Melangkah Kembali Kepada Bapa

Oleh BAVO BENEDICTUS SAMOSIR, OCSO*

Setelah meditasi sore, ia menuju ke ruang makan. Beberapa saudara telah lebih dahulu berada di sana untuk sedikit menyegarkan tubuh fisik mereka dengan beberapa potong roti yang telah tersedia. Ia mengambil dua potong roti tawar gandum dan meletakkannya di piring yang ia pegang di tangan kirinya. Ia menuangkan air putih hangat ke dalam cangkir keramik putih dan membawanya ke meja, tempat biasa ia menikmati makanan di pagi hari, siang dan sore menjelang malam. Ia membuat tanda salib sebelum makanan dan minuman masa prapaskah yang ada di depannya masuk ke dalam tubuh. Ya hari ini Rabu Abu, hari pertama masa prapaskah yang akan ia jalani bersama Gereja selama empat puluh hari dan berakhir pada Jumat Agung, hari wafat Yesus Kristus di kayu salib. Selama empat puluh hari, umat Gereja Katolik akan berpuasa dan berpantang. Dan ia ikut ambil bagian di dalamnya.

Makanan Sabda

Di saat menikmati ketawaran roti dan air hangat tanpa rasa namun menghangatkan perutnya, tanpa sengaja ia melihat seorang saudara melewati ruang makan. Ya, memang ada beberapa saudara di dalam masa prapaskah, menyegarkan tubuh fisik cukup hanya di waktu siang hari, sedangkan sore menjelang malam hari tidak memerlukan lagi. Setiap orang memang boleh menambahkan bentuk puasanya sesuai dengan kekuatan tubuhnya. Yang terpenting hanya sekali dalam sehari mengenyangkan perut. Ia sendiri masih memerlukan makanan untuk tubuhnya meskipun itu hanya dua lembar roti tawar. Masih ada ruang yang luas di perutnya yang ia biarkan tidak terisi sebagai pengingat pada dirinya apa yang telah Yesus katakan, “Manusia hidup bukan hanya dari roti saja, melainkan dari setiap sabda Allah (Matius 4:4). Ia diingatkan bahwa ada bagian spiritual dalam dirinya yang harus diberi makan sabda Allah, yang akan membawa dirinya terhubung lebih dekat dengan Allah dan untuk mempersiapkan dirinya menyambut Paskah, kebangkitan Yesus Kristus.

Persatuan

Masa prapaskah bukan hanya tentang pantang dan puasa dari makanan dan minuman. Masa prapaskah adalah masa pertobatan, untuk kembali kepada Tuhan dengan segenap hati. Sebenarnya setiap saat kita harus bertobat karena di dalam dirinya manusia memiliki kecenderungan untuk berdosa, menyimpang dari kehendak Tuhan. Namun kenyataannya tidak selalu kita bisa hidup dalam kesadaran untuk bertobat. Untuk itu, kita bersyukur karena Gereja memberikan waktu khusus untuk kita jalani bersama-sama menjalankan tobat bersama. Kita diajak secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa, menjalankan karya kesalehan dan amal kasih, menyangkal diri dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang. Namun demikian berpuasa dan berpantang bukan hanya sebagai aturan Gereja yang hanya sekadar kita patuhi, namun pantang dan puasa yang kita jalankan harus berasal dari hati yang terdalam sebagai bentuk pertobatan rohani. Tujuan utama berpuasa dan berpantang seperti yang dikisahkan oleh St. Markus di dalam injilnya, yakni sebuah pengharapan akan persatuan yang penuh dengan Yesus yang akan datang (Markus 2:18-22)

Kembali

Ia menatap jendela kaca ruang makan. Tampak matahari senja menyinarkan sinar lembayung dari ufuk barat. Salah satu waktu yang paling ia sukai adalah saat senja. Saat ia bisa menikmati kelembutan warna sinar yang selalu berubah. Senja juga sebagai pengingat akan waktunya untuk pulang sebelum malam menjelang tiba. Ah, ia jadi teringat kisah yang dikisahkan dalam injil Lukas 15:11-32, kisah kepulangan si anak bungsu ke rumah bapa, setelah sekian lama hidup dalam keliarannya yang tanpa batas. Sang bapa dalam sinaran senja melihat anak bungsunya berjalan dalam ragu karena ketidakpantasan dirinya. Meragu dalam hatinya, apakah bapa akan menerima dirinya kembali karena pilihan hidup salah yang pernah ia pilih dan jalani. Namun melihat bapa dalam langkah yang cepat dan pasti dan rentangan tangan yang siap memeluknya, ragunya menghilang menjadi sebuah harapan. Langkah ragu menjadi langkah harapan karena ada kesempatan kedua yang diberikan oleh bapa kepada dirinya untuk memperbaiki diri, untuk memeluk hidup baru dan melepaskan hidup lama dari keberdosaan. Langkah si bungsu menjadi cepat untuk segera merasakan pelukan hangat sang bapa yang penuh kasih dan pengampunan. Si bungsu berlutut di hadapan bapa untuk mencium kaki bapa, namun sang bapa menariknya ke dalam pelukannya. Senja itu sungguh memberikan kedamaian hati di kedalaman dirinya yang merendah.

*Penulis adalah Rahib and Imam – Our Lady of Silence –Roscrea Co. Tipperary Irlandia.

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *