Hari ini kita memperingati 2 orang kudus: St. Sirilus dan Methodius. Mereka adalah para imam misionaris yang diutus untuk mewartakan kabar gembira kepada bangsa-bangsa di Eropa Timur. Demi perkembangan iman umat, mereka menterjemahkan kitab suci ke dalam bahasa setempat. Atas jasa besarnya itu, mereka diangkat Paus Adrianus II menjadi uskup. Sayang seribu sayang, sebelum ditahbiskan uskup Sirilus sudah meninggal. Sedangkan Methodius sebagai Uskup melanjutkan pewartaan Injil di Eropa Timur sampai wafat pada tahun 885.
Dalam Kis 13: 46-49 dikisahkan: “Terhadap para imam dan tua-tua bangsa Yahudi, dengan berani Paulus dan Barnabas berkata: “Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain. Inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi.”
Ketika mendengar hal itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. Lalu firman Tuhan disiarkan di seluruh daerah itu.
Lukas dalam injilnya (Luk 10: 1-9) mewartakan: “Ketika itu Tuhan Yesus menunjuk 70 murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua untuk mendahului Dia ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Ia berkata: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan para pekerja untuk tuaian itu.
Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini.
Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, salammu itu akan tinggal atasnya. Jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.
Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat kepadamu.
Hikmah yang dapat kita petik:
Satu, sebagaimana Paulus, Sirilus dan Methodius mewartakan injil kepada bangsa-bangsa yang belum mengenal Allah. Semangatnya yang begitu membara untuk melayani secara total diwujudkannya dengan mengenal bahasa setempat bahkan menterjemahkan kitab suci ke dalam bahasa mereka sehingga umat lebih paham untuk mengerti sabda Tuhan. Semoga semangat yang demikian itu memberikan inspirasi kepada kita agar rela untuk menyederhanakan istilah-istilah di kitab suci, buku-buku rohani, katekismus agar umat makin dekat dengan Tuhan.
Dua, pada waktu itu, Yesus mengutus 70 murid yang lain ke kota-kota dan desa-desa yang hendak dikunjungi-Nya. Itu berarti orang yang percaya kepada Yesus jumlahnya makin banyak dan tersebar di banyak tempat. Pada masa sekarang ini, jumlah umat yang percaya tersebar di seluruh dunia. Maka dibutuhkan para utusan yang makin besar dan berasal dari pelbagai bangsa. Pantaslah kita memohon berkat Tuhan bagi para utusan-Nya agar mereka tetap setia, dan mohon Tuhan agar memanggil kaum muda dan menambah jumlah mereka. Amin.
Mgr Nico Adi MSC
