggu Prapaskah II

Minggu, 1 Maret 2026

Bacaan I              : Kej. 12:1-4a

Bacaan II             :2Tim.1:8b-10

Bacaan Injil :Mat. 17:1-9

Membahagiakan Orang Lain dengan Doa

Apakah kita pernah membuat bahagia orang lain dengan doa-doa kita selama ini? Jika sudah, puji Tuhan. Doa itu memberikan daya yang luar biasa dalam hidup kita. Dalam bacaan Injil Minggu Prapaskah II hari ini dikisahkan bagaimana Tuhan Yesus naik ke Gunung Tabor bersama dengan tiga murid inti, yakni Petrus, Yohanes dan Yakobus.

Untuk apa Yesus naik gunung yang tinggi? Dalam Kitab Suci, gunung menjadi simbol tempat perjumpaan manusia dengan Allah. Yesus naik gunung untuk berdoa. Di tengah-tengah karya pelayanan-Nya, Yesus mengkhususkan waktu untuk menyepi, masuk dalam keheningan, dan berdoa kepada Allah Bapa-Nya.

Teladan Yesus ini semakin menegaskan kepada kita mengenai peningnya doa dalam kehidupan kita. Di tengah kesibukan, pekerjaan, dan kegiatan-kegiatan kita sehari-hari, yang seringkali menyita banyak waktu dan tenaga, kita harus berani mengkhususkan waktu untuk masuk dalam keheningan dan berdoa.

Doa yang kita lakukan dengan tekun dan sungguh-sungguh, akan menghasilkan buah dalam kehidupan kita sebagaimana dialami Yesus. Wajah Yesus berubah dan bercahaya seperti matahari,dan pakaian-NNya menjadi putih bersinar seperti terang. Doa ternyata dapat memancarkan aura kasih.Dalam aura kasih itu, ada kemuliaan dan kesucian. Maka, kita seringkali menjumpai bahwa orang-orang yang tekun berdoa itu memancarkan kesucian hidup.

Doa juga menjernihkan arah dan tujuan misi Yesus ke Yerusalem. Dalam doa-Nya, Yesus berjumpa dengan Musa dan Elia. Mereka adalah dua tokoh besar dalam Perjanjian Lama terkait dengan karya keselamatan Allah. Musa simbol sang tokoh pembebas dan Elia simbol para nabi utusan Allah dalam menyampaikan sabda Allah.

Doa juga dapat menjadikan kita bisa memancarkan kebahagiaan bagi orang lain. Setelah Yesus berdoa, Petrus dan teman-temannya merasakan kebahagiaan, sehingga berkata, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini.” Artinya, doa itu membuahkan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup kita dan sesama.

Kalau kita menghayati hidup doa kita, kehadiran kita di mana pun akan membawa kebahagiaan bagi sesama. Wajah kita menampakkan keteduhan. Senyuman kita membawa kegembiraan. Kata-kata kita menghibur dan mencerahkan. Tindakan kita membawa berkat. Orang lain merasa nyaman berada di dekat kita.

Sebagai seorang formator di Seminari Tahun Orientasi Rohani Sanjaya,Jangli-Semarang,saya berharap agar para frater juga dapat berkata seperti Santo Petrus,“Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini (Seminari TOR ini)”. Semoga para frater berbahagia tinggal dan dididik di Seminari TOR pertama di Indonesia yang didirikan oleh Bapak Kardinal Darmojuwono ini.Pertanyaan refleksinya, apa saja rahmat-rahmat yang pernah kita terima saat berdoa? Apa kesulitan kita terbesar dalam berdoa selama ini?#

Yohanes Gunawan,Pr

Rektor Seminari Tahun Orientasi Rohani Sanjaya,

Jangli-Semarang

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *